Ayat-Ayat Cinta 2

Poster for the movie ""

Ayat-Ayat Cinta 2

The Greatest Love Story

20172 h 05 min
Overview

After losing his beloved wife, a man try to cope the tragedy with his involvement with everyday chores in hope to find a salvation.

Metadata
Runtime 2 h 05 min
Release Date 21 December 2017
Details
Movie Media Cinema
Movie Status Scheduled
Movie Rating Not that bad
Images
No images were imported for this movie.

Satu kata untuk film ini, Aisha Berwajah Hulya. Ayat-Ayat Cinta 2 ini memang diharapkan untuk mendapat perhatian yang lebih besar dibanding pendahulunya. Pemilihan pengarah musik ke Melly Goeslaw memang menjadi harapan bahwa film Ayat-Ayat Cinta 2 ini lebih mewah dibanding film-film produksi MD sebelumnya.

Film ini berasal dari sebuah novel-yang juga merupakan sebuah lanjutan-dari seorang novelis yang terkenal dengan novel-novel dakwah dalam drama dan cerita. Tidak puas dengan hasil Ayat-Ayat Cinta, akhirnya si penulis membuat bersama SinemArt melahirkan Ketika Cinta Bertasbih, yang diputuskan menjadi 2 bagian.

Hal yang selalu terjadi adalah banyak penonton yang suka membandingkan antara novel dan filmnya. Seakan novel itu menjadi garis bantu untuk filmnya. Meskipun, banyak juga yang memilih keluar dari garis tersebut dan membuat dunia sendiri.

Aisha bukanlah Aisha yang dulu

Ini memang terucap oleh Dewi Sandra, yang berperan sebagai Aisha di sequel Ayat-Ayat Cinta. Karena Aisha bukanlah Aisha yang dulu, sehingga ia membuat identitas baru, yaitu Sabina.

Di dalam dunia seni peran, memang hal yang lumrah ketika sang pemain diganti. Alasannya beragam, ada karena kontrak habis, keputusan tidak mau jadi aktor, atau lainnya. Namun sayangnya, salah satu kesalahan dari proyek mega besar ini adalah menggantikan Rianti Cartwright yang dulu berperan menjadi Aisha. Alasan yang terdengar hingga ke telinga penonton adalah karena Rianti telah berpindah agama. That’s ridiculous, to be honest.

Alasan paling masuk akal sih sponsor. Wardah menjadi salah satu sponsor dalam proyek mega besar ini, sehingga Dewi Sandra pun menjadi pilihan yang tepat untuk menjadi wanita dibalik cadar tersebut. Tetapi tetap saja, Aisha bukanlah Aisha yang dulu.

Keira dan Jason

Ayat-Ayat Cinta 2
Hulya dan Fahri University of Edinburgh

Lokasi cerita memang di Edinburgh, salah satu kota di Scotland, yang sangat tinggi nilai sejarah dan pendidikannya. Fahri yang tinggal di kawasan mid-elite, memiliki tetangga seperti Nenek Catarina yang Yahudi, Brenda yang Kristen juga Keira dan Jason yang Katolik. Terlepas dari cerita di novel, untuk di film ini, menghadirkan tokoh Keira dan Jason adalah sebuah kesalahan besar. Memang, tokoh Fahri menjadi idola para wanita, tapi tanpa adanya Keira, pesona Fahri tidak akan padam.  Belum lagi akting Cole Gribble yang masih jauh dari kata akting. Beradu akting dengan Fedi Nuril yang semakin matang adalah sebuah kesalahan. But still, it’s okay. He could learn by time.

What Should Be in Ayat-Ayat Cinta 2

Menyulap 690 halaman menjadi sebuah film yang berdurasi kurang lebih 120 menit adalah sebuah tantangan. Memilih aspek dan cerita yang harus ditampilkan juga merupakan tantangan terbesar. Di dalam novelnya, cerita ini dapat dibagi menjadi 2 buah sudut pandang, dakwah dan romansa. Sangat susah untuk bisa menggabungkan kedua sudut pandang ini menjadi sebuah petualangan audio visual.

Ada beberapa key point yang harusnya diperhatikan oleh produser. Bahwa inti dari Ayat-Ayat Cinta 2 ini adalah Aisha Berwajah Hulya. Tagline yang berusaha diciptakan oleh pihak MD juga tidak kalah menarik, The Greatest Love Story. Tetapi kisahnya sendiri tidak disuguhkan, sangat disayangkan.

Seharusnya beberapa mimpi Fahri mengenai Aisha berwajah Hulya ditampilkan, juga desakan dari Sabina untuk menikahi Hulya. Oh iya, niat Fahri untuk menikahi Sabina juga seharusnya ada. Itu adalah paket romantis yang ditawarkan oleh novel Ayat-Ayat Cinta 2.

Good Things

Nilai lebih dari film Ayat-Ayat Cinta 2 ini adalah karakter Misbah dan Hulusi yang menjadi pengalihan cerita kebosanan di hidup Fahri. Fedi Nuril semakin dewasa dalam kepiawaiannya berakting, begitu juga Tatjana Saphira yang telah berhasil memerankan Hulya dengan begitu apik. Dewi Irawan yang memerankan Nenek Catarina menjadi salah satu unsur terbaik di dalam film ini.

Ah iya. Tidak lupa juga musik-musik yang telah diciptakan oleh Melly Goeslaw serta lagu-lagu yang menjadi pengiring dalam beberapa adegan di film ini.

To Sum Up

Film ini terlalu hampa untuk dilabelkan dengan The Greatest Love Story. Terlalu drama untuk disandingkan dengan komedi. Terlalu dangkal untuk menjadi sebuah media dakwah. Mencintai cinta, bukanlah sebuah dakwah, melainkan pemikiran-pemikiran filsuf, bukan filologi.

Film ini bisa lebih romantis jika membahas tentang desakan orang di sekeliling Fahri, seperti Paman Eqbal Erbakan, Ozan serta keluarga Hulya. Tidak hanya sekedar Hulusi yang suka menggoda Fahri.

Bisa lebih romantis dengan menghilangkan karakter Keira, yang tidak membawa apa-apa di dalam cerita Ayat-Ayat Cinta 2.  Mungkin Hanung Bramantyo tidak disukai karena pemikirannya yang agak nyeleneh, tetapi percayalah, garapan Hanung Bramantyo di Ayat-Ayat Cinta, meskipun tidak menggunakan lokasi yang tepat, memiliki nilai dan pesan yang lebih kuat dibanding Ayat-Ayat Cinta 2 ini.

Film ini membuat karakter Fahri yang setia kepada Aisha menjadi lebih gampangan. Tidak ada desakan dari keluarga besar, tidak ada komentar dari Hulya mengenai kesendirian Fahri, tidak ada desakan dari Sabina untuk menikahi Hulya. Tidak ada gambaran bahwa Hulya sangat mirip dengan Aisha, baik hobi bermain bola, juga puisi-puisi yang kerap dibaca ketika bercinta. Ayat-Ayat Cinta 2 bisa lebih baik daripada ini. (saf)

Coco

Poster for the movie "Coco"

Coco

20171 h 49 min
Overview

Despite his family’s baffling generations-old ban on music, Miguel dreams of becoming an accomplished musician like his idol, Ernesto de la Cruz. Desperate to prove his talent, Miguel finds himself in the stunning and colorful Land of the Dead following a mysterious chain of events. Along the way, he meets charming trickster Hector, and together, they set off on an extraordinary journey to unlock the real story behind Miguel's family history.

Metadata
Director Lee Unkrich
Runtime 1 h 49 min
Release Date 27 October 2017
Details
Movie Media Cinema
Movie Status Scheduled
Movie Rating Good
Images
No images were imported for this movie.

Film besutan Disney ini memang banyak mengundang perhatian para penonton. Pemilihan waktu tayang yang pas menjadi nilai tambah sendiri untuk film Coco. It is not your kind of child/kid movies, but Coco definitely has great value to teach to your children.

Untuk menarik perhatian para penonton kecil, Disney sudah mempersiapkan Spin-off dari Frozen, yaitu pertualngan Olaf, yang notabene menjadi tradisi Elsa dan Anna.

Coco is the Eldest of Rivera Family

Pada awal cerita, Miguel menceritakan tentang silsilah keluarga Rivera yang memilih untuk membuka usaha membuat sepatu, dibanding bebas memilih menjadi apapun, termasuk musisi.

Beberapa film Disney memang memberikan pelajaran-pelajaran tersirat seperti keluarga adalah hal dasar yang seseorang miliki. Penceritaan tentang keluarga Rivera memang dilakukan dengan sangat singkat, namun, Coco ternyata seorang senior, tertua bahkan, di dalam keluarga tersebut.

Mungkin ada beberapa film yang saya ulas mengenai keluarga, bisa dilihat di Prem Ratan Dhan Payo. Salah satu terobosan yang paling luar biasa dari Disney adalah membuat cerita, dengan kebiasaan lokal, yang disebut dengan ofrendas. Sebenarnya tradisi ini juga banyak dilakukan di beberapa negara, hanya saja, di bagian Selatan dari Amerika ini, melakukannya pada satu hari yang sama.

Miguel dan Hector

Miguel merasa terkukung dengan sifat super protektif dan superior dari Abuela (nenek)nya, mengenai larangan musik, yang telah diterapkan dari Mama Imelda, selepas ditinggal pergi oleh suaminya.

Tekanan tersebut membuatnya memutuskan untuk meninggalkan keluarganya, namun, sayangnya itu berakibat buruk, pada hari itu, ia terperangkap di dunia kematian. Di sana ia bertemu dengan Hector, seorang, bukan orang, jiwa yang bebas. Carefree dan juga iseng. Tidak pernah memiliki kesempatan untuk berkunjung dan menikmati ofrendas yang ditawarkan, Hector merasa telah menjadi bagian dari dunia tersebut, dalam waktu yang lama.

Kisah Miguel dan Hector memang terlihat klise, tetapi justru letaknya di situ, bak menyerang dua poin sekaligus, yaitu orang asing bisa menjadi orang yang paling membantu kita, juga bisa saja yang kita anggap keluarga, adalah musuh yang sebenarnya.

Just watch it by yourself, and feel the warmth of unfolding mis-information, which has been there in few decades. (saf)

Talking about Arranged Marriage and Stuff

If you read my last two posts, honestly, the Indonesian speaking is purely translate from Google. The reason I am lazy made translatenya and I also still have not determined my market, whether people who ball Indonesia or Indonesia. As I promise, I will discuss or take an opinion on arranged marriage culture, or if its English, Regulated Marriage.

What is an arranged marriage? According to KBBI, there is no special meaning. But if we try the word of organized marriage, a marriage is planned and approved by both families (guardians) of the bride and groom. Can be seen in the picture below.

budaya perjodohan
Arranged Marriage in Google and Indonesia translation.

 

Arranged Marriage Culture in Indonesia

Before we talk about marriages abroad, there is what we pay arranged marriage culture that takes place in Indonesia. When research (read: googling) I did not find any significant about the arranged marriage culture that existed in Indonesia, there are some tribes that govern the marriage between them. There are many turns, can be viewed on this blog.

From the list of cultures, the most famous is Batak culture, a Batak man is prohibited to marry the same marganya. So can not marry a father’s cousin, especially uncle. In addition to religion, it turns out the marriage / marriage is also determined by the tribe. Interesting right?

Arranged Marriage Culture in East Asia

Yes. I make East Asia, because it does not only happen in India or Pakistan, in the surrounding country is still going the same thing. One of the biggest reasons for this is because of the teachings of religion. If he is a Muslim, then when it is time, start thinking whether to marry the choice of the heart or the choice of parents. Afterwards the agreement between the kin-kin. Simply it must be met, but there are also who managed to break the tradition. One of the reasons I think the most unique is race.

There are some tribes who want to happen in the tribe. Moreover, it damages the skin color. Indeed, it seems natural that we, as humans prefer to marry the same race, but there is also a mixed marriage. In India, impressed very patriarchy, usually arranged marriage is tailored to the father. If in Pakistan, it is usually more inclined to the Matriarchy. Pakistani men will choose what their mothers choose. Perhaps this is a factor of religion, because Pakistan is generally a Muslim country, so they apply the heaven that is on your feet.

Pathan

It’s funny enough to be a sub-heading. But, from the knowledge I got through two weeks in an Indonesian group with Pakistan, one of the most heavily tribal tribes with arranged marriage is Pathan. Genealogically, Pathan is a large space, there are still many sub-tribes scattered in Pakistan.

Pathan Tribes in Pakistan

There are 78 tribes spares. Since I’ve been kicked out of the group, I do not know if the sentence in general, or it only happens in some tribes only. Like people who have relationships with Pakistanis, I honestly would be more willing to know about the culture of marriage there. Once a time I was asked by the people there, how the culture of marriage in my tribe, I can say Malay.

From the beginning of knowing, what I know is that he is a Khattak. I do not know Khattak is part of Pashtun. Hey, can we stop talking her identity?

Arranged Marriage is Successful

There’s an article I’m looking for when looking for information on arranged marriage traditions, that is, arranged marriage’s evidence (data) is a success. An article from Utpal Dholakia, who is a lecturer at RICE University, says many young people (19-35) prefer match-making rather than self-choice. According to him, there are 3 reasons why many young people choose arranged marriage, that is to let go of the difficult aspects of choice, choose with little consideration, and lastly, is the one I like the most, starting a relationship with lower expectations (expectations).

This brought me into the past, when there was a debate between marriage and marriage. It was at that time I myself who more agree with the idea of ​​arranging marriage. My reason at the time was, parents would want the best for children, why we as a child struggle to plunge ourselves? Well, this is for now, let’s meet again. (saf)

Budaya Perjodohan

Jika kalian membaca dua postingan terakhir saya, jujur, yang berbahasa Indonesia itu murni translate dari Google. Alasannya sih saya malas membuat translatenya dan saya juga masih belum menentukan pangsa pasar saya, apakah orang yang berbahasa Indonesia atau Inggris. Seperti janji saya, saya akan membahas atau mengeluarkan pendapat tentang budaya perjodohan, atau kalau bahasa Inggrisnya, Arranged Marriage.

Apakah perjodohan itu? Menurut KBBI, tidak ada arti khusus. Namun kalau kita mencoba tarik definisi dari Arranged Marriage, bahwa sebuah pernikahan terencana dan disetujui oleh kedua belah keluarga (wali) dari pengantin pria dan wanita. Dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

budaya perjodohan
Arranged Marriage in Google and Indonesia translation.

Budaya Perjodohan di Indonesia

Sebelum kita berbicara tentang perjodohan di luar negeri, ada baiknya kita mengenali budaya perjodohan yang terjadi di Indonesia. Ketika riset (baca: googling) saya tidak menemukan yang signifikan tentang budaya perjodohan yang ada di Indonesia, tetapi ada beberapa suku yang mengatur perkawinan di antara mereka. Ada banyak ternyata, daftarnya dapat di lihat di blog ini.

Dari daftar budaya tersebut, yang paling terkenal adalah budaya Batak, seorang lelaki Batak dilarang menikah dengan yang marganya sama. Jadi tidak dapat menikahi sepupu dari pihak ayah, terutama paman. Selain agama, ternyata pernikahan/perkawinan ditentukan juga oleh suku. Menarik bukan?

Budaya Perjodohan di Asia Timur

Iya. Saya membuatnya Asia Timur, karena tidak hanya terjadi di India atau Pakistan, di negara sekitarnya juga masih terjadi hal yang sama. Salah satu alasan terbesar kenapa ini masih terjadi adalah karena ajaran agama. Jika ia beragama Muslim, maka ketika sudah saatnya, mulai dipikirkan apakan akan menikah dengan pilihan hati atau pilihan orang tua. Setelah itu perjanjian antar karib-kerabat. Biasanya itu harus dipenuhi, namun ada juga yang berhasil mematahkan tradisi tersebut. Salah satu alasan yang menurut saya paling unik adalah ras.

Ada beberapa suku yang menginginkan pernikahan terjadi di sesama suku. Lebih-lebih, itu dikarenakan warna kulit. Memang, rasanya wajar saja jika kita, sebagai manusia lebih memilih menikah dengan ras yang sama, namun ada juga yang melakukan pernikahan campuran. Di India, terkesan sangat patriarki, biasanya perjodohan ini ditentukan oleh sang Ayah. Kalau di Pakistan, biasanya lebih condong ke Matriarki. Para lelaki Pakistan akan cenderung memilih apa yang dipilih oleh Ibunya. Mungkin ini ada faktor Agama, karena Pakistan secara umum adalah negara Muslim, jadi mereka menerapkan bahwa surga ada ditelapak kaki Ibu.

Pathan

Memang cukup lucu untuk dijadikan sub-heading. Tetapi, dari pengetahuan yang saya dapat selama dua minggu di grup Indonesia dengan Pakistan, salah satu suku yang paling kental dengan budaya perjodohan adalah Pathan. Secara genealogy, Pathan itu adalah ruang lingkup besar, masih banyak sub-tribe yang bertebaran di Pakistan.

Pathan Tribes in Pakistan

Ada setidaknya 78 suku. Karena saya sudah didepak dari grup itu, saya tidak tau apakah kalimat tersebut secara umum, atau hanya terjadi di beberapa suku saja. Sebagai orang yang memiliki hubungan dengan orang Pakistan, saya jujur saja jadi lebih ingin tau tentang budaya pernikahan di sana. Pernah satu waktu saya ditanya oleh orang sana, bagaimana budaya pernikahan di suku saya, yang bisa saya bilang Melayu.

Dari awal berkenal, yang saya tau adalah dia adalah orang Khattak. Saya belum tau bahwa Khattak adalah bagian dari Pashtun. Hey, can we stop talking his identity?

Perjodohan itu Sukses

Ada artikel menarik yang saya temukan ketika mencari informasi mengenai tradisi perjodohan, yaitu bahwa data membuktikan bahwa perjodohan itu sukses. Sebuah tulisan dari Utpal Dholakia, yang merupakan seorang dosen di RICE University, menyatakan bahwa banyak anak muda (19-35) lebih memilih dijodohkan dibanding pilihan sendiri. Menurutnya, ada 3 alasan kenapa banyak anak muda yang memilih perjodohan, yaitu melepaskan aspek-aspek sulit dari pilihan, memilih dengan sedikit pertimbangan, dan yang terakhir, adalah yang paling saya suka, memulai hubungan dengan harapan (ekspektasi) yang lebih rendah.

Hal ini membawa saya larut ke dalam masa lalu, ketika ada perdebatan antara love marriage atau arranged marriage. Rasanya pada saat itu saya sendiri yang lebih setuju dengan ide arranged marriage. Alasan saya waktu itu adalah, orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, kenapa kita sebagai anak bersusah payah menjerumuskan diri kita? Well, untuk kali ini hanya segini dulu. (saf)

Posting Pertama Tentang Pakistan

Saya tidak pernah berpikir saya akan mencintai Pakistan sama seperti saya mencintai India. Saya suka India karena saya melihat cinta di setiap sudut negaranya. Alasan utamanya adalah Bollywood dan Shah Rukh Khan. Pada saat ini, pada tahun 2017, saya sangat mencintai Pakistan. Mungkin ada banyak kontroversi di sana, saya akui, beberapa orang Pakistan tidak pernah berpikir ke depan, seolah mereka akan mati besok. Saya suka Pakistan seperti Veer cinta Zaara. Aku cinta Pakistan hanya karena sahabatku, Faizan. Hanya seorang dokter, tapi menolak dipanggil sebagai satu, dia suka dipanggil Faizan, namanya. Itu yang paling berarti baginya.

Napak Tilas

Saya bertemu dia pada tanggal 14 Juni 2017. Tidak pernah benar-benar berpikir pria Pakistan ini bagus. Saya rasa saya sudah menulis tentang dia di pos lainnya. Dia memiliki hati yang lembut dan kemauan untuk menaruh pandangan Islam ke seluruh dunia. Aku takut, aku berpikir, dia bisa jadi ISIS atau agak. Bertemu beberapa keluarganya melalui WhatsApp Video Call. Mereka cantik, dan aku mencintai mereka seketika itu, yah, bukan kemiskinan, tentu saja.

Dalam dua bulan hubungan kami, kami biasa bermain Ludo, dan kami benar-benar maju banyak, bagaimana bisa saling mendukung satu sama lain. Satu hal yang saya sukai tentang dia adalah cara dia memanggil saya, ‘Baby’ yang hanya nama panggilan biasa untuk kekasih, tapi saya menemukan kedamaian di dalamnya.

Dasar Dasar Pakistan

Pakistan Things
Most Asks for Pakistani

Kebanyakan Meminta Pakistani
“Kapan Anda akan mengunjungi Pakistan?” adalah pertanyaan dasar yang pernah saya dengar dari mereka, biarlah Haroon, Waleed, atau lainnya. Saya tidak tahu mengapa mereka mengajukan pertanyaan seperti itu, tapi itu adalah dasar bagi mereka. Mereka menghormati wanita, tapi tidak semua orang menghormati orang lain, mungkin mereka hanya menghormati wanita Pakistan. Aku tahu, ini agak aneh, tapi kebanyakan dari mereka (yang bukan teman saya) akan menjadi liar, jadi, lebih baik tidak mengenal mereka di tempat pertama.

Saya sudah mencari ini di Google, dan pertanyaan pertama adalah sikap mereka. Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan penghinaan atau hal-hal, hanya pengalaman saya tentang mereka.

Sikap

Ini adalah hal yang lebih luas dan paling bisa dibicarakan tentang Pria Pakistan. Jika saya menyingkirkan Faizan dari mereka, saya katakan, mereka keras kepala. Mungkin karena mereka terlahir sebagai Manusia, yang merupakan pembawa garis keturunan mereka. Mereka akan sulit menerima suara dan pilihan wanita, tapi mereka suka mendengarkannya. Kebanyakan dari mereka, akan menjadi liar, seperti meminta telanjang, atau bahkan lebih buruk lagi. Tapi, sebagai orang dewasa, Anda harus tahu bagaimana cara mengatasinya. Ini kotor, tapi Anda tidak bisa menyangkal sebagai fungsinya terhadap alat reproduksi bagi umat manusia. Pakistan memiliki banyak suku, jadi salah menilai mereka semua. Ada Sindhi, Baloch, Brahui, Gujarati, Kashmir, Punjabi, Siraiki, Pashtun dan leluhur Arab, Turki dan Iran. Jadi, akan lebih baik jika kamu mengenal suku mereka. Ah, pemberitahuan terlebih dahulu, sebelas suku tersebut dikenal sebagai keragaman umum, ada banyak nama suku, Khattak misalnya.

Cinta sejati atau Time Pass

Pertanyaan ini sangat intrik, tapi dari apa yang saya lihat adalah, mereka cenderung memilih seseorang yang bisa mereka lihat, tidak secara virtual. Jadi, jika Anda ingin menikahi mereka, ketemu mereka saja, dan pergi ke rumah mereka, itu akan menyenangkan. Karena tidak semua rumah masih mengatur pernikahan. Pria Pakistan memiliki kesempatan lebih tinggi untuk mendapatkan pernikahan cinta. Ambillah sebagai investasi, jangan berani menginvestasikan semuanya dalam satu ember.

Karakter

Hmm, seperti yang saya nyatakan tentang suku, kebanyakan karakter mereka bisa diklasifikasikan sebagai suku mereka. Jika Anda melihat Jab Tak Hai Jaan, Anda akan tahu tentang Patan Kamaal Pakistan (PPK) Pakistan yang telah dikatakan oleh Zain bhai. Aku kenal Siraiki, dan dia tidak pandai berkomunikasi. Faizan adalah Pashtun, kebanyakan bagus. Tapi kita tidak bisa menganggapnya utuh, bukan? Itu hanya berdasarkan pengalaman saya dan memiliki bias, karena karakter saya juga, jadi, mungkin Siraiki bagus untuk Anda, tapi bukan untuk saya.

Tingkah laku

Ini akan menjadi hal terakhir yang akan saya jelaskan, karena masih berhubungan dengan tiga pertanyaan pertama. Hal ini tergantung bagaimana Anda memperlakukan mereka dan seberapa baik komunikasi Anda dengan mereka. Haroon memblok saya (di Facebook juga) hanya karena saya tidak pernah menerima teleponnya.

Budaya Pakistan

Pernahkah Anda mendengar tentang kampanye ‘Main bhi Pakistan hoon’ pada bulan Agustus lalu? Ada banyak budaya dan saya masih belajar tentang Khattak. Tidak tahu tentang orang lain, tapi jika Anda memiliki rasa ingin tahu tentang hal ini, mari berkawan dan saling berbagi pengetahuan satu sama lain. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah, mengatur pernikahan. Saya merasa sangat berguna, diatur daripada memikirkan siapa yang akan menjadi pasangan kita dan menemukannya di jalan. Mereka begitu aman dengan calon istri mereka, karena ibu mereka akan menemukannya. Tapi saya tidak suka ide menikahi sepupu mereka, ya, itu bisa diterima dalam Islam, tapi akan membuat penyakit seperti itu … Tapi hei, ayo kita bertemu lain waktu. (saf)

First Post about Pakistan

I never think I’d love Pakistan as much as I love India. I love India because I see love in every corner of its country. Major reason is Bollywood and Shah Rukh Khan. At this very moment, at year 2017, I just love Pakistan the way it is. Maybe there are lot of controversies there, I acknowledge it, some of Pakistani never think ahead, as if they will be dead tomorrow. I love Pakistan is like Veer love Zaara. I love Pakistan just because my dear friend, Faizan. Merely a doctor, but refused to be called as one, he just love being called Faizan, his name. That’s matter the most to him.

Flash Back

I met him on June, 14th, 2017. Never really think Pakistani man is this nice. I think I have write about him in the other post. He has soft heart and this willingness to put Islamic view to the world. I was afraid, I was thinking, he could be ISIS or somewhat. Met few of his family thru WhatsApp Video Call. They are lovely, and I love them that instant, well, not the poverty, of course.

In two months of our relationship, we used to play Ludo, and we’re really progressing a lot, how to back up each other. One thing I love about him is the way he called me, ‘Baby’ which is just a normal nickname for lovers, but I do find peace in it.

Most Basic Pakistan Thing

Pakistan Things
Most Asks for Pakistani

“When will you visit Pakistan?” is the basic question I’ve heard from them, let it Haroon, Waleed, or others. I don’t know why they asked such question, but that is basic for them. They respect woman, but not all of them respect others, maybe they’re just respecting Pakistani woman. I know, it is kinda weird, but most of them (which is not friend of me) will going wild, so, better to not know them at first place.

I’ve search this on Google, and first question is their attitude. This writing is nothing to do with defamation or things, it is just my experience about them.

Attitude

This is a wider and most discussable things about Pakistani Men. If I put Faizan out of them, I’d say, they’re stubborn. Maybe because they are born as Man, which is a carrier for their lineage. They will find it hard to accept women’s voice and choice, but they love to listen to it. Most of them, will go wild, like asking for nude, or even worse. But, as an adult, you have to know how to react about it. It is gross, but you can’t deny as its function to reproductive tools for mankind. Pakistan has lot of tribe, so, it wrong to judge them all. There are Sindhi, Baloch, Brahui, Gujarati, Kashmiri, Punjabi, Siraiki, Pashtun and ancestral of Arab, Turkic and Iranian. So, it will be better if you know their tribe. Ah, advance notice, those eleven tribe is known as general diversity, there are lot of tribal names, Khattak for example.

Real love or Time Pass

This is very intrigue question, but from what I saw is, they tend to choose someone they can see, not virtually. So, if you want to marry them, just meet them, and go to their home, it will be nice. Because not of all home still do arranged marriage. Pakistani men has higher chance to get love marriage. Take it as investment, don’t you dare to invest everything in one bucket.

Character

Hmm, as I stated about tribe, most of their character can be classified as their tribe. If you watched Jab Tak Hai Jaan, you will know about Pakistani Pathan Kamaal (PPK) which has been said by Zain bhai. I knew a Siraiki, and he’s not good in communicating. Faizan is Pashtun, most of them is nice. But we can’t take that as whole, right? It is just based on my experience and has a bias, because of my character as well, so, maybe Siraiki is good for you, but not for me.

Behavior

This is will be last thing I’ll explain, because it is still related to first three question. It is depends in how you treat them and how well your communication with them. Haroon blocked me (in Facebook too) just because I never take his call.

Cultures of Pakistan

Have you heard about ‘Main bhi Pakistan hoon’ campaign in August back then? There are lot of cultures and I am still learning about Khattak. Have no idea about others, but if you have curiosity about this, let’s team up and sharing our knowledge to each other. One thing that catch my eye is, arranged marriage. I find it quite handy, to be arranged rather than thinking about who will be our spouse and find it in the way. They’re just so secure about their wives-to-be, because their mother will find it. But I do not like their idea of marrying their cousin, yes, it is acceptable in Islam, but it will make such disease… But hey, let’s meet another time. (saf)

 

Eulogy to my Friend

I can’t resist to not write this up. Like I am being haunted by disbelief. I just want to write an eulogy for my friend, maybe not closest, but she was the one who helped me when I got an accident hand-in-hand with her back in 2004.

Remain text will be in Indonesian, because I want the others can read and know what is this about.

An Eulogy for a Friend

Eulogy untuk Ella
Eulogy dari Inno

Namanya Sheila Fadzilla, lahir tanggal 5 Desember 1992. Rumahnya dekat dengan rumahku. Dia adalah teman pertamaku yang mengundang ke rumahnya. Baik itu rumah tetap, ataupun kontrakan, karena rumahnya lagi di renovasi. Latihan nari di rumah Ella, latihan drama di rumah Ella. Cerita-cerita di rumah Ella. Aktivitas-aktivitas itu memang terjadi hanya dalam 1 tahun pendidikan. 2004-2005.
Eulogy ini tercipta karena aku tidak sempat menemuinya untuk yang terakhir kalinya. Kata Inno, Ella ini orang baik. Setidaknya itu adalah eulogy yang dibuat Inno di instagramnya.
Sheila kuliah di Universitas Padjajaran, jurusan ilmu komunikasi. Sempat kerja di Jakarta, namun pada masa itu aku tidak sempat bersua dengan teman lama ini. Sudah beberapa bulan ini Ella kembali ke Pekanbaru dan berusaha berhijab, meskipun belum sempurna.
Kami sekolah di sekolah yang sama selama 6 tahun, hanya saja dalam 6 tahun tersebut, selama 2 tahun-lah kami sekelas. Tahun 2007/2008, Ella mendapat kabar bahwa Papanya sudah pergi, di Timur Tengah sana. Tinggallah mereka bertiga beranak, adiknya masih kecil saat itu.

What she done in My Life

Mungkin jika dia hanya sekedar teman sekelas atau kolega, aku tidak akan membuat eulogy seperti ini. Ketika malam yang panjang menemani orang-orang yang sedang terlelap, aku terkenang-kenang memori bersama Ella.
4 Oktober 2004. Ella dan aku berpegangan tangan ketika menyebrang di jalan Sudirman, dari Perpustakaan Daerah menuju Bank Riau. Aku ditabrak oleh mobil pick-up, tidak sadarkan diri. Ella terduduk di jalanan. Syok dan kaget. Namun dialah yang membawaku ke RSUD Pekanbaru, sekarang RSUD Arifin Ahmad. I owe a life to you, Ella.
Tanpa Ella, mungkin bisa saja aku yang pergi duluan. Manusia memang hanya bisa berencana ya. Ella akan dimakamkan hari ini, tanggal 14 Oktober 2017. 13 tahun sudah kita berteman, it’s half of our age, Ella. Meskipun aku tidak berada dideretan teman-teman yang lain, yang masih terus berkomunikasi serta mengambil swafoto bersama, tetapi Ella memiliki posisi yang spesial di hati ini.

Ella Duluan Ya

eulogy for ella
Snapgram Agnes

Aku mendapat kabar tentang kepergianmu dari teman SMP kita, La. Dia memang selalu menjaga hubungannya denganku. Malam itu, dia kirim snapgram dari Agnes. Di dalamnya berisi informasi bahwa Ella udah gak sakit. Aku gak percaya, La. Ella kan gak sakit. Tapi ternyata Ella korban kecelakaan lalu lintas.
Malam itu aku baca semua chat yang masuk, meskipun hanya dari Gizka dan Agnes yang benar-benar memberikan informasi, dari RS yang dirujuk, hingga ucapan, ‘Ella udah duluan, mohon doanya teman.’ dari Agnes.
Ella sayang, Ella pasti bahagia di sana ya. Bersama papa lagi, sudah 10 tahun kan Ella ga ketemu papa. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain mengirim doa untukmu Ella. Insha Allah, Mama dan Ivan kuat La. Mama Ella adalah wanita super kuat dan ikhlas. Ella jangan sedih ya, Ella sekarang sudah sama Papa.

Something makes you Write

I am so done with writing a cliche story about my ‘so called’ love. Things get worse when you’re aging, yes, aging, not matured. I don’t know how I would portray this note. Because it is just an impromptu writing, literally I just write what I have in my mind.

Watching Jane the Virgin which is a remake of telenovela, push me to remember things. To remember what exactly done in a day. From the second I opened my eyes till now. It is full of moods. My MacBook Pro is having recurring disease, which is vertical line, something with the display (hope not for VGA). I am so grateful for who I am and what I’ve been going through, especially with my lethargic love-life.

Impromptu Writing about What Happened

I’ve been asking to my self, what really happen to me? Waiting or just playing around? There are so many things make me think about those option. Are you ready to take the next step in your life without someone you even never think of? Or waiting for someone whom full of uncertainty. Dude, I’m not trying to be bitch about it, but please, make me believe about what will happen. Because I just can’t simply go-hippy without an evaluation of state and strategy.

Two worlds. It is the most precise thing which could describe me. Try to ask my old self, will I really want to put off the freedom I’ve got just for a single man? Recalling to the first paragraph, I am not ready to be mature person. I don’t want to think about all aspects. To think about operational things, to think about assimilation of cultures. Have you heard about go big or go home? It is like I want to go home if I can’t get that ‘big’.

Foreigner

Lately, I’ve been busy with a group full of ladies talking about Pakistani man. Don’t judge me wrong, all I want to get is the culture, the hidden tribe of Khattak and things. I’ve been wanting to make a trilogy of a man, who is a lover, a husband and a father in three consecutive novel.

I can’t deny the fact that I get so little information about current ‘love affair’. All I know is he’s a MBBS student in northern Pakistan, he has lovely family and cute nephews and all. I don’t know about their culture of arranged marriage. At least we know the fact that he’s a man, which is likely has a triumph card about their own wives. But this is killing me, I keep wondering what if he got one. Like literally the girl he has mentioned is his soon-to-be-bride? Well, I can’t make sure of it.

There’s been a discussion about why some of us not interested to local men. I’ve tried so hard to like the local man, but that’s not it. Maybe I got a Stockholm Syndrome, but I didn’t feel safe with the local, unless it is for a friend.

I am making this impromptu writing is just to unleash my thought. This insecurity really hit me hard. I never got this kind of problem before, but looking at how they’re succeeding at their ‘wedding mission’ to Pakistani make me worried about my self. What if this won’t happen? What if I will be heartless because of bitterness which I got from this one?

Impromptu Writing about the End

There’s a day I asked my friend about the current situation. He said to me, he’s on his way to the ‘exit’, I don’t know what exit he’s been mentioning. Maybe I’ve been denial for this time, but I hope the I am in the exit, not the other way.

He was angry when I called him Doctor Saab. It is for the people whom not close to him, and he still introduce me as ‘bhabi’ to his friend, but he’s just there, ignoring me. Am I this denial or the truth is there? Truth is he’s busy with his struggling and the winter will be coming. Ah, I never told you that he’s my mirror, right? Well, yes, maybe he’s my mirror. The one who prefer doing things in her own way, rarely checkup on her boyfriend and all. That is so me, but right now I am in the position craving for attention and a little touch. (cont…)

Beloved

Poster for the movie ""

Beloved

Releasing on Eid-ul-Azha.

20162 h 13 min
Overview

The story of a Pakhtun girl who returns from Canada to attend her cousin's wedding in Swat, Pakistan and falls in love.

Metadata
Director Azfar Jafri
Runtime 2 h 13 min
Release Date 8 September 2016
Details
Movie Media VoD
Movie Status
Movie Rating Average
Images

Untuk pertama kalinya, menonton film Pakistan. Dari segi morfologi sih, India dan Pakistan tidak jauh berbeda (bukan bermaksud memberi hinaan kepada India Selatan ya). Secara linguistik, juga tidak jauh berbeda antara Hindi dan Urdu. Film Janaan ini ditemukan oleh saya di Netflix, sebuah film pengantar tidur. Namun hasil dari menonton film ini adalah begitu banyak tanda tanya serta komentar-kritik untuk film ini.

Tidak pernah mendengar nama pemainnya, mungkin kalau Fawad Khan, Mahira Khan, sudah bisa dianggap sekaliber aktor Bollywood, tetapi untuk film ini, benar-benar tidak tau siapa pemain dan apa kredibilitas yang mereka miliki. You know, when it comes to a movie, it is either Bollywood or Hollywood.

Janaan: Synopsis

Janaan Pict
Asfandyar dan Meena

Meena (Armeena Khan) telah tinggal dan hidup di Kanada selama 11 tahun. Ia kembali ke Swat, Pakistan untuk menghadiri acara pernikahan saudaranya, Palwasha (Hania Aamir). Seperti halnya dengan istilah pulang kampung atau Homecoming, ia mulai merekam segala kegiatan yang ia lakukan. Tanpa disengaja, ia jatuh hati kepada saudara sepupunya, yang merupakan anak angkat, Asfandyar (Bilal Ashraf). Namun tidak serta merta merupakan cerita cinta yang klasik, Daniyal (Ali Rehman Khan) hadir untuk menggapai cinta Meena namun ia tidak begitu serius dalam usahanya.

Family Issue

Tidak ada kejelasan apa hubungan antara Daniyal – Meena – Asfandyar. Semuanya merupakan saudara satu sama lain. Tapi konsep yang paling pasti dan jelas adalah antar saudara tidak dapat menikah. Berarti bisa saja kerabat atau saudara jauh. Ada satu poin yang sangat menarik dari film Janaan ini, bagaimana Shireen Gul (Mishi Khan) dan Waheeda (Mahjabeen Ahsan) berperan bak Bawang Merah dan Bawang Putih. Shireen Gul berperan sebagai wanita yang agak liberal di dalam keluarga ini, yang berusaha membantu dan memberikan pelajaran lebih lanjut kepada keponakannya.

Di hari pertamanya, Pash (nama pendek dari Palwasha) menceritakan bagaimana perjuangan dia bersanding dengan Sameer. Ia membawa konsep dari 5 stages of grief dari Ross dan Kessler. Selain isu keluarga, ternyata Janaan juga mengangkat isu etnis yang dibawa secara satir. Bagaimana Pukhtoon (orang Pathan) yang berkulit putih, tidak seputih orang kulit putih (white people) dengan orang yang non-Pathan, yang memiliki kulit lebih gelap.

Moral Issue

Sebenarnya perihal moral ini tidak terlalu eksplisit seperti lelucuan yang dibawa secara satir mengenai etnis tadi. Namun ada hal yang lebih besar yang mencuri perhatian, yaitu Ikramullah (Nayyer Ejaz). Di dalam film ini, ia berperan sebagai seorang yang dipandang, mungkin karena ia adalah seorang filantropi. Namun dibalik kedoknya itu, terdapat sebuah kasus yang akan seru jika diangkat menjadi satu judul film sendiri, tanpa ada embel Romantic Comedy yang dimiliki oleh film Janaan ini.

Into the Reel

Ada banyak yang mengundang pertanyaan. Bisa diasumsikan bahwa film adalah hal yang berkelas untuk orang Pakistan, sehingga harus mengerti yang namanya common sense. Berbeda dengan India, yang dapat menjelaskan common sense tersebut menjadi adegan. Secara editan, masih terkesan jumpy, namun secara cerita menjadi tidak begitu fokus. Mungkin ini adalah culture barrier, bahwa mereka tidak dapat berekspresi seperti Bollywood.

Dengan asumsi bahwa Janaan adalah film komedi romantis, seharusnya film di tengah awal sudah sangat mumpuni untuk dijadikan sebuah film komedi romantis. Hadirnya konflik baru, yang membawa suasana tense menjadikan film ini lebih dari sekedar komedi romantis. Drama.

Dari segi akting dan penampilan, mereka memiliki standar yang sudah bagus. Hanya saja, Hania Aamir lebih menjual daripada Armeena Rana Khan, serta Ali Rehman lebih camera face dibanding Bilal, meskipun Bilal memilki sebuah lesung pipi.

Culture

Berusaha untuk mengenalkan budaya di Pakistan, yang tidak jauh berbeda dengan India memang susah dan gampang. Berusaha terlihat mewah, seperti kebanyakan film Bollywood. Padahal sekarang kiblat Bollywood sudah bergeser menuju cerita yang otentik ataupun film yang bertema kolosal. Sapaan yang selalu mereka gunakan baik itu dalam bahasa Pashto ataupun Urdu, yaitu Assalamualaykum dan Walaykum-us-salaam.

Di awal filmnya juga Meena sempat membahas mengenai tanggapan media mengenai Pakistan yang tidak sepenuhnya benar menjadi nilai lebih untuk film ini. Bahwa terdapat insecurities yang teramat sangat tinggi di antara mereka. Untuk melihat jembatan antara modern dan kuno-nya ajaran Islam, budaya di Pakistan adalah salah satu yang tepat.

Mereka dilatih untuk memegang senjata, untuk berjaga-jaga ketika ada yang menyerang (defensive order) dan di dalam cerita Baginda Rasulullah pun tidak dijelaskan secara eksplisit, tetapi para sahabat mesti sangat lihai dengan senjata.

Screen Writing

Poin dari film ini ada di sini. Premis yang disajikan tidak begitu terealisasikan dalam bentuk komedi romantis. Ketegangan muncul ketika Asfandyar dan Ikramullah bersiteru dan ‘diam’ adalah solusi paling cepat yang dapat diraih. Oh man… tidak seharusnya membawa tema tersebut di dalam sebuah film yang seharusnya memiliki kesan romantis. Komedi, iya, Ali Rehman menyelamatkan hal tersebut. Romantis? Definisi romantis tidak dapat disederhanakan menjadi ‘suka sama suka’. Harus ada usaha di kedua belah pihak.

Shireen Gul dan Waheeda telah memainkan porsi mereka dengan sangat apik, tetapi justru tidak begitu menolong dalam premis tersebut. Hadirnya sang produser di dalam adegan juga tidak begitu membantu dalam cerita. Namun, untuk mencapai akhir yang seperti itu, memang diperlukan konflik yang beragam. Alangkah menariknya jika masalah muncul dari sisi Pash-Sameer serta penerimaan keluarga dan penemuan cinta Meena dan Asfandyar. Well, it is not that bad at all. (saf)

Baby Driver

Poster for the movie ""

Setelah melakukan resensi terhadap film Kingsman, akhirnya langsung lanjut untuk resensi film yang memiliki daya tarik tersendiri. Baby Driver, sebelum tanggal rilisnya, telah melakukan banyak screening untuk mendapatkan insight tentang filmn tersebut. Jika melihat review pada IMDb, dapat dilihat bahwa beragam pendapat yang ada. Namun secara keseluruhan, Baby Driver mendapatkan nilai 8.0/10.

Baby Driver

Image from the movie "Baby Driver"
© − All right reserved.

His name is Baby. B-A-B-Y. Pada awal film dijelaskan bahwa Baby merupakan seorang supir ‘bayaran’, bukan bagian dari tim strategis, hanya sebagai supir. Dengan pembawaan karakter Baby yang merupakan teenage, Ansel Elgort sukses menghidupkan karakter Baby/Miles dengan gaya millennial yang ia miliki. Things around him is near to perfect. Meskipun tidak dijelaskan hutang yang terjadi di antara Baby dan Doc (Kevin Spacey).

Pengembangan ceritanya sangat menarik dengan konsep returning visitor dari Doc serta kehidupan pribadi Baby yang menjadi tidak seimbang. Mungkin jika pernah mendengar atau mengetahui frasa ‘It ends all, but not really‘, itulah yang terjadi pada Baby, ketika hidupnya hampir saja sempurna, setelah lepas dan lunas dari hutang tersebut.

Love Sparks in Baby Driver

Image from the movie "Baby Driver"
© − All right reserved.

Tak dapat dipungkiri, bahwa gejolak cinta yang tumbuh pada setiap insan manusia membawanya ke dalam usaha maksimal yang bisa ia capai. Sejak bertemu dengan Debora (Lili James), ia mulai menata mimpinya untuk lepas dari pekerjaannya sebagai supir. Hanya saja justru hal ini yang membuatnya terpaksa memberontak karena ingin melindungi Debora, sebelum ia lenyap diburu oleh Bats (Jamie Foxx) dan Buddy (Jon Hamm).

Jika Yin dan Yang saling melengkapi satu sama lain untuk menjaga keseimbangan, Bats datang untuk menghancurkan keseimbangan tersebut. Jika diibaratkan dengan sebuah hero-villain, maka Bats adalah villain yang sangat cocok, bahkan sangat menyebalkan, dari pertama ia muncul di dalam layar.

Baby Driver Finale

Apa yang terjadi di Baby Driver adalah sebuah visual dari domino effect. Mungkin selaras dengan pepatah, ‘Karena nila setitik, rusak susu sebelanga’. Hal itulah yang terjadi pada klimaks film ini. Karena ambisi Bats, balas dendam Buddy, sifat heroik dari Baby, serta kebijakan Doc. Setiap pergantian scene memang patut diacungi jempol. Setiap adrenalin yang muncul karena komposisi musik serta pengambilan gambarnya menjadi daya tarik dari film ini.

Image from the movie "Baby Driver"
© − All right reserved.

Meskipun begitu istimewanya film ini, tetap masih tidak bisa memenuhi keinginan mayoritas penonton yang ingin sebuah film biasa dengan cerita yang jelas serta drama yang lebih banyak. Memang, di dalam film Baby Driver ini terdapat beberapa drama, terutama antara Baby dan Debora, lalu antara quadruplets seperti yang tertera pada gambar di sebelah kanan ini. Bats, Baby, Darling dan Buddy. 4 orang dengan 3 tujuan yang berbeda serta ambisi yang berbeda pula.

Baby Driver memang memiliki kompleksitas cerita yang begitu dalam, hanya saja yang diulas hanya sebatas masa sekarang dan masa depan serta bagaimana cara untuk menggapainya. Selain dari itu, hanya sebuah mitos. (saf)