Kabira.

Ada hal yang terngiang ketika malam ini aku menelpon seseorang. Petuah yang sangat sederhana itu membuat aku sekali lagi memikirkan apakah aku harus memperjuangkan hal yang telah lama ini atau mengakhirinya, karena mulaipun tidak ada perubahan yang dapat dilihat dengan mata.

Ini bukan tentang Friends With Benefit yang menonjolkan dua orang sahabat yang saling menguntungkan satu sama lain. Tapi melihat keadaan kita sekarang, aku merasa bahwa kita dipertemukan oleh takdir.

Ia berkata bahwa, percuma saja mengejar seseorang yang tidak pasti. Lebih baik belajar mencintai orang yang mencintai kamu dibanding berharap untuk mendapatkan balasan yang terkadang mengecewakan.

Cukup lama aku dan dia telponan. Berawal dari jam 10 kurang, hingga jam 12 ini. Aku benar-benar tidak ada ide sama sekali akan berbicara apa dengan dia. Dalam dua jam tersebut aku merasa telah melihat biografi seseorang. Dia menceritakan dari kecil hingga dewasa, dari orang yang brengsek jadi orang yang lebih selektif bahkan terbiasa akan hibernasi.

Aku tidak mengenal dia dengan dekat. Tapi sesaat ini, aku merasa bahwa kita adalah teman. Aku pertama kali jumpa dia sepuluh tahun yang lalu, dan mungkin 5 tahun yang lalu, tapi aku tidak sempat bercengkrama dengan dia. Hanya sebatas kedipan mata.

Dia menceritakan tentang cinta pertamanya, yang ia kagumi dari kelas satu SMP, hingga ia mendapatkan cinta pertama itu, namun tidak lama, mereka putus, dan takdir membawa mereka lebih dekat untuk 3 tahun di SMA. Lalu ia berhasil pacaran hingga dua tahun, mungkin lebih, dengan seseorang di sekitar kompleks rumahnya. Sebelum akhirnya ia jadian dengan temanku waktu SMA, dan sampai saat itu kenangan dia akan cinta pertamanya masih terukir jelas.

Hingga ia bercerita tentang pacar terakhirnya. Pacar terakhirnya itu sudah bukan pacarnya, baru putus beberapa hari. Aku sendiri tidak tau kenapa tiba-tiba kita menjadi dekat, memulai hubungan satu per satu, dari hal yang dasar hingga ke hal yang lebih bermanfaat.

Banyak sebenarnya yang dapat aku ambil, tapi untuk saat ini, entah kenapa aku tidak ingin masalah yang ada di dapan mata tidak terlihat. Aku ingin, untuk sementara ini, menikmati hidup sebagai makhluk sosial.

Awalnya aku iseng, aku bilang aku ingin ke kota tempat dia tinggal saat ini. Aku ingin ditraktir. Terus dia nyanggupi, bahkan dia sudah berniat membawa aku jalan, traktir dan sebagainya. Dan dari situlah yang berawal dari sms berakhir di telepon.

Kring…Kring… Mungkin seperti itulah bunyinya, iya, aku yang menelponnya, karena dia tadi kasih pulsa, dan untuk pertama kalinya ada orang yang berbuat seperti itu. Pulsa.

Tidak aku tidak tau banyak tentang dia, aku sudah jelaskan diatas. Tapi aku punya perasaan dia akan masuk ke dalam ruang lingkup teman. Teman.

Aku jarang menganggap orang teman. Aku jarang merepotkan mereka, begitu juga yang ia tuturkan. Ia tidak ingin merepotkan orang, apalagi itu hanya kebutuhan dia semata.

Well. Di cacatan yang tidak terarah ini, aku harap, perasaan aku yang bahagia ini tersalurkan. Tidak, aku tidak mengharap apa-apa, aku hanya mengharapkan adanya orang baru yang masuk, dan membawa efek besar di dalam hidupku.

Reply

error: If I were you, I won\'t try it.
%d bloggers like this: