Posting Pertama Tentang Pakistan

Saya tidak pernah berpikir saya akan mencintai Pakistan sama seperti saya mencintai India. Saya suka India karena saya melihat cinta di setiap sudut negaranya. Alasan utamanya adalah Bollywood dan Shah Rukh Khan. Pada saat ini, pada tahun 2017, saya sangat mencintai Pakistan. Mungkin ada banyak kontroversi di sana, saya akui, beberapa orang Pakistan tidak pernah berpikir ke depan, seolah mereka akan mati besok. Saya suka Pakistan seperti Veer cinta Zaara. Aku cinta Pakistan hanya karena sahabatku, Faizan. Hanya seorang dokter, tapi menolak dipanggil sebagai satu, dia suka dipanggil Faizan, namanya. Itu yang paling berarti baginya.

Continue reading “Posting Pertama Tentang Pakistan”

Big Bad Wolf in Indonesia

Yeah. It is… As you heard about it. Big Bad Wolf ada lagi di Indonesia, tepatnya di Serpong (alih alih mau tulis Jakarta, tapi sudah bukan daerah Jakarta). Apa sih Big Bad Wolf itu?

Big Bad Wolf Book Sale adalah pameran buku terbesar di dunia dengan diskon 60-80%. Pertama kali hadir di tahun 2009 di Kuala Lumpur lalu diadakan setiap tahun di beberapa kota besar di Malaysia. Sekarang, Big Bad Wolf hadir di Jakarta pada bulan April ini, tentunya dengan misi yang sama: meningkatkan minat baca dengan buku-buku murah berkualitas tinggi.

Pertama kali saya ke Big Bad Wolf (BBW) itu pada tahun 2016 tahun lalu, sekitar bulan April-Mei, ya tidak jauh beda lah jadwalnya dengan sekarang. Di jaman yang selalu diintervensi dengan media sosial dan jejaring sosial lainnya, membuat waktu baca menjadi lebih sedikit. Tak jarang saya menjalani momen membaca buku, namun tergiurkan dengan kegiatan lain, seperti cek Instagram, atau memantau para selebtwit berkicau di twitter.

Pada tahun 2016 lalu, alasan saya adalah ingin mencari buku penunjang kuliah, ya maklumlah, harga buku untuk kuliah itu mahal, kadang ada sampe jutaan. Dengan harapan itu, saya mengajak dua orang teman saya pada malam hari. Kenapa malam hari? Karena berdasarkan review yang saya baca di Internet, disarankan ke sana pada malam hari, menghindari antrian yang membludak.

Big Bad Wolf Indonesia 2016

Berangkat dari Kebon Jeruk ke daerah Veteran (Bintaro). Menjemput teman sekaligus searah. Dari sana kami bergerak menuju Bintaro, menculik seorang teman untuk mendatangi BBW. Reaksi pertama saya mengenai BBW adalah, ‘Emang ada ya event seperti ini.’ Setibanya di Indonesia Convention Exhibition BSD, saya terkagum. Ternyata banyak juga orang yang datang, dan membawa anak mereka.

Hasil berburu saya pada tanggal 6 Mei 2016 tahun lalu adalah sebagai berikut:

  1. 2 Seconds Advantage oleh Vivek Ranadive dan Kevin Maney
  2. Super Crunchers oleh Ian Ayres
  3. India Grows At Night oleh Gurcharan Das

Pada saat itu rata-rata harganya Rp. 65.000,-, kapan lagi bisa beli buku berbahasa Inggris dengan harga semurah itu? Bahkan di beberapa buku ada harganya, dalam Dollar maupun Poundsterling. Pada saat itu ada biografi beberapa aktor Bollywood, namun harganya lebih dari 100K, jadi saya tidak membelinya. Sejak saat itu Big Bad Wolf menjadi event yang saya tunggu-tunggu.

Big Bad Wolf dan Wolfie

Bagi yang masih ingat tentang Wolfie, mungkin akan saya jelaskan apa hubungan kedua ini. Selain ada kata wolf, juga ada makna lainnya. Wolfie selalu terlihat membawa Kindle Whitepaper-nya. Saya dengan iseng membawa buku 2 Seconds Advantage tersebut, dengan label harganya belum dicopot. Kalau dirunut, lumayan lama ya, 5 bulan. Dalam waktu 5 bulan itu, buku tersebut tidak ada saya sentuh, kecuali bukunya Gurcharan Das, saya sangat tertarik dengan India.

“Mas, udah baca buku ini belum?” Ya, saya, seseorang yang lebih senang berkutat dengan media sosial memberanikan diri membuka percakapan dengan seseorang yang saya anggap sebagai seorang ‘sempurna’.

“Belum. Apa itu? Esensinya apa?” Saya paparkan bahwa esensinya adalah dalam 2 detik awal pengambilan keputusan, memori berperan penting, sehingga kesuksesan menjadi lebih besar. Walaupun saya baru membaca awal-awal bukunya saja.

“Oh.” dia diam sejenak. Lalu melihat stempel harga belum dicopot, dia berkomentar. “Big bad -fucking- wolf.” ujarnya. Dia sangat fasih dengan kata-kata mengumpat seperti itu. Katanya, cursing membuat lifespan meningkat. Lalu ia bercerita mengenai buku-buku yang dia beli pada saat event tersebut.

Big Bad Wolf 2016 Aslam
Big Bad Wolf 2016

Dari segitu banyak buku, setengahnya adalah buku bertema bisnis, ada juga yang agak bertema filosofi seperti buku atau novelnya Mark Twain.

Wolfie dan Bacaannya

Ada sebuah pesan, pesan terakhir yang saya terima dari Wolfie via WhatsApp. Isinya adalah untuk agar saya membaca buku filosofi lebih sering. Dengan angkuhnya, ia tidak membalas pesan saya ketika saya bertanya buku apa yang harus saya baca, setidaknya untuk pemula.

Atas kerja sama saya dan seorang yang saya hormati dan menjadi tempat cerita saya, akhirnya saya tau, bahwa ia ingin saya membaca buku Alain de Botton yang berjudul Essays in Love, atau On Love. Akhirnya saya putuskan untuk mencari buku tersebut di Periplus maupun Kinokuniya. Jawaban mereka sama, ‘Itu buku lama Mba, udah tidak ada dijual di sini. Mungkin mba bisa coba pesan online saja.’

I did it. I purchased Essays in Love, Picador edition via Peripulus Online. One month of waiting. Menunggu buku tersebut dikirim dari Inggris memang memakan waktu, kurang lebih satu bulan, atau katanya 2 minggu (14 hari hitungan hari kerja).

Big Bad Wolf Indonesia 2017

Tahun ini diadakan pada tanggal 21 April hingga tanggal 2 Mei, atau 280 jam non-stop. Namun ada tiket VIP yang bisa masuk pada tanggal 20 April 2017. Menarik, bukan? Saya yang sudah menanti event ini, akhirnya melancong ke BSD untuk melihat koleksi buku yang ada pada tahun ini. Alhamdulillah saya dapat 2 tiket VIP dari Bank Mandiri, mungkin kesalahan sistem, karena nama saya tidak ada di daftar mereka. Tetapi diberi juga 2 tiket VIP.

Tidak VIP Sesungguhnya

Harapan dengan tiket VIP tentunya orang tidak ramai, serta buku tertata rapi di setiap meja. Namun semua itu tidak terjadi di BBWID2017, karena sudah banyak yang melakukan pembelian partai besar. Tidak tanggung, sampai 2 hingga 3 trolley (iya troli seperti di Lottemart atau Supermarket lainnya). Bank Mandiri menyediakan fast track, bagi nasabahnya yang menukarkan fiestapoin atau mengajukan kartu kredit Mandiri. Hanya saja, semuanya tidak pantas (not worthy). Karena pada akhirnya mereka juga ngantri, walaupun tidak selama antrian reguler.

Saya sendiri menghabiskan waktu sekitar 3 jam lebih menuju kasir pembayaran. Ada yang berkomentar, kasian ya yang beli sedikit tapi ikut ngatri lama. Ini hal menarik, terkadang saya sendiri bertanya-tanya, kenapa mereka pada memborong, dalam artian satu jenis buku (biasanya buku anak-anak, atau activity books) dibeli hingga 5 atau lebih. Seriously, what are you gonna do with that kind of books.

Bukannya menentang, tetapi rasanya jika buku tersebut untuk konsumsi pribadi, kenapa harus sampai 5 buah? Mungkin saja orang manajemen sekolah, ingin mengisi buku perpustakaan. Menurut saya, yang otak bisnisnya kurang jalan, kalau buku untuk perpustakaan sekolah kan bisa bulk order ke percetakannya langsung, they will give good price, for sure.

Tujuan diadakannya Big Bad Wolf Book Sale ini adalah untuk meningkatkan minat baca, baik dewasa maupun anak-anak. Tapi untuk membelinya saja perlu berkorban waktu seharian, siapa yang mau? Mending beli buku di toko buku yang menghabiskan waktu lebih sedikit. Asasnya adalah time is money.

First 3 books

Yes. You heard me. I just bought 3 books and lined up for 3 and half hours just for paying those books. Buku yang saya beli dan saya incar ada 2 jenis, pertama adalah buku-buku yang suka dibawa oleh Wolfie, mungkin Alain de Botton, Albert Camus atau author lainnya. Kedua, adalah buku-buku penunjang kuliah. Saya berpikir bahwa awal-awal bukunya pasti lebih lengkap.

Buku yang saya beli pada trip pertama adalah:

  1. Barron’s Management yang berupa kumpulan studi kasus mengenai manajemen. Cocok untuk kuliah. Harganya US$18.99 atau sekitar Rp. 252.870 dapat dibeli dengan harga Rp. 65.000 saja.
  2. Digital Economy dari Don Tapscott yang merupakan pengayaan dari edisi pertamanya yang dicetak pada tahun 1996. Harganya adalah US$34 atau sekitar Rp. 452.744 yang dapat dibeli dengan harga Rp. 85.000.
  3. The Tech Entrepreneur’s Survival Guide dari Bernd Schoner. Harganya US$26 atau sekitar Rp. 346.216 namun saya cuman membayar Rp. 85.000 saja untuk buku ini.

The other 3 books

Tidak hanya itu. Hari Senin, tanggal 24 April pada jam 3 dini hari saya pergi lagi ke sana, karena tidak bisa tidur dan ntah kenapa saya terdorong untuk pergi ke sana lagi, walaupun hari Selasa saya akan ke sana untuk ketemu sama @aMrazing.

Tidak berbeda, saya membeli 3 buah buku yang secara harga lebih murah dibanding kunjungan pertama ke Big Bad Wolf Booksale. Adapun buku yang saya beli adalah buku travel ke Mumbai serta 2 novel.

  1. Brothers at War karangan Alex Rutherford. Sebenarnya ini bukan fiksi sih, tapi dikategorikan novel, karena mungkin diberikan sedikit bumbu drama, cerita ini mengenai Mughal Empire, hanya saja menggunakan nama Moghul. Harganya 6.99 Pounds sekitar Rp. 119.032 dapat dibeli dengan harga Rp. 50.000 saja. Oh iya, ini merupakan novel berseri. Semuanya ada di sini. Surely will back to BBW for the rest, if even exist.
  2. Novel terjemahan, Meluha dari Amish Tripathi. Gak sempat cek harganya di Gramedia, tapi sering lihat di bagian novel. Novel ini dapat dibeli dengan harga Rp. 15.000 saja.
  3. Buku travel Discover Mumbai dari Shalini Sinha. Buku ini saya beli dengan harga Rp. 65.000, ya buku travel yang memiliki kertas glossy rasanya pantas saja dibeli dengan harga segitu,

That’s it. My book journey. Meskipun banyak yang belum saya baca, tapi setidaknya memiliki lebih baik dibanding tidak memiliki dan tidak bisa membacanya. Oh iya, bagi yang tertarik dengan membaca buku, silahkan perhatikan Books and Beyond kalau lagi membuat event Blind date with books. Biasanya sekitar bulan Februari.

Blind Date with Books

By Books and Beyond

Memang sih kita tidak tau buku apa yang akan kita beli, tetapi dengan harga Rp. 99.000 untuk 3 buku, rasanya murah, terlebih Books and Beyond biasanya menyediakan buku berkualitas tinggi. Jadi sebenarnya banyak cara dan banyak acara untuk mendapatkan buku bagus dengan harga yang bagus pula.

 

So, book hunter! Let’s hunt the books with me. Let’s meet today, 6PM.

 

Where?

ICE BSD of course!

Why being adult is no easier?

I have this kind of words longing in my head. ‘As if you fail in a relationship and you won’t ever be married?’ I hurt me right away when she said that. To be honest, I have no right to say that I am right or to give such a lame reason for not getting married. Why being adult is no easier?

Adulthood is a Choice

why being adult no easierWhat a bang! There are so many saying that we as human, we’re just aged. Maturity is a choice. So here’s the question, if you’re having a trouble in your beliefs about relationship, is that mean that you’re not mature? What if we’re tired of being adult?

We will face a demand to grow, to be an adult. Have a good maturity level and things. But somehow people just being judgmental. They are just saying that thing is happen with them and they are just doing fine. For Godsake! Why they have to compare it with theirs?

There’s no sign whether you’re an Adult or not except age. I am 24 and I have quite a good age for marriage. Marriage is something that done by adults. Tell me once again. Don’t you even remember about child marriage? Child and adult is opposing each other right? So can we agree that marriage is nothing about age?

Why being adult is no easier

We have common sense, but why we also have to comply about adult common sense? Let’s say about a setting,

Shoos! She’s just a kid.

So why? Rather than we divide those common sense, why don’t we just tell them about the right common sense which will be use in a long term? I love the idea about no dating till you’re an adult. But we always forgot to tell and give a direct parameter what is adult. Because as a young adult, we try to be accepted by the society. Don’t you think that its tiring enough?

Sometimes the pressure is no joke. We have to deal with questions, such:

When are you gonna marry?

Where is your boyfriend?

Why don’t you diet? Put on some makeup?

Why you have no fashion sense?

All those why(s) are tiring enough. We don’t have reason. We are just focusing in our happiness. And happiness is a choice.



Baby Wolf

Intro

By listening Ouija Board, Ouija Board by Morrissey, let’s we start this random thoughts of mine, about certain person. He has many name, the wolf, baby, or maybe baby wolf-as per this tittle.

Wolfie didn’t come to office yesterday, he said that he has severe case of food poisoning. But, I think, he’s lying about it. No further discussion why he lie, but we should focus on what I talked about in meeting Room with my lovely sister.

Briefly… she said, if I want him, just ask him. He already know, and he is kinda protecting you from bad rumors. Shocked, never expect this kind of reality and used to feel that he’s somehow trying to hide something, by less talking… err… I meant texting.

She said, it’s now or never, I might be lose him if I am not ready on the relationship. Both of us not ready. He’s not ready to do the same shit things again, and I am not ready to committed to a relationship.

We were talking to the day when I found that he ran after me (on fucking Thursday) and I was asking the question to some people. And she said, that was a turning point, he felt he has to cover you something. To save you.

Not ready

I am not ready. Really. I want to cure him first, then start a fresh. That’s the ideal condition. Not right now, not today, not tomorrow. But… yes, I want hug him, somehow.

Shall I?

Been asked my friend about it. And he stated quite the same. He is just doesn’t want to make my unhappy about staying with him. He has terrible past, and I acknowledge it, all we have to do is communicate, to sort the problems and feeling as well.

Damn.

I am too eager.

Every breath, his name in it. Can’t deny. Even I want to scream his name, all loud. But I have to think about it more, actually I have  considered about his circumstances, and I am not asking for a celebration, I just need a declaration. That we will live to the fullest, and always be happy.

But for now, I need to be his friend. No more bargain, friend for life.

That is about my baby wolf.

Remind me to put this on the script.

Danish. An outsider. True mastermind (Cancer anyway) Canadian (or better, still searching for it). Cheaters.

MastermindBianca.
A girlfriend of Danish. Local (same as Danish, supposed to be). Med student. Pisces. Secretive as well, supports Danish for everything.

Conflict: Either Bianca knew or not.

What will Shanti get from this problem? Another level of psychology definition. Danish the mastermind will plot everything out, but Shanti, whom does everything based on her own determination, can’t fall to his trap.

Another part of world. Aryaa.
He’s doing his job. Making stories, but the stories always lack of something. Romance. He needs it more than he could imagine. Even D can’t help him out.

Harry Potter and White Mazda

Bukan secara repetitive, tapi gue mimpi dua orang ini. Yang pertama, si Aa (dulunya gue pake inisial CG) dan yang kedua, si MeaKer. Gue merasa dengan mimpiin si MeaKer, adalah salah satu tanda dari alam untuk benar-benar menjauhi si Aa ini. Gue sempat ceritain ke seorang teman gue. Dengan tegas dia bilang, “Beh. Tan… itu mah ente ngarep namanya.”

Well. Dia ada benarnya.

Pada hari itu juga, malamnya gue demam tinggi (ngga sampai 40 derajat celcius juga sih) gue khawatir esoknya, hari senin, tidak dapat masuk kuliah. Alhamdulillah akhirnya demam gue reda, sehingga pada pagi hari itu, gue udah mendingan.

Biasanya gue pergi ke kampus jam 3 sore, karna menghindari macet. Tapi belakangan ini sering jam setengah 5. Karena tidak mau lama-lama di kampus, dan pengennya langsung makan.

Biasanya orang kalau mau nyetir, berdoa dulu kan ya. Gue malah menyebut nama seseorang, secara lengkap. Mungkin karena gue terganggu dengan mimpi itu juga ya.

Di jalan, tepatnya di persimpangan yang macet. Di depan mobil gue ada mobil Fortuner warna hitam dengan nomor plat 77HP.

Dang! Harry Potter. (Karena akan sangat konyol kalau itu 94 atau 904HP)

Bukan recall, tapi semacam mengulang percakapan gue dengan seorang teman dekat, dulu.

“Inisial sama. Sama-sama pakai kaca mata. Sama-sama anak tunggal, cuman aku tidak anak yatim piatu.” paparnya.

Saat itu gue cuman nagging, “Maksa deh.”

Baru kepikiran sama gue, mengenai hal ini.

Adopsi.

Bagaimana kalau sebenarnya Harry bukan anaknya Lily dan James?

Hal ini karena teman gue nyablak bilang gini ke gue, “Iya beb. Anak tunggal itu biasanya dicurigai. Kali aja kan diadopsi.”

Mind blowing. Gue gak pernah kepikiran dengan satu kata itu. Dia malah dengan gamblangnya berkata demikian.

Lah. Kan tadi mobilnya Fortuner, warna hitam lagi. Kok dijudul Mazda?

Ini sih mobilnya Marcel… dingg… dan mobilnya si Aa. Kalo Marcel kan Mazda yang SUV gitu, kalau si Aa Mazda Fiesta kalo gak salah gue, warnanya putih, yang pernah dibawa 180kmph cieee…

Banyak hal yang gue bingung mengenai Aa. Mungkin didukung dengan zodiaknya yang Cancer serta Phlegmatis kali ya. Hari senin kita diisengin sama anak kelas. Papan nama kita dibuat berdua, sebelahan. Ketika dia datang, dia malah duduk di belakang. Gue mikirnya dia gak sudi duduk ama gue. Ya abis cuman masalah duduk doang, kok diseriusin.

Selasa. Dia malah makan di depan gue. Kan tai. Tidak hanya itu sih. Dia yang kali ini duduk di depan (sendiri tentunya) malah suka main ke belakang sebelum dosen masuk. Dan colek-colek gue. Sekali, gue cuekin, kedua kalinya gue tanya, ‘Kenapa sih?’ ngga dijawab sama dia.

Jam 8. Dia Whatsapp.

Aa: Niz

Gue: Ya?

Aa: Hmm

Percakapan yang paling aneh. Gue baca doang jadinya. Mungkin telat sih, tapi gue merasa kalau gue menjadi last option untuk dia. Jadi ngapain gue membuat dia jadi first priority?

sign out.

x0x0

Raanjhanaa Most Touching Dialogue.

safanta92:

यह बात है. यही मेरी कहानी थी. मेरे अलावा बैठे एक लड़की.
कुछ डॉक्टरों, मुझे बचाने के लिए उम्मीद कर रहे थे. एक दोस्त है जो पागल हो गया था. मेरे लिए उसके जीवन समर्पित है जो एक अन्य लड़की.
मेरी माँ, पिता, और बनारस के thr गलियों. और मेरा शरीर मुझे छोड़ दिया था.
और मेरी छाती, जहां आग अभी भी रैगिंग की गई थी.
मैं लेकिन किसके लिए, उठकर कर सकते थे?
मैं लेकिन जिनके लिए चिल्लाया, कर सकते थे?
जोया, मेरा प्यार, बनारस, बिंदिया, मुरारी, वे सब दूर होता जा रहा थे. लेकिन, क्यों मैं के लिए वापस रहना होगा?
मेरे अंदर आग मुझे जिंदा रखा है, या मुझे मार सकते थे.
लेकिन अब क्यों उठना? फिर प्यार में गिर करने के लिए साहस मिला है कौन, एक दिल तोड़ने पीड़ित हैं.
किसी ने मुझे रोक, रिक्त ताक साथ मेरे अलावा इस लड़की, मैं अभी भी उसके लिए प्राप्त कर सकते हैं.
लेकिन नहीं. मैं अब मूड में नहीं हूं. यह अपनी आँखें बंद करने के लिए बेहतर है. गहरी नींद में मिलता है. लेकिन, मैं उन गलियों में चलाने के लिए, गंगा के तट पर तबला बजाने के लिए, किसी दिन मिल जाएगा. फिर कुछ जोया के लिए गिर

Keep reading

Random Thoughts.

Memory

Memory. I don’t know what sorcery was that. I found my self in need of someone else. At this point, it is not social needs but it’s like a replacement and I need that kind of status.

Do not blame me if I got this fling for him, because either he or that saint ‘MeaKer’ has something in common. They are flirtatious. I swear.

We were meet at 3rd semester, and believe me, he’s annoying. Maybe we can’t distinguish flatters and compliments. He is way too kind, well, at least, for me, he’s such a good companion. Aside of our own sign (zodiac) is compatible, we just love to playing around.

I don’t know what we were thinking. I met him few days back, “I miss you,” he said. Well, it’s normal, he texts me like that, sort of.

We started to talk about what is going on in our circle. It is just one friend that we talked about all night long. And he’s fucking annoying. Again. I am saying that.

Let’s say that he’s gifted, he could judge person precisely. It is not judging on first impression, he could dig it deeper, and unfortunately, it was right. It was fucking right.

Such Activities

So, we had this kind of activity. That time, my friend asked to be read about her future, with her soulmate-want-to-be. Before her, I did that, because we are fucking boring waited her.

What he read is, basically, MeaKer grew some feeling to me, but I can’t fulfill what he wanted. It’s like I have to be shy, I have to be dependent toward him. Which I can’t. As long as I can do it, I won’t ask for help from anyone. (That was our common, MeaKer and I)

Fact is here, this guy is Hindu. We can’t grow any feeling. Maybe he interested in me, he admired me that much, but I can’t have such response. I can’t admire people that I don’t want to. And maybe it will be my all-time problem.

‘Be loved by someone else and loving somebody out there.’

I won’t claim that it is my only problem, I thought there are plenty of people did that anyway.

I want dating, and I hate it as well.

Maybe this is first world problem. Marriage.

My close friends, haven’t married yet, but I got this pressure, I need to do it as soon as I get. But, I don;t have the groom, right? My friends know me best.

I asked him about my personality. And I was like Pooja (Kareena Kapoor Khan) last night.

“Tell me something I don’t know.”

Closing Up

Because he said that I am full of sincerity. Yeah, that’s right, that’s why I can’t make up with my friend if we are fighting each other. Therefore, I choose to lose than making it up.

Those five hours that I spent with him, he said nothing about the personality. For instance I had fun. He hates ticklish

I have something to beat him off.

The most important one is to make this relationship as work as this and stay like this for this reason, such as friend, best friend. No more cliche stories like Isqhzaade, Veer-Zaara, or Romeo-Juliet in general.

It’s not like Indo-Pak relationship. In fact, it is just a different faith to begin with.

Even he’s my mate, literally, I won’t let it slide that way. I don’t want to.

However, the conclusion is that I need someone to lead me not doing wrong.

Ah. You never know…

Am signing off.

Little Wanderer

I just realised that the closer you might be, the worse it could be happened.

Let say, we were this close, and it still remain here.

I am so sorry for the condition, but please, act as your gender. Be Gentleman, do not be a boy with kind of issues that made you look like a wimpy woman.

Please don’t.

What I write here, this Little Wanderer is to celebrate my freedom, I just ignored an user. Yeah, I want him to stop read about me and my life.

I don’t know it was hurt or hatred, but please, I don’t want to know him anymore.

It is enough.

To know someone that you really thought he was the one that you could depend on, is the one that holding a knife in front of you.

It is better than back stabbing, but still, I hate the fact that my friend holding that knife to smack me down.

Please.

Let me live my life.

Regards,

Arya Shanti dalam Pencitraan Global

 

Ini merupakan sepelnggal kisah Arya Shanti. Bukan sebuah kisah nyata. Jadi diharapkan untuk para pembaca dapat membedakan mana fakta dan mana fiktif.

Waktu itu gue duduk di tengah. Biasanya, gue lebih memilih aisle dibanding window. Namun sepertinya karena waktu sudah mepet dan juga penerbangannya sebentar, ya engga masalah.

Gue masih inget. Waktu kita berdua jalan di mall Arya bertanya, ‘Kenapa ya kalo cewe itu, kalo jalan, selalu pegang henpon? Gak bisa gitu mereka lepas dari henpon?’

Gue tidak tau alasannya kenapa demikian, akhirnya gue jawab. ‘Ntahlah ya. Mungkin lagi autis mereka.’, sembari melihat beberapa cewe yang memegang tab atau iPad.

Gue pribadi sih lebih memilih menjauhkan hp kalau lagi ngumpul bareng teman-teman. Gue tertawa kecil, dan ternyata tawa gue mengundang tanya bagi penumpang yang duduk di samping gue.

‘Lagi seneng ya mba?’ tanyanya.

‘Ngga ada. Lagi kagum aja, bisa gak ya kita menjaga warisan alam?’ jawab gue ngasal.

‘Wah. Virus 5cm. nih.’ sanggah si mba tersebut. Gue menyangkal. Dari perbincangan singkat tersebut, akhirnya kita berbicara tentang segala macam, sehingga mengundang Ibu-ibu yang duduk di sebelah kiri gue,

‘Kalo di sini, kosan memang murah, tapi ada juga loh yang mahal, yang sampe 3 juta satu bulan.’ ujar si Ibu tersebut. Gue kaget, gue pikir cuma di Jakarta yang biaya kos mahal.

Gue balik itu hari Senin. Gue ada kelas jam 1, dan untungnya sih gue masih bisa tapping. Kelas yang gue ambil ternyata membosankan. Untungnya hari senin itu gue kuliah siang, jadi masih bisa berleha-leha sebentar. I am not morning person.

Pada semester itu, gue ada kelas Bahasa Indonesia yang gue gunakan untuk menulis curahan hati gue, ntah terkadang itu berupa kesedihan, ucapan terima kasih, atau pengharapan yang terlalu dekat hingga susah dijangkau.

Pada saat itu, semakin gue mengenal Arya, semakin gue melihat sisi Arya yang mirip dengan gue. Saat itu, gue kagum, gue menemukan orang yang memiliki kebiasaan yang hampir sama dengan gue. Dan iya, rasanya sudah beda.

Gue gak tau, itu beda karena Arya balikan sama Dina, atau karna gue sempat berharap, dan akhirnya gue harus mengalah karena ada orang nomor satu yang harusnya memperhatikannya.

Gue berpikiran kalau itu konyol sih, gue mulai mencari kebiasaan gue yang hilang. Membangunkan Arya dari tidurnya, nemanin Arya main game online, meski via telfon, atau sekedar bersenda gurau bersama. Quality time!

Kadang-kadang saking bingungnya, gue memulai SMS Arya duluan. Terkadang ada balasan, terkadang balasannya lama.

‘Maaf ya baru balas. Pulsaku abis.’ biasanya masuk ke hp. Iya gak heran juga sih, gak mungkin dia menyuruh Dina menelfon terus-terusan, pasti dia yang nelfon, gue berpikir seperti itu. Ya gue berusaha maklumin aja, soalnya Dina dan Arya sudah bersama lebih dari setahun.

Pernah suatu hari, Arya kirim sms ke gue, ‘Tlpn ms.’ gue kaget, kenapa ini anak tiba-tiba minta ditelfon ya, apa ada masalah lagi dengan Dina? Antara itu polos apa emang pengen, gue telfon Arya.

Kita bicara panjang. Yang gue tangkap ketika Arya curhat, ia mengatakan bahwa ia telah salah memiliki Dina. Ibunya Arya tidak suka dengan Dina, mungkin dari karakter yang tidak begitu dapat dibawa ke dalam diskusi yang serius dan penting.

Akhirnya gue tau kenapa belakangan ini, meski Arya balikan sama Dina, tetap saja Arya merasa sepi. Dina suka mengeyampingkan Arya. Tidak sih, gue menyimpulkan demikian karena beberapa tweets dari Arya yang menjurus ke sana.

Gue sempat diskusiin hal ini sama teman dekat gue, dan ya kita bingung sih, sudah disakiti, sudah tidak direstui, tetap aja dijalani. Aneh. Gue berkesimpulan bahwa Arya sayang banget sama Dina, sehingga berat rasanya untuk pisah dengan Dina.

Meski tak sesering dulu, kita tetap telponan, yang pada suatu hari, hasil dari telponan tersebut adalah pergeseran karakter Arya yang melankolis menjadi lebih koleris, yang mungkin berusaha untuk tidak terjatuh dalam indahnya cinta semu yang kelak ia temukan.

Arya Shanti

Dulu gue sempat hitung berapa kali Arya dan Dina putus semenjak mereka rujuk tanggal 21 September 2013. Twitter. Arya selalu merubah bio di twitter, terkadang ada username Dina, terkadang tidak ada. Sampai pada tanggal 21 Januari 2014.

Legally Jomblo.’

Ya. Habis dari itu, Arya tidak pernah lagi balikan dengan Dina, dan juga tidak pernah lagi menghubungi gue, hingga gue mengetahui pada tanggal 7 Feb 2014, Arya memikat seseorang wanita lain yang lebih baik, jauh lebih baik dari Dina.

Saat gue tau akan hal itu, gue terdiam, dan gue sedih. Gue sempat berharap gue adalah pelabuhan terakhir untuk Arya, ternyata bukan. Dan gue berusaha untuk tetap sugesti diri gue kalau apa yang terjadi adalah yang terbaik, dan terlebih adalah doa gue yang telah dihijabah.

Setiap kali temen-temen gue bertemu gue, mereka pasti menanyakan tentang Arya. Gue cuma bisa bilang kalau Arya lagi sibuk dengan skripsi dan coklat.

Itulah pencitraan secara global yang gue lakukan. Untuk tidak membuka luka lagi. Biarkan halu itu hidup untuk sementara. Hingga harus mati karena kenyataan.

Note: Penulis capek nih. Gak ada kelanjutan yee. :p

Author Note:

Makasih yang udah baca. Nih, aku lanjutin lagi ya cerita Arya dan Shanti. Fiktif loh ya!

Eh iya.

Bhahaha.