Aku Bukan Untukmu – Rossa

Aku tau akan lagu ini, aku pernah mendengar lagu ini, dan dulu, aku suka akan lagu ini. Seorang teman suka Rossa, dan akhirnya bermodalkan ‘Atas Nama Cinta’ dan ‘Ayat-Ayat Cinta’, akhirnya aku mulai melirik Rossa.

Aku pernah mendengar interview Rossa di salah satu radio di Jakarta, ia mengaku bahwa MD meminta ia untuk nyanyi ‘Cinta Fitri’, dan iapun meminta Melly untuk membuatkan lagu yang pas dengan cerita CF tersebut. Cerita Cinta Fitri tanpa Mischa Amaira.

Pada dasarnya, cerita Cinta Fitri itu memiliki empat tokoh inti, yaitu Farel, Fitri, Aldo, dan Mozza. Pada saat itu Aldo dan Fitri pacaran (pasca mas Firman kecelakaan) lalu Mozza dan Farel berpacaran karena Papi Hutama sangat suka dengan Mozza, cantik, dan juga pintar.

Lagu ‘Atas Nama Cinta’ sendiri itu menceritakan tentang Fitri yang menaruh hati pada Farel, di saat ia memiliki Aldo, dan Farel memiliki Mozza. Bagaimana mereka mengusahakan cinta mereka berjalan seperti inginnya, dan juga tidak lagi bersembunyi. Selebihnya, ada 6 season yang akan menemani anda.

Sedangkan Mischa, adalah tokoh yang paling aku suka, dikarenakan karakternya. Sebal sih sebal ketika menonton, tapi setelah dijabarkan alasan kenapa seorang Mischa seperti itu, akupun mulai menaruh hati kepada tokoh fiktif itu.

Tokoh antagonis memang tidak memiliki kesempatan untuk berbahagia. Dan itupula yang aku pikirkan ketika aku melihat situasi aku sekarang, saat ini. Bahkan lagu ‘Aku Bukan Untukmu’ milik Rossa tidak dapat menggambarkan keadaan saat ini.

Dahulu kau mencintaiku 
Dahulu kau menginginkanku 
Meskipun tak pernah ada jawabku 
Tak berniat kau tinggalkan aku 
Sekarang kau pergi menjauh 
Sekarang kau tinggalkan aku 
Disaat ku mulai mengharapkanmu

Sepenggal lagu ini (mungkin) pernah menghampiriku. Kalau sekedar balasan, “hah? cinta? gak mungkin…” itu aku sudah mempertimbangkannya. Tapi, lihat baris kedua. Dan lagi, mungkin, mungkin dia pernah menginginkan… mungkin. Dan jawabku, selalu menyuruh dia lihat kenyataan, hadapi masalah, selesaikan yang sekarang sedang dijalani. Dan iya, di saat berkali-kali jawabku tidak sesuai harapan dia, dia tidak pernah lepas, tidak pernah berhenti. Di saat seperti sekarang ini, saat ada yang memperhatikannya lebih dari aku, dia pergi menjauh, dan sayangnya aku mulai mengharapkan dia ada di sini, ada mendengarkan kisah-kasih yang akan aku ceritakan.

Tapi jangan pernah kau dustai takdirmu
Pasti itu terbaik untukmu
Janganlah lagi kau mengingatku kembali
Aku bukanlah untukmu
Meski ku memohon dan meminta hatimu
Jangan pernah tinggalkan dirinya
Untuk diriku 

Ya, normalnya pada lirik di atas adalah doa seorang sahabat, seorang teman, maupun seorang mantan untuk kekasih yang paling dicintainya. Akupun begitu. Dalam doa selalu namanya yang tersebut, dan tak terlepas akan hal itu. Aku berdoa untuk kebaikannya, untuk segala usahanya dilancarkan, dan tak luput juga aku berdoa untuk dimudahkan hubungannya. Ya aku gak perlu lagi bilang kenapa aku terus berdoa seperti itu, itu udah seperti doa dalam setiap sujudku.

Tiga baris terakhir dari lirik di atas, itulah aku. Lebih suka menyiksa diri sendiri dengan memendam rasa, hingga rasa itu tidak dapat dikontrol. Aku bukan terlalu percaya diri ataupun gede rasa, tapi aku berbicara fakta. Tidak akan ada seseorang (cowo) yang gamblang menceritakan masalahnya, dan juga menceritakan ulang hidupnya kepada seorang teman yang baru saja ia kenal, tidak, yang baru saja dekat.

Ada yang bilang, waktu bukan jadi masalah untuk dua orang bisa dekat. Dan untuk hal itu aku berterima kasih yang telah mengatakan hal tersebut. Aku tidaklah begitu peka terhadap serangan-serangan dari luar, selama itu baik, dan tidak merugikan, aku menerima saja. Dan hal ini menjadi masalah tersendiri untuk aku. Kecil atau besar ya tergantung kalian menilainya.

There’s no such art in getting by…untuk aku, iya itu berlaku. Aku tidak pernah bisa ngerti dengan seni dalam pdkt. Jika kalian berbicara cinta, iya aku percaya dalam cinta, ada banyak hal yang unik, ada banyak art. Tapi tidak dalam pendekatan untuk sebatas pacaran.

Mungkin kalau tentang pacaran, aku bisa dikatakan tidak memiliki kredibilitas, tapi kalau untuk berbicara dalam kesetiaan, mungkin aku bisa membantu, siapa saja yang bingung akan hal sakti itu. Hal sakti? Iya. Bagiku itu hal sakti. Karna tidak gampang untuk menjadi setia. Butuh pengorbanan? Pastinya. Butuh latihan? Tentu.

Aku bukan meninggikan diri sendiri, tapi aku termasuk orang yang setia, dalam hal apapun itu. Ya teman dekat aku pasti tau, dari segi style, baju, parfum, tas, sepatu, dan lainnya. Bukan tidak mau mencoba ‘variasi’, tapi jika sudah nyaman, kenapa mencoba untuk hal yang tidak pasti?

Hal ini membawa lamunanku jauh ke status via twitter seseorang beberapa hari lalu.

or maybe this conservative life’s way could make me get straight to heaven before you – you all,…

I have retweeted that one. Iya, jalan hidup yang sederhana, yang kalau udah pas, udah nyaman, kenapa harus diotak-atik hanya untuk mendapatkan nama di beberapa kalangan, ataupun hanya untuk sesaat? Ada hal yang lebih penting dibanding hal itu… dan itu banyak.

Aku jadi ingat waktu di Ambarukmo Plaza pada tanggal 20 September 2013 kemarin. Aku bermain ke dalam Centro sebentar, hanya melihat P.S. (Personal Style), dan terlepas ucapku. “Aku kalau beli baju, pasti merk ini, dan aku bawa 3 baju merk ini loh.”

“Trus kenapa sekarang gak pakai salah satu baju itu?”

“Karna aku tau kita cuma nonton aja hari ini. Ngapain pake baju bagus-bagus?”

Dalam perhitungan, keesokannya kita masih bisa jalan, masih bisa menghabiskan waktu bersama, meski tidak ada ikatan diantara kita. Akupun tidak tau kenapa aku bilang itu ke dia. Tidak ada niat sama sekali untuk pamer. Entah apa di otak aku saat itu.

Tadi, ketika aku hendak mengantar temanku, aku sempat berkata begini, “Kalau dia break lagi, mungkin aku bakal langsung minta izin ke dia, untuk berbincang sekedar 4 mata ke pacarnya itu.”

“Langsung ke akar permasalahannya ya?”

“Bukan. Hanya sekedar pengen tau menurut dia gimana pacarnya itu.”

“Aku rasa, dia (aktor) gak bakal izinin deh.”

“Iya sih. Track record dia dengan pacar-pacarnya…”

“Mungkin sih langsung ke pacarnya aja, jangan lewat dia.”

“Engga bisa, dia harus kasih izin. Kalau gak, ya harus. Dia harus turuti mauku. Engga mungkin dia aja yang dituruti.”

Ya begitulah… Mungkin aku tidak begitu mengenal dia, mungkin aku salah telah menganggap aku yang paling mengenal dia, setelah begitu banyak yang pernah jadi kekasihnya, dan begitu banyak temannya yang bahkan aku tidak mengenalnya. Tapi itulah yang bisa aku lakukan. Aku tau bagaimana perasaan teman aku itu terhadap pacarnya, aku bisa ngerti, banget. Untuk berapa kali dia dikecewain, dia dikhianati, tapi dia tetap berusaha untuk membuatnya berhasil, dia berusaha… Ya bagi yang kenal dia, yang tau masalah dia, atau mungkin yang pernah aku ceritain, pasti tau.

Terlalu drama kah? Menurutku sih tidak. Kalau benar adanya ‘cinta’ di antara dua insan, pasti tetap dapat dipersatukan, walaupun betapa bedanya pemikiran dan kebiasaan mereka. Kecuali memang cinta yang kamu terima tidak sebesar yang kamu beri. Itu memang sakit, dan itu hanya ada satu jawaban. Cari yang bisa memberi lebih, hanya itu.

Itulah yang dia sampaikan kepadaku. Dan sampai saat ini, bulan sudah menjadi November, aku masih tetap mengingat akan hal itu. Aku tetap mengingat kata-kata dia, yang ia dapat dari Ibunya. Aku sungguh berterima kasih untuk akan hal itu.

Sebelum ini, aku kerap kali mendengarkan lagu “Don’t Care” C.N. Blue. Dan satu hal yang aku ingin bilang ke aktor, kepada lelaki nomor 3 yang aku akan selalu memberikan hormat dan waktuku. Karna dia akan selalu ada teman yang menunggu, dan akan selalu ada fans yang mendukung. Iya. Aku. Aku sebagai fans, dan aku sebagai teman. Hanya untuk dia.

P.S

Hei kamu, mungkin kamu baca, mungkin tidak. Aku cuma pengen bahagianya kamu, suksesnya kamu, dan tentunya, kamu mendapatkan orang yang dapat mencintai kamu apa adanya, bisa menerima kekurangan kamu, dan dapat mengubah kamu menjadi orang yang lebih baik, dan kamu dapat membimbing dia untuk lebih dekat kepada Sang Khalik.

Maine karo kiya bas tumtak. Uski liye. Maine janti ho mera prem kahaani khatam hogaya, lekin uski nahin, uski prem kahaani bahut accha hai. Hamara prem kahaani? Kabhi kabhi… Sirf intazar hai, hamesha ke liye. Yep, wait for it, forever. Like it supposed to be happened.

At last… Don’t let the bed bugs bite. I am so sorry for flooding your dashboard with useless stories, unclear target, and unrequited feeling.

Reply

error: If I were you, I won\'t try it.
%d bloggers like this: