Triadic Closure

Dulu waktu kuliah Analitika Media Sosial dan Digital, pernah dijelaskan mengenai triadic closure. Hal ini sangat berguna dalam analisis dan analitika di media sosial. Triadic closure berawal dari seorang sosiologis yang bernama Georg Simmel pada bukunya Soziologie [Sociology: Investigations on the Forms of Sociation] pada tahun 1908. Bisa dikatakan bahwa ini merupakan bagian mendasar dari hubungan sosial antara manusia. Triadic closure sendiri adalah sebuah konsep yang diusung oleh beliau. Konsepnya sesederhana 3 nodes (orang) yang kemungkinan akan memiliki hubungan yang lemah (weak).

Misalnya, A berteman dengan B dan C. Ada kemungkinan B dan C juga berteman, walau hanya memiliki kemungkinan yang kecil. Kemungkinan itu bisa berbagai tingkatan, bisa saja sama-sama satu negara, satu kota, atau satu sekolah. Namun itu tidak begitu kuat, sehingga diberi nama tersebut.

Di dalam aplikasinya, sangat identik dengan pertemanan. Akhir-akhir ini saya mengalami sedikit masalah dengan beberapa teman saya. Semuanya karena ego masing-masing, dan saya gagal untuk mengikuti ego mereka. Satu, karena dia tidak senang berdebat, hingga ia menorehkan kata-kata yang lumayan ngena. Yang satu, karena saya tidak menganggap serius masalahnya, ia juga mulai bermain-main dengan kata-kata. Mungkin benar, istirahatlah kata-kata. Yang perlu dilakukan sekarang hanya sikap.

It was yesterday when we had a bit of arguments toward each other. And it was yesterday I came to know someone new. Literally, that’s the reason of our main topic today.

Newton Law

Saya jadi mengenang masa lalu saya yang dihabiskan untuk belajar fisika. Mendapat nilai fisika 40 membuat saya menjadi yang paling pintar di kelas fisika waktu itu. Don’t you ever think about others. Beberapa kali saya mengikuti lomba atau olimpiade fisika. Hanya sebagai pengisi slot saja, tidak lebih. Hukum Newton yang ke-tiga sangat menarik untuk saya; saat ini. Aksi reaksi.

Tidak jarang saya temukan pernyataan tersebut. Seperti;

Ya lo kayak gitu makanya mereka begitu.

Well, no judge, maam. Setiap orang berhak untuk memilih kepada siapa dia memberikan akses. Tidak semua bisa dijadikan konsumsi publik. Misalnya saya, membuat instagram adalah konsumsi publik. Apa yang saya lakukan diinstagram memang untuk dikonsumsi oleh publik. Penilaian adalah di luar tanggung jawab saya dan kehendak saya. Kalau istilah sekarang adalah panjat sosial.

Stop it. Be who you are. You deserve to be happy for who you are, not for who you want people think you are. Yeah, unless you’re an actor. You’ll have team, for God sake.

Law of Attraction

Dikutip dari situs web lawofattraction.com,

Law of Attraction is the ability to attract into our lives whatever we are focusing on. It is believed that regardless of age, nationality or religious belief, we are all susceptible to the laws which govern the Universe

Saya punya teman, tinggal di Kurukshetra. Saya mengenal dia sudah hampir 5 tahun, itu karena sedang fokus ke film Shah Rukh Khan, Jab Tak Hai Jaan. Let alone flirty moment. Being friend is not about daily chat. Jaman sekarang, kita dapat menilai seseorang dari perilakuknya di media sosial. Ini penting, dan sangat penting. Yang dilakukan olehnya adalah melihat perilaku saya di beberapa media sosial yang ia miliki. As he said, ‘yeh hai hi uski’; seperti ini ternyata dia. Tidak ada pemaksaan untuk menjadi satu karakter.

Law of Attraction memang membuat kita saling kenal. Tetapi yang membuat kita tetap berteman adalah pilihan. Alasan yang mendukung pilihan itu bervariasi. Ada yang karena kepentingan, ada yang karena ketulusan dan masih banyak alasan lainnya.

The Triadic Closure

Seperti judulnya, triadic closure itu pasti merupakan 3 buah nodes. Tidak mungkin lebih. Namun satu nodes bisa memiliki lebih dari satu triadic closure. Kemarin saya berkenalan dengan seorang perempuan, yang ternyata adalah kekasih teman saya ini. Apakah itu sebuah triadic closure? Iya bisa jadi. Bisa juga tidak. Tergantung dari sudut pandang (vertex) mana. Ternyata dia berasal dari Pakistan (automatically Muslim, yes?) tinggal di Peshawar (a good city, historical city). Ini membuat ada node baru yang muncul. Sehingga jadi 4 nodes dengan 2 triadic closure.

First Triadic Closure

Yang pertama adalah Pak sides. Ini terdiri dari saya, seorang perempuan dan seorang laki-laki. Dua nodes tersebut berada di Pakistan meskipun berbeda suku. Hal menariknya adalah, karena kami berempat lahir pada era yang sama, sehingga obrolan pun menjadi sama. Dan tak lupa pula bahwa mereka sama-sama calon dokter (maupun fisiologis).

Tidak sedikit yang mengatakan kekhawatirannya ketika mereka mengetahui saya dekat dengan seorang pria dari Pakistan. Ada yang bilang orang-orang Pakistan tidak dapat dipegang omongannya. Mereka tidak baik, dan semacamnya. Namun diberi penawar oleh perempuan ini. She’s quirky, she’s smart, enthusiast and so poetic.

Second Triadic Closure

Ini merupakan weak connection. Jika yang pertama tadi adalah yang kuat, karena begitu banyak persamaan di dalam segitiga tersebut. Di sini, segitiganya lemah karena posisi saya yang memiliki kelemahan di salah satu vertex. Vertex saya dengan teman saya lumayan kuat, namun jika menggunakan parameter yang sama dengan yang pertama, maka bisa jadi lemah juga.

Okay that’s it. It’s all about triadic closure. Nothing personal. The key points are Newton Law, whatever you do will back to you, like Karma does. Law of attraction coming to explain why I can get such friend. Lastly, the triadic closure is to show you the example of it in real life.

Quite a Farewell: A Story

Berakhir.

Darimana ya aku harus memulai catatan ini? Mungkin untuk mendukung catatan sebelumnya bahwa bisa saja ini kali terakhirnya aku menulis di sini, untuk berbagi rasa. Aku menulis dengan judul sebuah cerita tentang perpisahan bukan untuk pamer, atau mengenalkan seseorang kepada teman-teman atau para pembaca, karena aku tidak kuat untuk menerima rasa yang ada pada saat itu.

Mungkin dugaan bahwa aku adalah seorang yang ekspresif, kurang tepat karena sebenarnya aku adalah seorang pemuja. Aku bisa saja memuja kamu tanpa sadar atau tanpa justifikasi yang jelas, hanya karena aku yakin mengenai kamu.

Masih Mengikuti Akun di Instagram

Ada yang bilang, “Kamu ngapain sih masih follow IG dia?”

Aku mau memberi jawaban. Bahwa niat dari awal adalah untuk menjadi teman, bukan masuk di dalam lingkaran setan (stranger-friend-lover-stranger). Aku selalu berusaha untuk menepatinya, tetapi kebahagiaan itu terlalu berat untuk ku simpan sendirian. Aku ingin berbagi hal-hal yang indah, sebuah pengharapan yang dapat direalisasikan untuk menjadi kenyataan.

Instagramnya masih ku ikuti karena aku mau membuktikan bahwa niatku dari awal hingga akhir itu jelas, ingin jadi teman, teman dekat yang bisa dijadikan tempat berdiskusi, atau menjadi orang pertama yang diingat ketika ingin bercerita. Sesederhana itu.

Rasa Cemburu

Mungkin peletakan identitasku sebagai seorang ‘fan’ ada benarnya. Cuman, ada rasa yang tidak bisa pula aku lawan sendiri. Rasa cemburu. Aku cemburu ketika ia bersenda-gurau bersama teman-temanku yang lain. Aku cemburu ketika ada seorang wanita yang selalu ia bawa pergi kemanapun, yang ia genggap tangannya, bahkan ia izinkan untuk membaca ‘Stranger’ dari Albert Camus.

Ya bukan masalah bisa baca atau tidak, tetapi mendapatkan keistimewaan seperti itu sangatlah langka. Seorang yang cukup dingin mengizinkan orang lain untuk memasuki dunianya, adalah sebuah bukti nyata bahwa ia ingin orang itu mengenalnya lebih dalam.

Iya. Aku iri pada orang tersebut.

Hingga detik ini aku masih belum melupakan dia. Bahkan ketika malam malam berdua dengan lelaki lain, aku juga masih mengingat dia. Perbincangan konyol mengenai menghilangkan rasa gatal di tenggorokan mengarahkan seluruh memori ini ke seorang yang mengaku sebagai Lonely Existentialist di storial.co, salah satu situ untuk bercerita, namun lebih segmented, tidak seperti tumblr yang memiliki kreativitas tinggi. Aku juga kaget bahwa Tolak Angin bisa juga menghilangkan gatal di tenggorokan.

Rindu Menerjang

Rinduku pada malam ini pecah beserta rasa cemburu untuknya yang habis kencan pada malam minggu kemarin.

Tidak ada maksud lain, hanya sekedar rasa rindu karena sudah lebih dari 30 hari tidak ada saling menyapa di WhatsApp.

Aku sedikit merasa rendah karena ia tidak lagi memikirkanku. Karena semua yang ku anggap nyata itu adalah mimpi untuknya. Aku mungkin hanya bocah ingusan untuknya. Mungkin hanya anak bau kencur yang tidak mengerti apa-apa. Dua tahun bukan sebuah ukuran mengenai kedewasaan seseorang. Mungkin ia dewasa karena ditempah oleh pengalaman hidup, sementara aku dewasa karena pemikiran.

Perbedaan

Ia praktis. Aku tidak.

Yang sama diantara kami hanyalah fakta bahwa kami sama-sama orang aneh yang memiliki lelucon yang sama dan tingkat pengertian yang sama pula. Kalau diamnya dianggap adalah sebuah penjelasan, bagiku itu gambaran sikap bahwa ia adalah seorang pengecut yang takut untuk memberikan penjelasan.

Sebatas Essays in Love dari de Botton mengacaukan semua perumpamaan. Ia peduli atau tidak, ia ingin atau tidak… masih menjadi misteri. Aku tau kalau aku harus sesegara mungkin melupakan dirinya dan melanjutkan hidupku, tetapi aku masih belum bisa tegar, belum bisa beranggapan bahwa semuanya baik-baik saja. Dia mungkin benar, dia adalah seorang yang dengan gampang memotivasi seseorang, tetapi gampang juga menghancurkan motivasi tersebut.

Farewell

Gameover

Mungkin ia bukan tandinganku, tapi aku merasa pas. Pas untuk dijadikan seorang mentor, sahabat, abang, serta teman diskusi. Memanen bukan memangsa.

Mungkin, aku dengan gampang menyuruh seseorang untuk move on, karena mereka tidak cocok. Tetapi untuk hal ini, untuk satu waktu ini, aku tidak yakin aku akan bisa bertemu dengan orang yang pas. Karena aku merasa itu terjadi hanya sekali.

Mungkin aku dan dia bukan paket komplit seperti yang diutarakan oleh seorang teman. “Kalian berdua itu paket komplit.”

Cibubur, 23 Januari 2017.

x0x0,

with full of shreds,

Jenis-jenis Cinta

Jenis-jenis Cinta

Sudah berapa panjang aku menulis sebuah surat cinta untuk si anak bungsu. Namun MacBookPro ini bermain denganku, ia lelah, lalu menghapus semua cache yang ada. Lantas aku bisa apa? Mungkin aku disuruh menulis sesuatu yang baru. Sebuah perspektif yang harus aku sajikan untuk para pembaca, yaitu jenis-jenis cinta. Dari Shooting Range dan Susu akhirnya aku ubah judulnya menjadi jenis-jenis cinta. Aku tidak pernah bosan untuk berinteraksi dengan orang yang punya pengetahuan banyak.

Berpola

Setiap yang terjadi di dunia ini, memiliki pola. Bagaimana perasaanku pada Wolfie yang hampir sama dengan perasaanku terhadap MeaKer, namun berbeda dengan rasa yang ada dengan yang kemarin. Setiap orang unik, namun ada spektrum yang dapat memberi penjelasan terhadap kelas-kelas yang ada.

Misalnya orang yang suka seni, atau literatur, akan tergabung dengan sendirinya, dan itu masih bisa ditutupi. Orang yang puitis akan paham dengan orang yang puitis pula, karena setiap kata itu memiliki makna. Baik berupa sindiran, atau sesederhana kiasan yang bermakna positif.

Aku ingin membuat surat cinta itu lagi, tapi karena satu dan lain hal. Biarkan surat cinta itu aku ucapkan di dalam bait-bait doa yang aku sampaikan, khusus untuknya. Pada bagian ini, mari kita berbicara mengenai cinta, entah bagaimana itu wujudnya, pokoknya cinta.

Love is lust, but lust is not love.

But Lust is not Love
Lust

Aku membahas ini lagi. Sebenarnya seharusnya semua orang bisa membedakan antara cinta dan nafsu. Bahwa hawa nafsu itu sebenarnya adalah sebuah bonus khusus dari cinta. Because we can’t say dirty things to stranger in the name of love. Cinta itu adanya pada bagian atas tubuh, dari hati hingga otak. Jadi wajar saja, otak dan hati sering berantem, karena mereka melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda.

Hati selalu merindukan pelukan hangat, sementara otak yang bersinergi dengan mata, selalu menjadi buta ketika hatinya terlalu nyaman, atau terlalu gusar.

Love is blind.

Tidak, cinta itu tidak buta. Hanya saja ketika jatuh cinta, kecendrungan manusia menjadi lebih bego itu ada. Mlongo. Akal pikiran tidak dapat berjalan panjang, bak motor 2 tak, cepat lelah, tapi daya tahannya tinggi. Orang jatuh cinta itu ya seperti itu, mikirnya ga panjang, tapi pasti ga pernah bosan dan lelah untuk menyatakan bahwa ia sedang jatuh cinta. Ia begitu mencintai orang tersebut, sehingga terkadang mengganggu kenyamanan orang tersebut.

Bahwa cinta itu seperti kamu mendapat barang baru, dan kamu sangat menghargainya dengan harga tertinggi, misal, mainan… hinga kamu bisa membawanya tidur bersamamu. Cinta itu murni seperti anak-anak yang belum paham arti dari baik maupun buruk. Seperti seorang anak mendapatkan seorang teman bermain, akan selalu bermain bersama, akan selalu menanyakan kabarnya.

Love is friendship.

Ini yang sempat menjadi perdebatanku dengan beberapa orang. Karena entah dari mana, istilah friendzone itu hadir. Menurutku tahta tertinggi dari sebuah hubungan itu adalah sahabat. Contohnya, aku bisa cerita apa saja ke sahabatku, namun belum bisa aku ceritakan tentang itu semua ke pasanganku. Selanjutnya, aku selalu kesal jika ada yang mengatakan bahwa apa yang aku lakukan itu disebut friendzone. Bahwa sebenarnya aku masih memiliki kesadaran yang penuh dan menjadikan seseorang di zona pertemanan, padahal ada intensi lain, itu adalah hal yang kejam. Sejujurnya aku terbiasa menutup diri dari orang yang aku merasa tidak nyaman, jadi friendzone? Please… tidak pernah ada di dalam kamusku, karena jika kita tidak bisa menerima dia sebagai teman, bagaimana kita bisa menerimanya sebagai pasangan? Maybe just for a hookup? Your answer.

Love is accepting.

Aku masih ingat ketika mendiskusikan ini di sebuah warung Indomi, di Barel (batas rel) Depok. Waktu itu ada dengan ngalor ngidul, kami membahas mengenai gay, atau homoseksual. Salah satu temanku berkata, ‘Cinta itu Penerimaan.’ aku tertegun… Menurutku poinnya benar, seorang Ibu harusnya mencintai anaknya tanpa terkecuali, mau anaknya memiliki kendala fisik (cacat) ataupun kendala mental. Oleh karena itu aku selalu memasukkan poin ini jika aku merasakan sesuatu terhadap lawan jenis. Jika aku bisa menerimanya, berarti aku, setidaknya bisa mencintainya. Namun, di dalam hubungan itu ada fase yang tricky, yang biasanya disebut dengan kepercayaan.

Love is trust.

Trusting them not to break it
Love is trust

Aku pernah merasa tersindir dengan tweet seseorang. Orang itu memang orang yang penting bagiku, setidaknya pada masa itu. Jika seseorang sudah memberi kepercayaan, maka jaga kepercayaan itu. Waktu itu aku sesumbar, bagiku, ia adalah duniaku. Aku tidak perlu tau mengenai harga index saham, atau kabar politik di Indonesia, karena dia akan memberitahuku, sederhana, ia adalah duniaku.

Ibaratnya Gaurav (Fan, 2016); Woh sirf star nahin hai, duniya hai meri. Jadi menurutku wajar saja seseorang mengumbar perasaannya, hanya saja bukan perasaan depresi, seperti menanti tiada akhir. Selama kamu jatuh cinta, kamu boleh memberi tahu dunia, karena dunia juga sebenarnya tidak akan mengambil pusing. Namun ada beberapa persepsi mengenai hal ini, ada yang lebih suka untuk tidak sesumbar.

Sesumbar jika hanya sekedar appraisal, menurutku wajar. Seperti ketika kamu berkata bahwa pasanganmu adalah yang terbaik, dengan alasan tertentu. Aku rasa itu wajar. Karena tidak ada yang salah tentang itu, karena kamu bangga padanya, sehingga kamu rasa dunia harus tau. Yang salah adalah mengumbar kemesraan, atau biasanya disebut PDA.

Love is KEPO.

Ini adalah sakta paling normal rasanya. Setiap orang pasti punya tendensi untuk kepo terhadap orang yang disukainya. Jujur, aku jarang mempraktekkan ini, baru sekali rasanya. Karena menurutku berhadapan dengan orang yang memiliki luka, apalagi luka itu belum kering berbeda dengan orang yang sengaja membuat luka tersebut. Sepanjang sejarah aku suka sama orang, aku tidak pernah kepo. Karena aku sudah menerimanya, dan aku percaya sama dia.

Ayo, kamu juga pasti seperti itu kan, ada yang namanya Law of Attraction. Kamu gak mungkin suka sama seseorang kalau kamu tidak anggap dia adalah orang yang baik. Namun perlu diingat bahwa terlalu kepo itu tidak baik, bisa mengarah ke kecemburuan, atau malah lebih parah, hilang rasa.

Love is jealousy.

Dulu, aku tidak percaya akan hal ini. Dengan mantanku kemarin, aku anjurkan dia untuk berteman dengan wanita lain, sehingga aku merasa lebih ringan. Maklum, dia tipenya setia, tapi rempong juga. Aku selalu bilang padanya, aku percaya sama kamu, aku percaya hatimu… tapi sepertinya dia tidak percaya dengan ucapanku. Akhirnya aku merasakan sendiri, rasa cemburu itu. Tidak enak. Mungkin jika pasanganmu dekat dengan lawan jenis, kamu tidak harus cemburu, harus dianalisis dulu duduk perkaranya. Peraturan yang harus diingat adalah, kita tidak boleh menyalahkan pihak ketiga, dalam hal ini adalah teman/lawan jenisnya. Percayakan saya pasanganmu, namun jika ada yang mencuri perhatiannya, pasti kamu langsung kalang kabut.

Manusia seperti itu memang, tidak ingin berada di posisi terancam. Pasanganmu tidak hanya pemuas nafsu belaka. Ada banyak hal yang harus benar-benar diperhatikan, salah satunya adalah perhatian. Jika ada wanita/pria yang memberi perhatian kepada pasanganmu dengan cara yang berlebihan, kamu harus waspada. Jadi rasanya cemburu itu normal. Yang tidak normal adalah cemburu buta. Tanpa alasan yang jelas kamu cemburu. Lah… tidak ada yang tahan, kecuali orang yang memang suka dicemburui. Sama-sama pencemburu memang cocok, tapi kalau tidak, salah satu harus berkorban, demi kelancaran hubungan.

Aku Seorang Visioner

Aku seorang Visioner
Eye can see

Visioner

Ini adalah cerita lucu, tapi juga memilukan sih.

Jadi begini… aku masih ingat ketika pertama kali aku ajak Wolfie untuk tau masalah internal di dalam kantor. Terus dengan bullshit yang biasa dia ucapkan, dia berhasil menahan beberapa orang yang sudah frustasi untuk melanjutkan proyek tersebut. Kenapa aku bilang bahwa aku adalah seorang Visioner?

Yakin

Iya. Aku yakin dia bisa jadi pemimpin yang bagus, setidaknya bukan pemimpin yang bermain tunggal untuk menjualkan produk. Terbentuklah sebuah task force, yang aku dan Wolfie prakasai. Walaupun waktu itu dia terlihat seperti sibuk tidak jelas. Aku yakin, dengan bantuan bantuanku dia bisa menunjukkan skill yang dia miliki.

Aku utarakan hal ini ke salah seorang yang memegang posisi finance dan merangkap jadi HR. Pandangannya berbeda, dia merasa Wolfie belum cukup mampu untuk menjadi seorang pemimpin. But my heart told me so

Ada aral yang melintang, wajar sih untuk permulaan. Namun ini sepertinya kali ini fatal. Pada tanggal 3 November tersebut, aku masih ingat aku meninggalkan kantor pada siang hari karena terlalu sensitif. Alasannya sih aku tidak melihat sense of belonging pada beberapa karakter. Faktanya adalah aku bagian dari tim, tapi kenapa tidak diacuhkan? Kenapa ditinggal rapat begitu saja dan membuat aku merasa seolah dilupakan?

Aku Seorang Visioner

Sejak saat itu semuanya berubah. Bahkan Wolfie juga berubah. Ntah ada apa yang membuat dia seperti itu. Terus per hari ini aku mendengar diskusi antara Wolfie dan Pak Direktur. Pak Direktur sendiri yang mengucapkan, ‘Lo latihan jadi CEO lah di Homecare, kalau beneran bisa, lo jadi CEO-nya.’

Dang.

Mau loh ya aku obrak abrik dunia sekitar. Itukan pendapatku dari awal karena aku melihat potensi di Wolfie. Tapi malah seolah diragukan tidak dipercaya… Semoga dengan pengorbananku meninggalkan kantor, Wolfie nantinya akan lebih cemerlang.

Terkadang, tidak perlu di Kenobi, sesederhana Homecare, kalau mau, bisa berkolaborasi. Karena, aku dan dia hanya punya 2 pilihan, disatukan, atau dipisahkan.

Perusahaan sudah mengambil keputusan untuk memisahkan, karena tidak mungkin untuk disatukan. Terlalu besar daya tolaknya.

 

Negara Api Menyerang

Negara API Menyerang.

Meme Avatar
Negara Api Menyerang

Well. Kalian pasti menunggu tentang Negara API. Coba tanya saja bagaimana Katara dan Sokka bagaimana mereka bertahan dari serangan Negara Api. Negara api menyerang jika ada kesempatan, bukan tanpa taktik.

Ah. Skip.

Berhenti Kerja 

Brief News.

I got terminate in office. From low chance to rare, an epic rare. Been discussed with some people.

Okay okay… pakai bahasa Indonesia.

Setelah diskusi dengan beberapa orang, akhirnya aku ambil kesimpulan bahwa episode 2 ini adalah episode terakhir dari perjalanan yang singkat dan menyenangkan.

Singkat dan menyenangkan

Singkat, iya pasti.

Menyenangkan? Hmm… penuh intrik. Menurutku pribadi, Wolfie itu adalah orang yang menyenangkan. Dia terbuka untuk semua diskusi, apalagi yang menyenangkan untuk dia. Cuman yang aku kurang suka adalah caranya dalam menghadapi, eh, mengatasi ini kurang bagus.

Dia cendrung melarikan diri dengan cara seolah tidak terjadi apa-apa. Terkadang di dalam jiwanya berkecamuk, tidak ada yang berjalan sesuai dengan keinginan dia, lagi dan lagi, dia merasakan sakit (hal ini pernah dibilangnya di mobil).

Orang orang Kepo

Tiga orang.

Ada 3 orang yang bertanya langsung padanya. Dimulai dari Pak Direktur. Ibu Keuangan, serta Ibu Kordinator.

Pak Direktur:

“Wolfie… Lo itu sama si Fan gimana sih?”

“Ono opo toh mas?” responnya datar.

“Iya, gue gak mau lo buat kacau karyawan gue.” Jelas si Pak
Dir.

“Wis toh mas, fans doang mas.” Jawabnya, sumringah.

Udah biasa. Aku sih gak keberatan dianggap fans, toh aku
juga gak minta balasan yang setimpal, aku hanya ingin bisa bersama dengan dia
dalam beberapa waktu tertentu.

Ibu Keuangan.

“Mas, lo maunya apa sih sebenarnya?”

Wolfie tersenyum sumringah, lalu menjawab “Apa mbak?”

“Lo jangan pura-pura ga tau lo. Gue beri nih.” Si Ibu mulai
terpancing emosi.

Dan akhirnya Wolfie berhasil kabur. Serius deh. Jangan Tanya dia, karena dia juga bingung, takut
maju. Ada kesempatan lagi Ibu Keuangan bertanya ke Wolfie, di suatu tempat, salah satu keramaian di Senayan.

“Mas, gue tau lo tau situasinya mas. Sikap lo gimana mas?”
Tanya si Ibu.

“Hehe. Iya sih Mbak. Tapi aku dan dia tidak ada apa-apa.
We’re nothing.” Jawabnya.

“Ya kalau gitu, lo harus bisa komit dong mas. Jangan ganggu
anak orang. Kasihan.”

Sial. Aku gak pernah ngerasa diganggu sama Wolfie. Aku
senang direpotin sama dia, aku senang bisa bekerja sama dengan dia.

Ibu Kordinator.

Gaya bicara ibu ini seperti complain,

“Mas. Kamu itu loh harus jelas mas. Aku mau minta tolong
sama fan ga bisa mas. Harus mas yang bilang sama dia.”

Oh gosh.

Damn public opinion.

Itu semua aku ketahui dari Ibu Keuangan. Ibu satu ini sangat
peduli dengan ku, dia tau bagaimana perasaanku terhadap Wolfie. Cuman, sudut
pandang saja yang berbeda, aku ingin menjadi teman Wolfie karena menurutku
menjadi seorang teman lebih nyaman dibanding menjadi seorang pacar atau
kekasih.

Aku berhenti kerja, karena tidak lolos masa percobaan. Aku
tidak merasa sedih, karena aku sadar, kerjaku belum maksimal, karena aku selalu
melihat kebutuhan mereka, bukan job desc yang ada padaku. Aku senang karena
tidak akan ada konflik dan tekanan di kantor.

Hari ini, hari Senin. Aku melihat Wolfie dengan tampang
biasa saja, seperti kelelahan, mungkin abis lari kali ya. Cuman hari ini aku
melihat dia bawa tumbler, ntah itu dari pemberian atau emang kesadaran bahwa ia
butuh minum.

Ibu Keuangan dan aku mengobrol sebentar via si hijau.

Salah satu alasannya kenapa aku masukkan ke dalam tulisan
ini adalah:

Beliau bertanya apakah dia, Wolfie, menyapa pada hari ini.

Aku kaget. Aku jawab, tidak.

Lalu ditambah,

Kmrn tuh anak hbs gw betein..scr
mo cr gara2 ma lo lg..sial…

Sial.

Ini apa lagi?

Tolong… Gue gak merasa dia cari gara-gara… dia itu hanya
seorang pencari… a wanderer.

Sign off.

Mau pulang dulu.

Kapan-kapan kita bertemu lagi yah.

Episode 2 menjadi Episode Terakhir

Episode 2

Mumpung lagi senggang, aku bercerita deh episode 2. Itu terjadi tidak lama setelah episode 1, yaitu tanggal 14 November 2016. Waktu itu, aku ditengah kegusaran, karena semuanya terasa absurd. Mau marah, tidak bisa, tapi juga tidak bisa baikan… ya intinya di kantor tertekan. Tapi tak ku sangka episode 2 menjadi episode terakhir dalam cerita ini.

Mumpung hari itu dosen yang suka Chelsea memulangkan kami lebih cepat, akhirnya aku berinisiatif untuk datang ke Wolfie. Modal nekat aja sih, sekali udah diajak, ga perlu undangan untuk kedua kalinya. Karena Wolfie seperti itu memang orangnya.

‘Mas dimana?’ aku kirim pesan melalui platform si hijau, WhatsApp.

Tidak terkirim. Langsung aja deh telfon, pikirku. Damn, my phone is broken… setiap berapa detik, mati gitu telponnya. Kan risih juga. Intinya dia tidak sibuk, dan bisa diajak untuk curhat.

“Di Kenobi.” Balasnya.

Yaudah. Aku langsung terbang ke Kemang, cukup 30 menit dari Salemba ke Kemang.

I told him whatever bugging in my mind. He responded it nicely.

Mungkin untuk episode 2 ini tidak sepanjang yang sebelumnya.
We’ve been talked like a friend, known
for ages, anyway.

Intinya adalah untuk mengalahkan ego, kalau kita harus bisa
memaafkan lebih dulu, terus bertanya, apakah ada yang bisa dibantu. Jujur,
untuk hal itu, masih terasa sulit bagiku, karena aku sulit untuk meminta maaf,
kecuali aku benar-benar salah…

Budaya Organisasi

“Mas, gimana sih culture di kantor, yang sebenarnya?” ternyata pertanyaan ini cukup dapat menguak
karakter seorang Wolfie.

“Sebenernya gue mau buat culturework hard, play hard. Misalnya Thursday Pizza.” Aku mengerti, tanpa pembahasan lebih lanjut. “Tapi ya ga bisa jalan di sana.” Imbuhnya.

Iya. Aku juga merasakan seperti itu. Untuk membiasakan hal semacam rapat saja belum bisa. Dan ya tentunya kaku. Di kantor itu kaku. Kami berpisah di Benhil lagi. Dekat dengan kantor, dia
mengambil barang yang ntah apa itu… kalimat terakhir yang dia bilang adalah…”kalau ada apa-apa dipikiran, share aja.” Itu yang membuat aku mulai percaya, bahwa dia ada sedikit
peduli… namun semua itu hancur karena Negara api menyerang. Soon! Stay tuned.

Episode 1

Kali Pertama

Sudah berapa lama ya aku tunda menulis perihal episode pertama ini. Ada banyak gangguan yang aku alami, diantaranya adalah ketidak-stabilan rasa (mood) hingga hilangnya kepercayaan terhadap suatu hal yang harusnya tidak boleh hilang sama sekali.

Baiklah, langsung aja ke inti cerita, yang aku sebut sebagai episode 1. Sebenarnya banyak epilog yang sudah terjadi, tetapi epilog hanya seperti sebuah kameo di dalam cerita lainnya.

Wolfie dan Aku.

Hari itu adalah hari Pahlawan Nasional, seharusnya aku ada jadwal kuliah, cuman karena melihat jalanan yang macet, membuat otakku jadi lebih kusut. Aku tidak yakin akan tiba di kampus tepat sebelum pukul 7 malam.

Wolfie, seperti biasa, sibuk dengan ponselnya. Ntah apa yang dia lakukan dengan iPhone 5S berwarna putih itu. Beberapa kali aku Tanya,

“Mau kemana mas?” hanya mendapat angin… tidak ada jawaban sama sekali atas pertanyaan itu.

Terus Berusaha

Dia memang seperti itu orangnya, harus konsentrasi penuh pada satu kerjaan, mungkin saat itu Wolfie sedang menunggu orderannya diterima oleh Go-Jek. Aku kesal, kelimpungan, aku merapat ke salah seorang teman kerja, yang biasa dijadikan tempat curhat khusus Wolfie.

“Mba, gue pengen bunuh anak itu deh.” Dengan tampang kesal aku menggerutu. Lalu dijawab, “Mungkin dia ga denger kali, coba Tanya lagi aja.”

Ogah. Aku tidak mau terkesan mengemis, aku harus jaga image. Akhirnya akupun bertanya kepada kerabat kerja lainnya, “Itu mas Wolfie kemana?”; dengan sigap ia menjawab, “Gak tau aku mba.”

Zret. Wolfie muncul di daerah kami. Sontak aku dan temanku bertanya, “Mas, mau kemana?” Masih saja. Dijawab dengan diam. Gak lama setelah itu, akhirnya dia merapat… sibuk dengan laptop. Aku Tanya lagi, “Mas, mau kemana sih?”

Dia menjawab dengan penuh senyuman, “Rahasia.” Itu adalah Wolfie yang merasa nyaman, dia bisa bertindak seperti anak-anak; terkadang. Okay. Rahasia. Padahal, bisa diasumsikan, dia akan pergi ke Kemang.  “Mau ngapain?” aku Tanya lagi.

“Ada deh.” Jawabnya. Mungkin bagi beberapa orang, jarang melihat Wolfie seperti ini. Biasanya dia itu lugas, tidak perlu bermanis seperti ini.

Episode Pertama

Aku pun mulai mengatur arah dan tujuan untuk malam itu. Mungkin bisa ke GI, karena hari itu tanggal genap. Tuk tuk tuk, aku berjalan… belum keluar dari pintu kantor… dia nanya, “Mau ikut?”

Refleks, aku langsung jawab, “Ayuk!”

Ketika sebelum turun, aku bertanya, “Eventnya dimana Mas? Ditempatmu kah?”

“Iya, di Kenobi.” Jawabnya. Lalu kita turun, dan ditanya lagi, “Seriusan mau ikut?”

“Mas, aku pake mobil. Go-Jek nya bisa dicancel mas.”, dia juga kebingungan, “Aduh, iya yah.”

“Mas, kamu nyetir ya.”

“Aku gak bisa.” Jawabnya singkat.

“Serius mas?” aku gak percaya kalau dia tidak bisa menyetir.

“Serius.”

Menuju Kemang

Detak jantung bisa dirasakan, sangat cepat. Bahkan aku juga susah untuk mengontrol kaki untuk menginjak pedal gas maupun rem. Untungnya hanya 2 kali saja…

Mungkin kalau 3 kali, dapat piring cantik, atau Wolfie turun dan pesan Go-Jek lagi. #whew

Mobil diarahkan oleh Wolfie, dia memberi arah lewat Senayan, tapi sayangnya begitu padat, macet. Akhirnya aku buka pembicaraan, “Mas, yakin lewat sini, mumpung tanggal genap loh.”

“Iya, aku biasanya lewat sini.” Jawabnya.

“Cek maps deh mas, biar bisa pasti lewat mananya.” Sambutku.

Dia buka aplikasi Waze, da Waze menyarankan untuk lewat Sudirman. Hell yeah… someone is just not listening.

Kena macet lagi, dari depan JCC (Ladokgi) ke Semanggi. We were cursing a lot.

Sampainya di Kenobi, sudah ramai orang… aku berpikiran bahwa aku cuman mengantar dia, ternyata dia juga mengajak ke event tersebut. Event itu dinaungi oleh cafestartup.net;

Meetup Cafestartup

Agak telat, hampir jam 7 baru tiba di sana. Tapi, acara tetap berlangsung, secara dia adalah moderatornya. Akhirnya aku ke Kenobi juga, melihat tempat yang paling ia sukai saat ini.

Acara berakhir sebelum pukul 10. Pada pukul 10 secara operasional, gedung sudah dinon-aktifkan untuk pengunjung. Saat itu masih ramai, diakhiri dengan makan malam di emperan toko simpang La Codefin (sekarang Lotte Mart ya?)

Done. Selesai.

Pukul 11.11; kami berdua baru masuk ke mobil. Tagihan parkir sejumlah Rp. 25.000,- yang dibayarkan oleh Wolfie. Yes, he should.

Setelah masuk ke mobil, Wolfie mulai pembicaraan,

Let’s talk about philosophy.”

Aku rasa di sini aku gagal, menjadi teman ngobrol philosophy yang dia inginkan. Wolfie is being weird. Jam segitu, ngobrol yang berat,

“Mas, yakin ga mau bawa mobil?” aku masih menggodanya. Dia tetap bilang, “No. I can’t. Even my ex-es can’t force me.”

“Mas, ini matic loh.” Masih tetap usaha.

Next time ya.

Selentingan usaha untuk menyuruh dia menyetir. Tapi gagal, lalu dia kembali mengajak ngobrol filsuf.

Philosophy Time

No, we can’t discuss about philosophy at this hour. Udah malem mas,” sanggahku. “No, this is the right time.” We argued a bit there.

Oh ya, aku lupa mengatakan bahwa selama perjalanan ke Kemang, musik dimainkan oleh Wolfie, dengan iPhone 5S tentunya. Morrissey can’t be avoided. Ga bisa dielakkan, dia memainkan beberapa lagu Morrissey.

So, let’s begin with essential question. What is your purpose of life?” Plis, udah jam 11.18, ngomongin hal yang berat, yang perlu perhitungan, kalau salah, bisa menghasilkan hal yang salah juga kan? Aku takut beropini.

You’re the one that has the knowledge, Mas duluan lah yang mulai.”

Ah. I can’t that’s a must.”

Akhirnya aku kalah.

Yes, indeed, he is undisputed baby.

Happiness. I want to be happy in my life.”

What is happiness?”

Dang! Come on… really?

Aku balas dengan seadanya. Bahwa kebahagiaan itu adalah kondisi dimana kita masih bisa berbahagia meskipun ada sedih, kecewa dan lainnya.

“Kalau begitu, tidak akan bisa tercapai.” Asumsinya. Oh ini tidak bisa, aku harus membalasnya. “Tapikan ada ambang batas, Mas.” Ujarku.

Legacy

Okay. Mungkin dia terdiam. Lalu aku alihkan, “And how about you?”

Me? I want to make a legacy.” He said.

How?” balasku.

I don’t know. Still figure it away.”

Aku sudah dapat melihat, bahwa dia mungkin untuk mewujukan tujuannya itu. Dia memiliki ilmu yang banyak, otaknya juga cerdas, dia hanya butuh sedikit dorongan untuk membuatnya jadi kenyataan.

Begitulah episode pertama. Penuh dengan ketidakjelasan, karena semuanya memang tidak jelas.

Short Time but so deep

It’s like a lot of episodes

I’m never get bored.

What if the person that you know for short time but it feels so deep? What will you do? Aku gak akan pernah bosan untuk bercerita tentang Wolfie. Wolfie bukan Cancer Guy, bukan juga uv (kalau ada yang ingat cerita tentang uv) dan juga bukan MeaKer, suami orang, yang istrinya memberikan kado ‘terindah’ pada saat ulang tahun kemarin.

Wolfie ini adalah orang yang aku (sesalkan) temukan di saat yang tidak tepat dan di tempat yang tidak tepat pula. Ketemu sama dia di Kantor. Itu saja sudah susah, untuk dapat mengembangkan hubungan, tapi apa daya… faktanya memang seperti itu.

Dengan masa lalu yang cukup tidak indah itu, membuatnya cendrung mencari naungan di mana tidak ada orang yang akan bertanya tentang masa lalunya. Dia hanya ingin dianggap sebagai orang normal yang memiliki segudang mimpi.

Wolfie

Untuk saat ini, aku hanya ingin menjadi teman untuk Wolfie. Jadi teman, yang dapat bersahabat dengan dia, serta masa lalunya, meskipun hingga kini dia belum bisa bersahabat dengan masa lalunya.

Beberapa minggu yang lalu, aku masih dapat melihat tingkah serta gerakan konyolnya, namun sekarang sudah tidak bisa lagi. Ada yang menahannya untuk menghiburku. Aku gak tau apakah itu orang lain, atau hanya sebatas tindakan wajar seorang bos atas perasaannya.

Buku menjadi gerbang pertama, sebuah tiket, yang aku gunakan untuk masuk ke dalam dunianya.

Well

Maaf, aku cuman bisa menulis sampai segini saja. Sebenarnya intinya itu, kemarin hari Kamis adalah episode pertama, dan hari senin kemarin episode ke dua.

Nanti secara detil akan diceritakan dalam satu cerita sendiri, yang mungkin agak sinematis, tapi, yang jelas, sekarang aku mau sampaikan…

I was the first person in my tremendously huge family to get a divorce. I think a lot about freedom, how we as a human should be able to confront facts or choices, to be free from bad faith.

Itu aku dapatkan dari sebuah situs speed-dating, di sini. Di satu sisi, ada penyesalan yang dia rasakan, tapi disisi lain, dia juga tertawa akan penyesalan itu, contohnya seperti yang ada di atas.

Akhirnya aku sign up, dan iseng aja cocokin kecocokan, dan awalnya 46%, lalu setelah menjawab pertanyaan yang banyak itu… akhirnya jadi 86%, lalu karena sok pede, jawab bagian dating, dan banyak salahnya, jadi 84%…

Mungkin ini akan jadi game yang menarik untukku, bukan lagi clash royale. LOL.

Sign off. Harus kerja. Hehe.

Short time but it feels so deep in my heart.

Wolfie and the mysterious case

An Intro

I am confused. I’d like to talk about The Great Wolfie and Mysterious case. Why it has to be a mysterious one? Because he is so mysterious and full of secrets. Aside his divorce, no one really knows about him unless he himself and his family.

The Great Wolfie and Mysterious Case

On Tuesday, I’ve been told like that. And very next day, which is yesterday, he’s so flat. Fucking flat. But I can see he’s trying to balancing both works and personal. It saddening, but it is another good action by him. He tries to justify things. Thursday… is a peak point. It’s been a week since I run-off from office, to sort my feeling out. And I have to skip class for spending the night with him. That’s the joy that I felt.

Along the way, we listen such music… most of them was Morrissey’s. I was fucking nervous, nearly bump to another car. He won’t drive, he has such trauma. We were not so ready to build a romance, we just talked and it was kind of party pooper question.

Purpose of Life

He asked, ‘What is your purpose of life?’ I don’t want to be the one that answering, except answering his call. That was sweet journey that I had with him. I will looking for another journey with wolfie. He seems didn’t hesitate to hang out with me. We are so… not mind of each other’s presence.

But it start to fade out… in office.

I hate to say that, but it is really not good one.

I hate it.

Fucking hate it.

Personally, we haven’t been close. We were just talking about things, and now he’s not responding… it’s like he’s trying to dismissing the rumor and got me desperate…

It is like a game of chess, we have to wait for what might come then we will re-strategized the attack. I don’t know what might be, but I am sure, we are so connected in a way that human can’t explain.

Me and Wolfie can do so many things even his ex can’t accomplished. I am confident of that.

Because… things that Wolfie needs is… a comfort.

The Great Wolfie and Mysterious Case
Hug

Wolfie can be a huge person. He could make his legacy… I believe with that, as long as the alcohol just be his friend, not his enemy.

 

In an uncertainty zone… hereby I said… Wolfie, I love you… for your best.

To the Wolf…

Have you wondering how lovable you are?

Have you wondering you’re a diamond, even if your loved one ditched you away?

You’re so important to certain person, even if your loved one decided to leave you away.

I just want you to know that life is not end, even if you’re sorry for what happened. I don’t know how long my patience will be, but I am willingly to help you, I want to see you in your prime condition. I don’t want you keep blaming your self for what happened. Forgive your self… Let another journey embrace you, let your future create what you might be like.

I can’t deny that I have certain feeling for you. But the most important thing that you need is a friend who will stay with you, together. Let’s jump in a land of nowhere, and just giggling much. You can cry if you want to. I will hold you for wherever it might come.

I heard that today you’re sick. I hope there are no serious sickness in your body. I am freaking worried about it right now. Godspeed…

Don’t forget dear, you have to hunt on Nov, 14th, 2016.

Please.

Be.

Healthy.