“Forgive and Forget”

Apa harus dikata ketika dua kata memaafkan dan dimaafkan terdengar dari orang yang paling dikasihi?

Well. Karna aku belum pernah mendengar kata itu dari orang yang paling aku sayang, aku tidak bisa memberi tahu bagaimana rasanya. Semua itu bergantung kepada kejadian yang terjadi, dan juga lapisan emosi yang terkeluarkan.

Ah iya, aku menulis pakai Bahasa Indonesia karena aku berpikir, sampai kapan aku harus menggunakan Bahasa Inggris untuk menyatakan bahwa aku sayang dia? Ada baiknya dimulai dari keseharian menulis sebuah tulisan yang berbahasa Indonesia.

Aku menulis bukan sekedar berbagi bahwa aku memiliki masalah, tidak. Kebanyakan aku menulis karena aku rasa itu sudah bukan menjadi masalah untukku, tapi masih berharap di dalam kelamnya harapan tersebut.

Apa yang aku bagi di sosial media, itu berarti bukan hal yang rahasia. Aku sudah memikirkannya jauh sebelum bercerita. Iya, bahkan mengenai perasaan dengan MeaKer. Itu sudah lalu, sudah lewat, meski aku masih berharap.

Ada kalanya aku bahagia karena peristiwa itu, tapi ada saatnya aku merasa sedih, murung. Aku sedih karena usaha yang sudah jauh seperti itu, kandas seperti tidak ada apa-apa.

Mungkin aku tau lebih banyak dibanding kalian, sehingga aku bisa membuat premis seperti itu. Tapi yakinlah, bahkan twitnya juga mengatakan hal yang sama.

Okay. Itu hanya sekedar intermezzo. Aku akan membahas apakah memaafkan dan melupakan itu adalah hal yang gampang, atau sulit.

Memaafkan dan melupakan. Aku rasa hal itu tidak dapat disandingkan, karena memiliki berat yang sama. Memaafkan seseorang, terlebih orang yang kita sayangi karna dia membuat kita kecewa, itu susah. Terlebih melupakan rasa yang sempat kita rasa, dan rasa itu indah. Tidak semudah membeli tiket pesawat. Tidak semudah itu.

Memaafkan adalah tindakan heroik. Bagaimana seseorang memaafkan orang yang dia sayangi, meski kesalahannya besar, namun cintanya lebih besar, aku kenal orang seperti itu. Tapi dengan gampangnya memaafkan bukan membuat seseorang menjadi lebih heroik, tapi malah terlihat tidak memiliki harga.

Secara pribadi, aku termasuk orang yang susah memaafkan kesalahan orang lain. Aku tidak tau bagaimana aku dan Irvan bisa berteman selama ini, sudah 5 tahun kita berteman. Dulu, waktu sekolah kerap kali aku membuat dia marah, memancing emosinya, tapi ya ujung-ujungnya kita baikan, meskipun aku tidak tau bagaimana, yang jelas semuanya mengalir begitu saja, mungkin dia lebih mengerti.

Dan yang akhirnya membuat kita mengerti satu sama lain, dan tidak akan melewati garis yang telah kita gambar.

Jika, aku terpaksa memaafkan karena bukan kesalahan aku, rasanya itu berat sekali. Mungkin masih terselip sifat kanak-kanak, tapi itulah aku. Aku jujur seperti anak-anak, tapi juga bisa ngambek seperti anak-anak.

Melupakan. Itu adalah pekerjaan paling berat menurutku. Aku, yang jarang pacaran, dan seringnya jadi pemuja rahasia ini paling susah kalau disuruh melupakan. Aku sudah pernah bilang bukan? Aku lebih memilih tinggal di fantasiku dibanding kenyataan orang lain.

Karna menurut aku melupakan itu kerjaan yang berat. Aku tidak bisa melupakan orang yang aku sayang, untuk saat ini. Mungkin nanti, ada saatnya rasa ini hampa, tapi tidak sekarang. Jangan meminta aku untuk melupakan orang yang pernah aku sayangi.

Itu merupakan ’breakup words’, bukan ’breakup line’. Dan ya, untungnya aku tidak pernah mendapatkan kata seperti itu, seandainya aku dapatkan hal seperti itu, mungkin berkali-kali terjadi penolakan kenyataan.

Dan mungkin aku akan membalas gini, ‘mungkin aku bisa memaafkan kamu, tapi untuk melupakanmu, itu bukan urusanku. Biar waktu yang bekerja.’

Ada istilah, give time some time ya gak cuma kita aja yang butuh waktu, terkadang waktu itu sendiri butuh. Tidak gampang untuk melupakan seseorang, iya. Tidak gampang untuk memaafkan seseorang, tidak pasti.

Reply

error: If I were you, I won\'t try it.
%d bloggers like this: