Budaya Perjodohan

Jika kalian membaca dua postingan terakhir saya, jujur, yang berbahasa Indonesia itu murni translate dari Google. Alasannya sih saya malas membuat translatenya dan saya juga masih belum menentukan pangsa pasar saya, apakah orang yang berbahasa Indonesia atau Inggris. Seperti janji saya, saya akan membahas atau mengeluarkan pendapat tentang budaya perjodohan, atau kalau bahasa Inggrisnya, Arranged Marriage.

Apakah perjodohan itu? Menurut KBBI, tidak ada arti khusus. Namun kalau kita mencoba tarik definisi dari Arranged Marriage, bahwa sebuah pernikahan terencana dan disetujui oleh kedua belah keluarga (wali) dari pengantin pria dan wanita. Dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

budaya perjodohan
Arranged Marriage in Google and Indonesia translation.

Budaya Perjodohan di Indonesia

Sebelum kita berbicara tentang perjodohan di luar negeri, ada baiknya kita mengenali budaya perjodohan yang terjadi di Indonesia. Ketika riset (baca: googling) saya tidak menemukan yang signifikan tentang budaya perjodohan yang ada di Indonesia, tetapi ada beberapa suku yang mengatur perkawinan di antara mereka. Ada banyak ternyata, daftarnya dapat di lihat di blog ini.

Dari daftar budaya tersebut, yang paling terkenal adalah budaya Batak, seorang lelaki Batak dilarang menikah dengan yang marganya sama. Jadi tidak dapat menikahi sepupu dari pihak ayah, terutama paman. Selain agama, ternyata pernikahan/perkawinan ditentukan juga oleh suku. Menarik bukan?

Budaya Perjodohan di Asia Timur

Iya. Saya membuatnya Asia Timur, karena tidak hanya terjadi di India atau Pakistan, di negara sekitarnya juga masih terjadi hal yang sama. Salah satu alasan terbesar kenapa ini masih terjadi adalah karena ajaran agama. Jika ia beragama Muslim, maka ketika sudah saatnya, mulai dipikirkan apakan akan menikah dengan pilihan hati atau pilihan orang tua. Setelah itu perjanjian antar karib-kerabat. Biasanya itu harus dipenuhi, namun ada juga yang berhasil mematahkan tradisi tersebut. Salah satu alasan yang menurut saya paling unik adalah ras.

Ada beberapa suku yang menginginkan pernikahan terjadi di sesama suku. Lebih-lebih, itu dikarenakan warna kulit. Memang, rasanya wajar saja jika kita, sebagai manusia lebih memilih menikah dengan ras yang sama, namun ada juga yang melakukan pernikahan campuran. Di India, terkesan sangat patriarki, biasanya perjodohan ini ditentukan oleh sang Ayah. Kalau di Pakistan, biasanya lebih condong ke Matriarki. Para lelaki Pakistan akan cenderung memilih apa yang dipilih oleh Ibunya. Mungkin ini ada faktor Agama, karena Pakistan secara umum adalah negara Muslim, jadi mereka menerapkan bahwa surga ada ditelapak kaki Ibu.

Pathan

Memang cukup lucu untuk dijadikan sub-heading. Tetapi, dari pengetahuan yang saya dapat selama dua minggu di grup Indonesia dengan Pakistan, salah satu suku yang paling kental dengan budaya perjodohan adalah Pathan. Secara genealogy, Pathan itu adalah ruang lingkup besar, masih banyak sub-tribe yang bertebaran di Pakistan.

Pathan Tribes in Pakistan

Ada setidaknya 78 suku. Karena saya sudah didepak dari grup itu, saya tidak tau apakah kalimat tersebut secara umum, atau hanya terjadi di beberapa suku saja. Sebagai orang yang memiliki hubungan dengan orang Pakistan, saya jujur saja jadi lebih ingin tau tentang budaya pernikahan di sana. Pernah satu waktu saya ditanya oleh orang sana, bagaimana budaya pernikahan di suku saya, yang bisa saya bilang Melayu.

Dari awal berkenal, yang saya tau adalah dia adalah orang Khattak. Saya belum tau bahwa Khattak adalah bagian dari Pashtun. Hey, can we stop talking his identity?

Perjodohan itu Sukses

Ada artikel menarik yang saya temukan ketika mencari informasi mengenai tradisi perjodohan, yaitu bahwa data membuktikan bahwa perjodohan itu sukses. Sebuah tulisan dari Utpal Dholakia, yang merupakan seorang dosen di RICE University, menyatakan bahwa banyak anak muda (19-35) lebih memilih dijodohkan dibanding pilihan sendiri. Menurutnya, ada 3 alasan kenapa banyak anak muda yang memilih perjodohan, yaitu melepaskan aspek-aspek sulit dari pilihan, memilih dengan sedikit pertimbangan, dan yang terakhir, adalah yang paling saya suka, memulai hubungan dengan harapan (ekspektasi) yang lebih rendah.

Hal ini membawa saya larut ke dalam masa lalu, ketika ada perdebatan antara love marriage atau arranged marriage. Rasanya pada saat itu saya sendiri yang lebih setuju dengan ide arranged marriage. Alasan saya waktu itu adalah, orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, kenapa kita sebagai anak bersusah payah menjerumuskan diri kita? Well, untuk kali ini hanya segini dulu. (saf)

2 Replies to “Budaya Perjodohan”

  1. I do not even know how I ended up here, but I thought this post was
    good. I do not know who you are but definitely you are going
    to a famous blogger if you aren’t already 😉
    Cheers!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *