Big Bad Wolf in Indonesia

Big Bad Wolf in Indonesia

Yeah. It is… As you heard about it. Big Bad Wolf ada lagi di Indonesia, tepatnya di Serpong (alih alih mau tulis Jakarta, tapi sudah bukan daerah Jakarta). Apa sih Big Bad Wolf itu?

Big Bad Wolf Book Sale adalah pameran buku terbesar di dunia dengan diskon 60-80%. Pertama kali hadir di tahun 2009 di Kuala Lumpur lalu diadakan setiap tahun di beberapa kota besar di Malaysia. Sekarang, Big Bad Wolf hadir di Jakarta pada bulan April ini, tentunya dengan misi yang sama: meningkatkan minat baca dengan buku-buku murah berkualitas tinggi.

Pertama kali saya ke Big Bad Wolf (BBW) itu pada tahun 2016 tahun lalu, sekitar bulan April-Mei, ya tidak jauh beda lah jadwalnya dengan sekarang. Di jaman yang selalu diintervensi dengan media sosial dan jejaring sosial lainnya, membuat waktu baca menjadi lebih sedikit. Tak jarang saya menjalani momen membaca buku, namun tergiurkan dengan kegiatan lain, seperti cek Instagram, atau memantau para selebtwit berkicau di twitter.

Pada tahun 2016 lalu, alasan saya adalah ingin mencari buku penunjang kuliah, ya maklumlah, harga buku untuk kuliah itu mahal, kadang ada sampe jutaan. Dengan harapan itu, saya mengajak dua orang teman saya pada malam hari. Kenapa malam hari? Karena berdasarkan review yang saya baca di Internet, disarankan ke sana pada malam hari, menghindari antrian yang membludak.

Big Bad Wolf Indonesia 2016

Berangkat dari Kebon Jeruk ke daerah Veteran (Bintaro). Menjemput teman sekaligus searah. Dari sana kami bergerak menuju Bintaro, menculik seorang teman untuk mendatangi BBW. Reaksi pertama saya mengenai BBW adalah, ‘Emang ada ya event seperti ini.’ Setibanya di Indonesia Convention Exhibition BSD, saya terkagum. Ternyata banyak juga orang yang datang, dan membawa anak mereka.

Hasil berburu saya pada tanggal 6 Mei 2016 tahun lalu adalah sebagai berikut:

  1. 2 Seconds Advantage oleh Vivek Ranadive dan Kevin Maney
  2. Super Crunchers oleh Ian Ayres
  3. India Grows At Night oleh Gurcharan Das

Pada saat itu rata-rata harganya Rp. 65.000,-, kapan lagi bisa beli buku berbahasa Inggris dengan harga semurah itu? Bahkan di beberapa buku ada harganya, dalam Dollar maupun Poundsterling. Pada saat itu ada biografi beberapa aktor Bollywood, namun harganya lebih dari 100K, jadi saya tidak membelinya. Sejak saat itu Big Bad Wolf menjadi event yang saya tunggu-tunggu.

Big Bad Wolf dan Wolfie

Bagi yang masih ingat tentang Wolfie, mungkin akan saya jelaskan apa hubungan kedua ini. Selain ada kata wolf, juga ada makna lainnya. Wolfie selalu terlihat membawa Kindle Whitepaper-nya. Saya dengan iseng membawa buku 2 Seconds Advantage tersebut, dengan label harganya belum dicopot. Kalau dirunut, lumayan lama ya, 5 bulan. Dalam waktu 5 bulan itu, buku tersebut tidak ada saya sentuh, kecuali bukunya Gurcharan Das, saya sangat tertarik dengan India.

“Mas, udah baca buku ini belum?” Ya, saya, seseorang yang lebih senang berkutat dengan media sosial memberanikan diri membuka percakapan dengan seseorang yang saya anggap sebagai seorang ‘sempurna’.

“Belum. Apa itu? Esensinya apa?” Saya paparkan bahwa esensinya adalah dalam 2 detik awal pengambilan keputusan, memori berperan penting, sehingga kesuksesan menjadi lebih besar. Walaupun saya baru membaca awal-awal bukunya saja.

“Oh.” dia diam sejenak. Lalu melihat stempel harga belum dicopot, dia berkomentar. “Big bad -fucking- wolf.” ujarnya. Dia sangat fasih dengan kata-kata mengumpat seperti itu. Katanya, cursing membuat lifespan meningkat. Lalu ia bercerita mengenai buku-buku yang dia beli pada saat event tersebut.

Big Bad Wolf 2016 Aslam
Big Bad Wolf 2016

Dari segitu banyak buku, setengahnya adalah buku bertema bisnis, ada juga yang agak bertema filosofi seperti buku atau novelnya Mark Twain.

Wolfie dan Bacaannya

Ada sebuah pesan, pesan terakhir yang saya terima dari Wolfie via WhatsApp. Isinya adalah untuk agar saya membaca buku filosofi lebih sering. Dengan angkuhnya, ia tidak membalas pesan saya ketika saya bertanya buku apa yang harus saya baca, setidaknya untuk pemula.

Atas kerja sama saya dan seorang yang saya hormati dan menjadi tempat cerita saya, akhirnya saya tau, bahwa ia ingin saya membaca buku Alain de Botton yang berjudul Essays in Love, atau On Love. Akhirnya saya putuskan untuk mencari buku tersebut di Periplus maupun Kinokuniya. Jawaban mereka sama, ‘Itu buku lama Mba, udah tidak ada dijual di sini. Mungkin mba bisa coba pesan online saja.’

I did it. I purchased Essays in Love, Picador edition via Peripulus Online. One month of waiting. Menunggu buku tersebut dikirim dari Inggris memang memakan waktu, kurang lebih satu bulan, atau katanya 2 minggu (14 hari hitungan hari kerja).

Big Bad Wolf Indonesia 2017

Tahun ini diadakan pada tanggal 21 April hingga tanggal 2 Mei, atau 280 jam non-stop. Namun ada tiket VIP yang bisa masuk pada tanggal 20 April 2017. Menarik, bukan? Saya yang sudah menanti event ini, akhirnya melancong ke BSD untuk melihat koleksi buku yang ada pada tahun ini. Alhamdulillah saya dapat 2 tiket VIP dari Bank Mandiri, mungkin kesalahan sistem, karena nama saya tidak ada di daftar mereka. Tetapi diberi juga 2 tiket VIP.

Tidak VIP Sesungguhnya

Harapan dengan tiket VIP tentunya orang tidak ramai, serta buku tertata rapi di setiap meja. Namun semua itu tidak terjadi di BBWID2017, karena sudah banyak yang melakukan pembelian partai besar. Tidak tanggung, sampai 2 hingga 3 trolley (iya troli seperti di Lottemart atau Supermarket lainnya). Bank Mandiri menyediakan fast track, bagi nasabahnya yang menukarkan fiestapoin atau mengajukan kartu kredit Mandiri. Hanya saja, semuanya tidak pantas (not worthy). Karena pada akhirnya mereka juga ngantri, walaupun tidak selama antrian reguler.

Saya sendiri menghabiskan waktu sekitar 3 jam lebih menuju kasir pembayaran. Ada yang berkomentar, kasian ya yang beli sedikit tapi ikut ngatri lama. Ini hal menarik, terkadang saya sendiri bertanya-tanya, kenapa mereka pada memborong, dalam artian satu jenis buku (biasanya buku anak-anak, atau activity books) dibeli hingga 5 atau lebih. Seriously, what are you gonna do with that kind of books.

Bukannya menentang, tetapi rasanya jika buku tersebut untuk konsumsi pribadi, kenapa harus sampai 5 buah? Mungkin saja orang manajemen sekolah, ingin mengisi buku perpustakaan. Menurut saya, yang otak bisnisnya kurang jalan, kalau buku untuk perpustakaan sekolah kan bisa bulk order ke percetakannya langsung, they will give good price, for sure.

Tujuan diadakannya Big Bad Wolf Book Sale ini adalah untuk meningkatkan minat baca, baik dewasa maupun anak-anak. Tapi untuk membelinya saja perlu berkorban waktu seharian, siapa yang mau? Mending beli buku di toko buku yang menghabiskan waktu lebih sedikit. Asasnya adalah time is money.

First 3 books

Yes. You heard me. I just bought 3 books and lined up for 3 and half hours just for paying those books. Buku yang saya beli dan saya incar ada 2 jenis, pertama adalah buku-buku yang suka dibawa oleh Wolfie, mungkin Alain de Botton, Albert Camus atau author lainnya. Kedua, adalah buku-buku penunjang kuliah. Saya berpikir bahwa awal-awal bukunya pasti lebih lengkap.

Buku yang saya beli pada trip pertama adalah:

  1. Barron’s Management yang berupa kumpulan studi kasus mengenai manajemen. Cocok untuk kuliah. Harganya US$18.99 atau sekitar Rp. 252.870 dapat dibeli dengan harga Rp. 65.000 saja.
  2. Digital Economy dari Don Tapscott yang merupakan pengayaan dari edisi pertamanya yang dicetak pada tahun 1996. Harganya adalah US$34 atau sekitar Rp. 452.744 yang dapat dibeli dengan harga Rp. 85.000.
  3. The Tech Entrepreneur’s Survival Guide dari Bernd Schoner. Harganya US$26 atau sekitar Rp. 346.216 namun saya cuman membayar Rp. 85.000 saja untuk buku ini.

The other 3 books

Tidak hanya itu. Hari Senin, tanggal 24 April pada jam 3 dini hari saya pergi lagi ke sana, karena tidak bisa tidur dan ntah kenapa saya terdorong untuk pergi ke sana lagi, walaupun hari Selasa saya akan ke sana untuk ketemu sama @aMrazing.

Tidak berbeda, saya membeli 3 buah buku yang secara harga lebih murah dibanding kunjungan pertama ke Big Bad Wolf Booksale. Adapun buku yang saya beli adalah buku travel ke Mumbai serta 2 novel.

  1. Brothers at War karangan Alex Rutherford. Sebenarnya ini bukan fiksi sih, tapi dikategorikan novel, karena mungkin diberikan sedikit bumbu drama, cerita ini mengenai Mughal Empire, hanya saja menggunakan nama Moghul. Harganya 6.99 Pounds sekitar Rp. 119.032 dapat dibeli dengan harga Rp. 50.000 saja. Oh iya, ini merupakan novel berseri. Semuanya ada di sini. Surely will back to BBW for the rest, if even exist.
  2. Novel terjemahan, Meluha dari Amish Tripathi. Gak sempat cek harganya di Gramedia, tapi sering lihat di bagian novel. Novel ini dapat dibeli dengan harga Rp. 15.000 saja.
  3. Buku travel Discover Mumbai dari Shalini Sinha. Buku ini saya beli dengan harga Rp. 65.000, ya buku travel yang memiliki kertas glossy rasanya pantas saja dibeli dengan harga segitu,

That’s it. My book journey. Meskipun banyak yang belum saya baca, tapi setidaknya memiliki lebih baik dibanding tidak memiliki dan tidak bisa membacanya. Oh iya, bagi yang tertarik dengan membaca buku, silahkan perhatikan Books and Beyond kalau lagi membuat event Blind date with books. Biasanya sekitar bulan Februari.

Blind Date with Books

By Books and Beyond

Memang sih kita tidak tau buku apa yang akan kita beli, tetapi dengan harga Rp. 99.000 untuk 3 buku, rasanya murah, terlebih Books and Beyond biasanya menyediakan buku berkualitas tinggi. Jadi sebenarnya banyak cara dan banyak acara untuk mendapatkan buku bagus dengan harga yang bagus pula.

 

So, book hunter! Let’s hunt the books with me. Let’s meet today, 6PM.

 

Where?

ICE BSD of course!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: If I were you, I won\'t try it.