Infrastruktur

Ada hal yang menarik ketika gue membuat judul ini, infrastruktur. Gue bukanlah orang yang paham politik serta implikasi tidak langsungnya. Hari ini gue awali dengan perasaan sendu, merujuk pada A Gentleman’s Dignity. Melihat perjuangan antara Im Me-A-Ri dan Choi-Yoon membuat gue ngilu sendiri. Gue bisa melihat kenapa Me-A-Ri memilih Yoon, karena dari kecil hingga dewasa, Yoon yang selalu dilihatnya. Kenapa tidak Jung-Rok atau Do-Jin? Well, you can find a reason by yourself.

Adegan di episode 16 membuat gue kembali berpikir, apakah yang menjadi landasan untuk tetap berjuang. Perbincangan malam hari dengan Faizan membuat gue sadar, bahwa gue tidak siap dengan permainan cinta, meskipun sudah 25 tahun gue hidup.

Infrastruktur di Sebuah Hubungan

Faizan bagi gue adalah sebuah jalan keluar. Di kala gue berbenturan dengan masa lalu serta mencoba mencari jati diri dalam tuntunan agama, dia hadir. Faizan itu keturunan Pakthoon, kulitnya putih. Menjalani hubungan dengan orang Pakistan (dan ini pertama kalinya) itu menyenangkan. Mungkin karena individu yang beriringan, gue menemukan kecocokan dengan Faizan.

Infrastruktur

Gameover

Dia sedang sekolah kedokteran, inklusif. Tahun depan katanya ia akan kelar dan separuh masalahnya akan selesai, mungkin ini merujuk kepada duit. Dia berkata bahwa ia akan melakukan haji bersama dengan keluarganya, di kala gue pernah menyindirnya untuk bertemu di sana. Tidak ada yang salah untuk memilih keluarga, yang salah hanya keluarga gue. Saat itu gue sudah melihat titik terang bahwa gue tidak mungkin berakhir dengan Faizan.

Ia juga sempat mengatakan bahwa ia akan ke Irlandia, tanpa alasan yang jelas. Ia mengatakan ia akan ke Indonesia juga. Saat itu gue sudah terlanjur kesal dengan dia, lantas gue tolak untuk menjamunya jika ia datang nanti. I was hurt by the fact, actually.

Mungkin benar apa yang orang bilang, bahwa sebuah hubungan itu harus memiliki pondasi yang kuat. Harus ada infrastruktur yang memadai untuk kedua belah pihak. Perbedaan waktu yang cukup singkat seharusnya tidak menjadi masalah, tetapi menjalani hubungan dengannya, baru gue sadar bahwa menjadi dokter itu butuh pengorbanan, makanya tidak aneh jika dokter akan berjodoh dengan dokter juga.

Gue orang yang tidak suka memperhatikan orang lain, termasuk orang sekitar bahkan pacar sekalipun. Mungkin ini adalah karma yang gue tuai, karena gue tidak suka memperhatikan orang, sehingga tidak ada pula yang memperhatikan gue.

Seharusnya di dalam hubungan ini, infrastrukturnya adalah sebuah pengertian serta sebuah rutinitas untuk menciptakan adanya companionship. Gue dan Faizan itu ya seperti 2 orang yang punya hidup masing-masing, suka bermain dengan mainannya masing-masing. Tidak ada rasa kepemilikan satu sama lain, karena basisnya teman, well, Pakistan.

Infrastruktur dalam Dunia Kerja – Kolega

Jika gue mengingat apa yang diucapkan oleh Voldie kemarin sore, rasanya ingin gue lari dari kenyataan. Sifat dominannya membuat gue kesal, kenapa semua harus berporos pada dia. Apakah gue tidak bisa bertanya tentang dia? Itupun cuman sebatas nanya lokasi, ke orang lain pun.

Infrastruktur dalam dunia kerja

Work Mates

Dear Voldie, why don’t you loose a bit. Embrace your significant charisma without hurting people. Let them enjoying their happiness, even for a single reply from you, it does matter. Maybe you’re truly gay, no offence.

Gue setuju dengan Voldie bahwa harus ada batasan antara professional dan personal. Memang, gue bukan teman yang mengenal dia secara personal, tetapi apakah segala tindakan (pun ucapan) itu menjadi sebuah benchmark untuk berinteraksi dengan lawan jenis? Jika memang sudah ada infrastruktur untuk hal tersebut, dengan senang hati gue akan menghancurkannya.

Gue gak tau apa yang akan terjadi 8 bulan ke depan, di mana gue harus berhadapan dengan Voldie secara langsung. Mungkin gue harus menghilangkan segala perasaan gue. Bukan mengikuti kampanye #StopBaper, tetapi upaya untuk memberikan kenyamanan untuk gue sendiri. Voldie adalah orang yang paling susah untuk gue taklukan, langsung maupun secara pikiran gue.

Masih ingat dengan jelas di ingatan gue, hal yang gue bilang ke MeaKer. Gue akan mau mengikuti pria yang berhasil mematahkan pemikiran gue. Voldie tidak hanya mematahkan, tetapi menghancurkannya. Seolah ia tidak mengizinkan gue untuk memiliki pemikiran gue sendiri.

Dari dua cerita, dua pria, dua karakter tersebut membuat gue yakin bahwa gue tidak begitu beruntung dalam infrastruktur yang bernama cinta.(fan)

Reply

error: If I were you, I won\'t try it.
%d bloggers like this: