Episode 1

Kali Pertama

Sudah berapa lama ya aku tunda menulis perihal episode pertama ini. Ada banyak gangguan yang aku alami, diantaranya adalah ketidak-stabilan rasa (mood) hingga hilangnya kepercayaan terhadap suatu hal yang harusnya tidak boleh hilang sama sekali.

Baiklah, langsung aja ke inti cerita, yang aku sebut sebagai episode 1. Sebenarnya banyak epilog yang sudah terjadi, tetapi epilog hanya seperti sebuah kameo di dalam cerita lainnya.

Wolfie dan Aku.

Hari itu adalah hari Pahlawan Nasional, seharusnya aku ada jadwal kuliah, cuman karena melihat jalanan yang macet, membuat otakku jadi lebih kusut. Aku tidak yakin akan tiba di kampus tepat sebelum pukul 7 malam.

Wolfie, seperti biasa, sibuk dengan ponselnya. Ntah apa yang dia lakukan dengan iPhone 5S berwarna putih itu. Beberapa kali aku Tanya,

“Mau kemana mas?” hanya mendapat angin… tidak ada jawaban sama sekali atas pertanyaan itu.

Terus Berusaha

Dia memang seperti itu orangnya, harus konsentrasi penuh pada satu kerjaan, mungkin saat itu Wolfie sedang menunggu orderannya diterima oleh Go-Jek. Aku kesal, kelimpungan, aku merapat ke salah seorang teman kerja, yang biasa dijadikan tempat curhat khusus Wolfie.

“Mba, gue pengen bunuh anak itu deh.” Dengan tampang kesal aku menggerutu. Lalu dijawab, “Mungkin dia ga denger kali, coba Tanya lagi aja.”

Ogah. Aku tidak mau terkesan mengemis, aku harus jaga image. Akhirnya akupun bertanya kepada kerabat kerja lainnya, “Itu mas Wolfie kemana?”; dengan sigap ia menjawab, “Gak tau aku mba.”

Zret. Wolfie muncul di daerah kami. Sontak aku dan temanku bertanya, “Mas, mau kemana?” Masih saja. Dijawab dengan diam. Gak lama setelah itu, akhirnya dia merapat… sibuk dengan laptop. Aku Tanya lagi, “Mas, mau kemana sih?”

Dia menjawab dengan penuh senyuman, “Rahasia.” Itu adalah Wolfie yang merasa nyaman, dia bisa bertindak seperti anak-anak; terkadang. Okay. Rahasia. Padahal, bisa diasumsikan, dia akan pergi ke Kemang.  “Mau ngapain?” aku Tanya lagi.

“Ada deh.” Jawabnya. Mungkin bagi beberapa orang, jarang melihat Wolfie seperti ini. Biasanya dia itu lugas, tidak perlu bermanis seperti ini.

Episode Pertama

Aku pun mulai mengatur arah dan tujuan untuk malam itu. Mungkin bisa ke GI, karena hari itu tanggal genap. Tuk tuk tuk, aku berjalan… belum keluar dari pintu kantor… dia nanya, “Mau ikut?”

Refleks, aku langsung jawab, “Ayuk!”

Ketika sebelum turun, aku bertanya, “Eventnya dimana Mas? Ditempatmu kah?”

“Iya, di Kenobi.” Jawabnya. Lalu kita turun, dan ditanya lagi, “Seriusan mau ikut?”

“Mas, aku pake mobil. Go-Jek nya bisa dicancel mas.”, dia juga kebingungan, “Aduh, iya yah.”

“Mas, kamu nyetir ya.”

“Aku gak bisa.” Jawabnya singkat.

“Serius mas?” aku gak percaya kalau dia tidak bisa menyetir.

“Serius.”

Menuju Kemang

Detak jantung bisa dirasakan, sangat cepat. Bahkan aku juga susah untuk mengontrol kaki untuk menginjak pedal gas maupun rem. Untungnya hanya 2 kali saja…

Mungkin kalau 3 kali, dapat piring cantik, atau Wolfie turun dan pesan Go-Jek lagi. #whew

Mobil diarahkan oleh Wolfie, dia memberi arah lewat Senayan, tapi sayangnya begitu padat, macet. Akhirnya aku buka pembicaraan, “Mas, yakin lewat sini, mumpung tanggal genap loh.”

“Iya, aku biasanya lewat sini.” Jawabnya.

“Cek maps deh mas, biar bisa pasti lewat mananya.” Sambutku.

Dia buka aplikasi Waze, da Waze menyarankan untuk lewat Sudirman. Hell yeah… someone is just not listening.

Kena macet lagi, dari depan JCC (Ladokgi) ke Semanggi. We were cursing a lot.

Sampainya di Kenobi, sudah ramai orang… aku berpikiran bahwa aku cuman mengantar dia, ternyata dia juga mengajak ke event tersebut. Event itu dinaungi oleh cafestartup.net;

Meetup Cafestartup

Agak telat, hampir jam 7 baru tiba di sana. Tapi, acara tetap berlangsung, secara dia adalah moderatornya. Akhirnya aku ke Kenobi juga, melihat tempat yang paling ia sukai saat ini.

Acara berakhir sebelum pukul 10. Pada pukul 10 secara operasional, gedung sudah dinon-aktifkan untuk pengunjung. Saat itu masih ramai, diakhiri dengan makan malam di emperan toko simpang La Codefin (sekarang Lotte Mart ya?)

Done. Selesai.

Pukul 11.11; kami berdua baru masuk ke mobil. Tagihan parkir sejumlah Rp. 25.000,- yang dibayarkan oleh Wolfie. Yes, he should.

Setelah masuk ke mobil, Wolfie mulai pembicaraan,

Let’s talk about philosophy.”

Aku rasa di sini aku gagal, menjadi teman ngobrol philosophy yang dia inginkan. Wolfie is being weird. Jam segitu, ngobrol yang berat,

“Mas, yakin ga mau bawa mobil?” aku masih menggodanya. Dia tetap bilang, “No. I can’t. Even my ex-es can’t force me.”

“Mas, ini matic loh.” Masih tetap usaha.

Next time ya.

Selentingan usaha untuk menyuruh dia menyetir. Tapi gagal, lalu dia kembali mengajak ngobrol filsuf.

Philosophy Time

No, we can’t discuss about philosophy at this hour. Udah malem mas,” sanggahku. “No, this is the right time.” We argued a bit there.

Oh ya, aku lupa mengatakan bahwa selama perjalanan ke Kemang, musik dimainkan oleh Wolfie, dengan iPhone 5S tentunya. Morrissey can’t be avoided. Ga bisa dielakkan, dia memainkan beberapa lagu Morrissey.

So, let’s begin with essential question. What is your purpose of life?” Plis, udah jam 11.18, ngomongin hal yang berat, yang perlu perhitungan, kalau salah, bisa menghasilkan hal yang salah juga kan? Aku takut beropini.

You’re the one that has the knowledge, Mas duluan lah yang mulai.”

Ah. I can’t that’s a must.”

Akhirnya aku kalah.

Yes, indeed, he is undisputed baby.

Happiness. I want to be happy in my life.”

What is happiness?”

Dang! Come on… really?

Aku balas dengan seadanya. Bahwa kebahagiaan itu adalah kondisi dimana kita masih bisa berbahagia meskipun ada sedih, kecewa dan lainnya.

“Kalau begitu, tidak akan bisa tercapai.” Asumsinya. Oh ini tidak bisa, aku harus membalasnya. “Tapikan ada ambang batas, Mas.” Ujarku.

Legacy

Okay. Mungkin dia terdiam. Lalu aku alihkan, “And how about you?”

Me? I want to make a legacy.” He said.

How?” balasku.

I don’t know. Still figure it away.”

Aku sudah dapat melihat, bahwa dia mungkin untuk mewujukan tujuannya itu. Dia memiliki ilmu yang banyak, otaknya juga cerdas, dia hanya butuh sedikit dorongan untuk membuatnya jadi kenyataan.

Begitulah episode pertama. Penuh dengan ketidakjelasan, karena semuanya memang tidak jelas.

Reply

error: If I were you, I won\'t try it.
%d bloggers like this: