Backward Chaining – Episode 1

Pernah terbesit penyesalan mengenai kasus ini. Begitu besar kesempatan yang aku lewatkan hanya karena merasa insecure terhadap kenyataan yang menghampiri. Sekali lagi, aku merasa bahwa aku adalah orang jahat yang dengan kejamnya menjatuhkan harapan seorang pria, yang begitu haus akan cinta, dan sekarang cinta yang dia harapkan itu dapat ku beri, namun sudah tidak ada waktu lagi untuk aku dan dia bersama.

Bukan sekali aku bermimpi menjadi pengantinnya. Tidak sekali mimpi aku menghabiskan waktu dengannya. Dahulu, aku masih bisa berusaha melihat suatu kasus dari sudut pandangku sendiri, kini tak terlepas dari dia. Hati ini kerap bertanya, apa yang akan dia lakukan ketika kasus tersebut menghampiri. Iya, sedalam itu aku mau patuh akan keegoisan dia. Tapi kini sia-sia, hanya karena aku tidak yakin, dan tidak percaya diri.

Jika kita roll-back, maka dapat dilihat dengan jelas bahwa ia sangat mengharapkan adanya ‘kita’ diantara aku dan dia, meskipun ia juga meragu akan waktu tersebut. Ragu yang ia hadapi tidaklah seperti raguku. Aku meragu akan pandangan orang terhadap dirinya, sementara ia meragu akan pandangan ibunya terhadap aku. Kita berada di level yang berbeda, hingga jarang sekali kita bertemu, dan bertegur sapa.

Hilang. Iya, aku takut kehilangan dirinya. Aku takut kehilangan teman yang aku temukan secara tidak sengaja, dan iapun jera akan kehilangan orang-orang yang disayangi dan menyayanginya. Kita adalah pasangan yang saling melengkapi, kata salah satu teman kita. Kata-kata itu berhasil membuatku untuk percaya, untuk merasakan getaran cinta yang sempat aku padamkan lantaran tingkah ia begitu.

“Fan, dia gak salah. Lo yang gak jelas. Lo yang ngebuat dia ragu dengan tindakannya. Sehingga dia memilih orang lain.” Papar temanku. Aku terdiam duduk di kursi yang berada di samping Kasur ia terbaring.

“Tapi circle kita terlalu kecil. Gue takut…” tambah gue. Alih-alih ia melemah, ia malah membuat aku berpikir lebih dalam. “Lo takut kehilangan dia! Percaya ama gue.” Tangkisnya. Aku terdiam. “Coba lo diemin dia, gak usah lo hubungin dia, sampai dia hubungi lo.” Tambahnya. Pernah ku coba untuk tidak menghubungi dia, tapi ego terlalu tinggi untuk dikalahkan. Beberapa kali akhirnya aku menghubungi dia, sekedar bertanya kabar. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya.

Jatuhnya tanggal 8 Februari 2014 membuat harapanku menjadi seperti sedia kala, di saat dia masih bersama si mantan yang telah ia perjuangkan untuk berubah itu. Kini ia berada di dalam pelukan wanita yang akupun berpikir aku tidak memiliki kekuatan untuk melawannya.

Iseng. Aku selalu iseng untuk memulai pencarian. Sekedar mencari tweet yang mengandung username dia, cukup membuatku mengetahui siapa itu mba-mba yang kini dipujanya. Mahasiswi kedokteran yang berparas alim. Aku tidak dapat menilai bagaimana karakternya, hal itu sepenuhnya akan terjawab nanti, dikala apa yang aku duga menjadi sebuah fakta yang menyakitkan untuk mba tersebut. Maaf. Maaf jika kamu masuk di dalam ribetnya cerita cinta antara aku dan dia. Antara aku, dan mantan pacar temanku.

Dari tanggal itu, ia meletakkan inisial nama si mba tersebut. Kini aku mengetahui namanya. Meskipun seharusnya mba itu adalah orang yang baik, ntah kenapa dia terkesan evil untukku. Apakah karena aku cemburu? Tidak inginkan lelaki satu-satunya yang sanggup untuk mendengarkan ceritaku, mengajakku ke dalam dunia fantasinya. Lantas apakah aku salah untuk percaya bahwa ia menaruh harapan lebih padaku? Apakah aku terlalu delusional?

…to be continue…

Reply

error: If I were you, I won\'t try it.
%d bloggers like this: