Jenis-jenis Cinta

Jenis-jenis Cinta

Sudah berapa panjang aku menulis sebuah surat cinta untuk si anak bungsu. Namun MacBookPro ini bermain denganku, ia lelah, lalu menghapus semua cache yang ada. Lantas aku bisa apa? Mungkin aku disuruh menulis sesuatu yang baru. Sebuah perspektif yang harus aku sajikan untuk para pembaca, yaitu jenis-jenis cinta. Dari Shooting Range dan Susu akhirnya aku ubah judulnya menjadi jenis-jenis cinta. Aku tidak pernah bosan untuk berinteraksi dengan orang yang punya pengetahuan banyak.

Berpola

Setiap yang terjadi di dunia ini, memiliki pola. Bagaimana perasaanku pada Wolfie yang hampir sama dengan perasaanku terhadap MeaKer, namun berbeda dengan rasa yang ada dengan yang kemarin. Setiap orang unik, namun ada spektrum yang dapat memberi penjelasan terhadap kelas-kelas yang ada.

Misalnya orang yang suka seni, atau literatur, akan tergabung dengan sendirinya, dan itu masih bisa ditutupi. Orang yang puitis akan paham dengan orang yang puitis pula, karena setiap kata itu memiliki makna. Baik berupa sindiran, atau sesederhana kiasan yang bermakna positif.

Aku ingin membuat surat cinta itu lagi, tapi karena satu dan lain hal. Biarkan surat cinta itu aku ucapkan di dalam bait-bait doa yang aku sampaikan, khusus untuknya. Pada bagian ini, mari kita berbicara mengenai cinta, entah bagaimana itu wujudnya, pokoknya cinta.

Love is lust, but lust is not love.

But Lust is not Love

Lust

Aku membahas ini lagi. Sebenarnya seharusnya semua orang bisa membedakan antara cinta dan nafsu. Bahwa hawa nafsu itu sebenarnya adalah sebuah bonus khusus dari cinta. Because we can’t say dirty things to stranger in the name of love. Cinta itu adanya pada bagian atas tubuh, dari hati hingga otak. Jadi wajar saja, otak dan hati sering berantem, karena mereka melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda.

Hati selalu merindukan pelukan hangat, sementara otak yang bersinergi dengan mata, selalu menjadi buta ketika hatinya terlalu nyaman, atau terlalu gusar.

Love is blind.

Tidak, cinta itu tidak buta. Hanya saja ketika jatuh cinta, kecendrungan manusia menjadi lebih bego itu ada. Mlongo. Akal pikiran tidak dapat berjalan panjang, bak motor 2 tak, cepat lelah, tapi daya tahannya tinggi. Orang jatuh cinta itu ya seperti itu, mikirnya ga panjang, tapi pasti ga pernah bosan dan lelah untuk menyatakan bahwa ia sedang jatuh cinta. Ia begitu mencintai orang tersebut, sehingga terkadang mengganggu kenyamanan orang tersebut.

Bahwa cinta itu seperti kamu mendapat barang baru, dan kamu sangat menghargainya dengan harga tertinggi, misal, mainan… hinga kamu bisa membawanya tidur bersamamu. Cinta itu murni seperti anak-anak yang belum paham arti dari baik maupun buruk. Seperti seorang anak mendapatkan seorang teman bermain, akan selalu bermain bersama, akan selalu menanyakan kabarnya.

Love is friendship.

Ini yang sempat menjadi perdebatanku dengan beberapa orang. Karena entah dari mana, istilah friendzone itu hadir. Menurutku tahta tertinggi dari sebuah hubungan itu adalah sahabat. Contohnya, aku bisa cerita apa saja ke sahabatku, namun belum bisa aku ceritakan tentang itu semua ke pasanganku. Selanjutnya, aku selalu kesal jika ada yang mengatakan bahwa apa yang aku lakukan itu disebut friendzone. Bahwa sebenarnya aku masih memiliki kesadaran yang penuh dan menjadikan seseorang di zona pertemanan, padahal ada intensi lain, itu adalah hal yang kejam. Sejujurnya aku terbiasa menutup diri dari orang yang aku merasa tidak nyaman, jadi friendzone? Please… tidak pernah ada di dalam kamusku, karena jika kita tidak bisa menerima dia sebagai teman, bagaimana kita bisa menerimanya sebagai pasangan? Maybe just for a hookup? Your answer.

Love is accepting.

Aku masih ingat ketika mendiskusikan ini di sebuah warung Indomi, di Barel (batas rel) Depok. Waktu itu ada dengan ngalor ngidul, kami membahas mengenai gay, atau homoseksual. Salah satu temanku berkata, ‘Cinta itu Penerimaan.’ aku tertegun… Menurutku poinnya benar, seorang Ibu harusnya mencintai anaknya tanpa terkecuali, mau anaknya memiliki kendala fisik (cacat) ataupun kendala mental. Oleh karena itu aku selalu memasukkan poin ini jika aku merasakan sesuatu terhadap lawan jenis. Jika aku bisa menerimanya, berarti aku, setidaknya bisa mencintainya. Namun, di dalam hubungan itu ada fase yang tricky, yang biasanya disebut dengan kepercayaan.

Love is trust.

Trusting them not to break it

Love is trust

Aku pernah merasa tersindir dengan tweet seseorang. Orang itu memang orang yang penting bagiku, setidaknya pada masa itu. Jika seseorang sudah memberi kepercayaan, maka jaga kepercayaan itu. Waktu itu aku sesumbar, bagiku, ia adalah duniaku. Aku tidak perlu tau mengenai harga index saham, atau kabar politik di Indonesia, karena dia akan memberitahuku, sederhana, ia adalah duniaku.

Ibaratnya Gaurav (Fan, 2016); Woh sirf star nahin hai, duniya hai meri. Jadi menurutku wajar saja seseorang mengumbar perasaannya, hanya saja bukan perasaan depresi, seperti menanti tiada akhir. Selama kamu jatuh cinta, kamu boleh memberi tahu dunia, karena dunia juga sebenarnya tidak akan mengambil pusing. Namun ada beberapa persepsi mengenai hal ini, ada yang lebih suka untuk tidak sesumbar.

Sesumbar jika hanya sekedar appraisal, menurutku wajar. Seperti ketika kamu berkata bahwa pasanganmu adalah yang terbaik, dengan alasan tertentu. Aku rasa itu wajar. Karena tidak ada yang salah tentang itu, karena kamu bangga padanya, sehingga kamu rasa dunia harus tau. Yang salah adalah mengumbar kemesraan, atau biasanya disebut PDA.

Love is KEPO.

Ini adalah sakta paling normal rasanya. Setiap orang pasti punya tendensi untuk kepo terhadap orang yang disukainya. Jujur, aku jarang mempraktekkan ini, baru sekali rasanya. Karena menurutku berhadapan dengan orang yang memiliki luka, apalagi luka itu belum kering berbeda dengan orang yang sengaja membuat luka tersebut. Sepanjang sejarah aku suka sama orang, aku tidak pernah kepo. Karena aku sudah menerimanya, dan aku percaya sama dia.

Ayo, kamu juga pasti seperti itu kan, ada yang namanya Law of Attraction. Kamu gak mungkin suka sama seseorang kalau kamu tidak anggap dia adalah orang yang baik. Namun perlu diingat bahwa terlalu kepo itu tidak baik, bisa mengarah ke kecemburuan, atau malah lebih parah, hilang rasa.

Love is jealousy.

Dulu, aku tidak percaya akan hal ini. Dengan mantanku kemarin, aku anjurkan dia untuk berteman dengan wanita lain, sehingga aku merasa lebih ringan. Maklum, dia tipenya setia, tapi rempong juga. Aku selalu bilang padanya, aku percaya sama kamu, aku percaya hatimu… tapi sepertinya dia tidak percaya dengan ucapanku. Akhirnya aku merasakan sendiri, rasa cemburu itu. Tidak enak. Mungkin jika pasanganmu dekat dengan lawan jenis, kamu tidak harus cemburu, harus dianalisis dulu duduk perkaranya. Peraturan yang harus diingat adalah, kita tidak boleh menyalahkan pihak ketiga, dalam hal ini adalah teman/lawan jenisnya. Percayakan saya pasanganmu, namun jika ada yang mencuri perhatiannya, pasti kamu langsung kalang kabut.

Manusia seperti itu memang, tidak ingin berada di posisi terancam. Pasanganmu tidak hanya pemuas nafsu belaka. Ada banyak hal yang harus benar-benar diperhatikan, salah satunya adalah perhatian. Jika ada wanita/pria yang memberi perhatian kepada pasanganmu dengan cara yang berlebihan, kamu harus waspada. Jadi rasanya cemburu itu normal. Yang tidak normal adalah cemburu buta. Tanpa alasan yang jelas kamu cemburu. Lah… tidak ada yang tahan, kecuali orang yang memang suka dicemburui. Sama-sama pencemburu memang cocok, tapi kalau tidak, salah satu harus berkorban, demi kelancaran hubungan.

Reply

error: If I were you, I won\'t try it.
%d bloggers like this: