“Lo kalah cepet”

Gue ga tau harus gimana. Senang atau sedih. Yang jelas semuanya sudah ketahuan. Little passage that I wrote about him. He read it. And, yeah… He told me… He just wanna be friend.
Ga tau kenapa Senin, dini hari kami berkomunikasi dengan layanan yahoo messenger. Dan ternyata, gue kalah cepat, dia sudah tau sebelumnya. Sia-sia saja gue hapus kalimat-kalimat terakhir yang nunjukin bahwa gue cinta sama dia.
Dia seperti meledek. Dia bilang apa yang gue tulis di blog gue. Tapi, malam ini gue menemukan jawabannya. Kita ga harus dicintai untuk mencintai. So deep.

“Well. Lo boleh bilang gue kalah. Tapi jujur, cuma lo yang bisa mengerti gue. Mengerti sakitnya gue, mengerti bahasa gue, dan mengerti gue segalanya.

Gue masih ingat, dulu lo susah banget ngebaca situasi gue. Lo susah untuk ngerti gue. Gue ingat banget, dulu lo sering bilang cinta ma gue, tapi gue eneg dengernya. Dan mungkin sampai sekarang memang begitu. Gue muak dengan kata cinta. Yang penting bagi gue adalah gue tau lo cinta apa ga sama gue.”

Tragis memang. Dan jujur, kalimat gue itu ga mutlak. Gue bisa bilang gue cinta ama dia sekarang, tapi nanti berubah. Yang jelas, sejauh ini, cuma dia yang bisa ngertiin, ga harus anak psikologi…
Totally, that’s all. Nite tweeps, 🙂

Reply

error: If I were you, I won\'t try it.
%d bloggers like this: