Konteks dan Teks

Sebenarnya saya adalah orang yang paling gak ngerti apa itu konteks dan teks. Seperti kasus Ahok kemarin, ada yang bilang videonya dipotong sehingga keluar dari konteks. Konteks itu apa sih?
Berdasarkan KBBI, konteks adalah bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna; 2 situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian.
Nah, teks atau tekstual sendiri adalah  1 naskah yang berupa a kata-kata asli dari pengarang; b kutipan dari kitab suci untuk pangkal ajaran atau alasan; c bahan tertulis untuk dasar memberikan pelajaran, berpidato, dan sebagainya

Konteks dan Teks dalam Ruang Lingkup yang Lebih Kecil

Bagaimana menghubungkan konteks dan teks ini? Saya sendiri bingung sih sebenarnya, karena di dalam aplikasi sehari-hari kita cenderung jarang menggunakan konteks maupun teks (dari tekstual). Dari sebuah situs web, saya menemukan bahasan yang sangat menarik, yaitu Islam yang Tekstual dan Kontekstual. Dikutip dari situs web tersebut,

Memahami Islam tidak cukup hanya lewat teks, tapi juga harus memahami konteks. Keduanya harus dipahami dan tidak bisa ditinggalkan. Kalau anda melulu melihat teks maka anda akan terpaku dengan teks dan memutar kembali jarum sejarah ke jaman onta. Kalau anda hanya berpegang pada konteks dan melupakan teks maka anda akan seperti anak panah yang lepas dari busurnya.
Konteks dan Teks,
Konteks dan Teks Sumber: https://brocku.ca/
Secara umum, yang dapat saya pahami bahwa tekstual biasanya terdapat pada rangkaian cerita yang dapat diadaptasi pada kehidupan sekarang, namun banyak juga faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi, yang tidak ada di jaman dahulu. Untuk mengetahui tekstual yang dipaparkan di dalam situs web tersebut, ada baiknya dipelajari selagi masih muda. Selagi otak masih encer-encernya dan nangkep dengan cepat. Belajar ketika dewasa itu butuh dorongan yang sangat kuat, dan kerap kali lupa.

Hijrahnya Manusia

Saya selalu kagum dengan orang-orang yang hijrah. Belajar agama lebih dalam, serta mengamalkannya. Ada beberapa teman saya yang dari model pakai celana jeans hingga sekarang lebih memilih menggunakan rok, atau gamis. Setiap obrolan yang tercipta selalu mengejar kebaikan dan Ridha Allah. Sebenarnya saya bukan penulis yang suka menulis tentang Agama, karena menurut saya Agama adalah tuntunan hidup, bukan untuk diperdebatkan karena perbedaan yang kecil. Tetapi sekarang justru Agama dalam Media Sosial lebih berbahaya daripada jaringan terorisme. Nah, pas ini bahasannya. Agama yang cenderung bersifat tekstual, media sosial selalu bersifat konteks. Menggunakan Media Sosial tanpa Agama memang tidak lebih baik daripada menggunakan Agama, tetapi kalau melupakan konteks, lantas apa tujuan dari sosial di dalam sebuah medium tersebut?
So, here’s a simple mini case.
Ada seorang anak manusia, telah berhijrah, tersentuh hatinya untuk menjadi pengabdi dalam agama. Melihatnya memang sangat indah, membuat kita sebagai orang biasa, kagum. Pengajian demi pengajian diikutinya, mulai merasakan cinta dengan sang Khalik. Pengajiannya tersebut merupakan penurunan dari teks-teks yang dikaji oleh ustad/ustadzah. Banyak alim ulama yang setuju bahwa media sosial lebih banyak mudharatnya, namun bisa menjadi bermanfaat jika dilakukan dengan tepat.
Mulailah orang-orang berpikir untuk berbagi info, terutama Agama. Karena pasti akan mendapatkan pahala, pun pahala tersebut bisa merupakan amal jariyah. Tak jarang hal tersebut menjadi pemantik perdebatan, baik dari penganut agama lain, ataupun yang seagama. Sayangnya, paling sering terjadi perdebatan sesama penganut agama yang sama. Justru penganut agama lain lebih memilih diam, karena urusan agama bukanlah urusannya. Mereka terkadang selalu menerapkan ayat ke- 7 dari surat Al-Kafirun.
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Ironi. Menjadi agama mayoritas terkadang memberi hak-hak ekslusif yang tidak pernah diatur oleh negara, maupun kementrian agama. Seperti Puasa contohnya… karena yang berpuasa adalah mayoritas, sehingga semuanya harus mengikuti, apapun itu.
Begitu juga dengan media sosial. Banyak postingan mengenai agama Islam diberbagai platform media sosial. dan tidak sedikit yang mengiring opini publik. Menggiring opini publik akan selalu mengakibatkan efek bola salju (snowball). Begitu juga jika bola salju ini mengarah ke arah yang salah. Inilah cikal bakal yang membuat citra Islam menjadi jelek, selain konspirasi dunia.

Kontekstual yang Hilang dalam Media Sosial

Ada yang lebih bahaya daripada konspirasi dunia, yaitu perang saudara. Perang sesama muslim. Dalam lingkup kecil, adalah perdebatan antar sahabat. Antara sahabat yang sudah hijrah dan belum. Ada kasus-kasus anomali yang membuat bahwa manusia adalah gudangnya kesalahan. Berlindung di bawah nama hijrah, dengan pengakuan bahwa ia kerap kali ikut pengajian, lantas ia merasa bahwa ia kredibel dalam memberi informasi, atau memberi kajian tersebut.
“Niatku dakwah. Kalau orang mikirnya aku riya, Alhamdulillah jadi pahala untukku.” Dalam segi tindakan secara langsung (aksi) mungkin ini bisa diaplikasikan, jika sudah berbicara tentang media sosial, perlu dilakukan kaji lebih dalam, karena media untuk sosialisasi pada jaman Rasul adalah musyarawah atau perkumpulan “adat” di Mesjid.
Okay, khilaf. Bisa saja orang tersebut memang benar memiliki niat baik untuk teman-temannya. Tapi sayangnya, ada juga postingan yang ‘misled’ atau menggiring opini, yang dihasilkan dari teks-teks yang ada, tanpa adanya konteks.
Konteksnya apa? Postingan Media Sosial.
Teksnya apa? Prasangka.
Can’t you see it clearly?

To Sum Up

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tulis di sini, terutama mengenai media sosial, yang sekarang dengan mudah diakses oleh semua umur, anak-anak, remaja, dewasa bahkan orang tua. Pengertian setiap orang juga bisa bervariasi, sehingga perlu adanya kebijaksanaan dalam menggunakan media sosial sebelum kebebasan berekspresi itu direbut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *