Maaf. Tentang Rasa.

Situasinya seperti ini.

Kamu senang sama satu ras, misalnya India, atau yang lebih akrab disebut desi. Kamu berusaha untuk membuka jaringan kamu ke sana. Terus, kamu terjerat dalam kisah klasik antar dua negara. Jarak yang terbendung oleh musim, waktu, dan juga bahasa. Kisah yang menguras rasa.

Iya begitulah kira-kira untuk menjelaskan tulisan kali ini. Bagi yang sudah membaca ‘Bandhan’, pasti paham akan hal ini. Di penghujung tulisan aku paparkan pesan yang terjadi antara aku dan Rahul.

Namanya memang begitu filmy, tidak juga itu, dia ternyata seorang Sharma. Rahul Sharma. Keluarga yang lumayan terkenal. Hari itu, aku merasa seperti kembali ke jaman sekolah. Mengirim tanda cinta satu sama lain, hanya dalam form yang berbeda, dan juga kata yang lebih dalam.

Mungkin, untuk beberapa orang, bisa bermain-main akan kata-kata manis itu. Namun ada juga yang tidak bisa memainkannya, tidak jarang bahwa kata itu masuk ke dalam pikiran.

So, what’s on my mind.

Balik lagi pada situasi di atas.

Mungkin hati ini marah, karena terlalu lama didiamkan oleh pemiliknya. Ia butuh perhatian, dan juga keinginan. Inginnya adalah untuk dapat hidup berdampingan dengan orang-orang desi yang selalu dapat memukau dengan tradisi mereka.

Walaupun, tradisi yang ada di melayu, bahkan jawa sekalipun tidak jauh berbeda. Di jawa ada wayang yang menceritakan Mahabharat dan Ramayana. Begitu juga dengan kami, para penghuni pulau andalas. Tidak jauh berbeda.

Yang membuat beda adalah fakta bahwa India memang sudah lebih maju dari dulu. Mereka adalah orang-orang hebat. Tidak heran jika ada pernyataan bahwa “we’re everywhere.” dari orang India sana.

Dulu, waktu masih mengerjakan skripsi, ketika bermain ke Lab Computing, aku juga melihat ada dua orang, lelaki, berperawakan India, dan kulitnya sangat coklat.

Begitu juga dengan oracle UPH. Katanya.

Juga berbunyi fakta bahwa karena mereka tidak dihargai sepantasnya, mereka lebih memilih keluar dari India. Untuk hidup yang lebih baik.

Menurutku benar juga sih. Di sana masih tergantung murah, dan pendapatan juga kecil… ya kecuali kamu sudah lalu lalang di industri Bollywood yang mainannya Lakhs, Crore… pastinya tidak merasa kekurangan.

Ya begitu gambaran bagaimana orang melihat orang India.

Dan aku… sempat bermimpi… mengenakan saree, bahkan lehenga choli maupun mehndi. Dan, tentunya pasangannya pakai Sherwani atau Kurta. Mungkin kalau Punjab agak terlihat ‘aneh’ pake Sherwani… soalnya itu seringnya dipakai oleh orang Pakistan.

Indah.

Eh tapi sayang… itu mimpinya ngga bisa jadi kenyataan. Jaman gini siapa sih yang mau? Eriska Rein aja beruntung tuh bisa pake Lehenga, walaupun aku rasa itu Anarkali.

Sempat bayangin MeaKer pakai Sherwani. Dia pastinya cakep. Ganteng. Tapi ya, mungkin dia lebih pake adat jawa kali ya, dibanding Sherwani.

Oh iya. Rahul. Balik lagi.

Kemarinan dia gombal. Dia blg, dia memiliki ketertarikan tersendiri denganku. Ya seperti ‘Bandhan’ itu… tak dapat dijelaskan, hanya saja baginya, aku ini seperti Black Hole, yang dia adalah cahaya yang datang untuk menerangi… Betul sih…

Aku juga sangat senang bisa berteman dengan dia, bahkan jika kita bisa bertatap muka, itu akan lebih baik. Dulu kita sempat berbual mengenai makanan, neneknya akan memberikanku makan yang banyak… hingga jadi gendut…

Dan tadi siang, dengan random, karena chatnya juga hilang, aku bilang aku pengen bayi. Pengen punya anak… tapi kenapa harus ke dia sih. Kalau pernyataan rasanya itu benar, ya aku jadi sadar sekarang, aku ini termasuk ‘bitch’ yang sangat jahat. Tapi harusnya tidak. Harusnya. Kita jarang berkomunikasi.

Tak mungkin ada ikatan rasa… yang pernah ku anggap dekat, dan ada ikatan rasa… kini menghilang.

Tapi maaf. Ini tentang rasa. Mungkin rasaku telah mati bersama dinginnya malam. Mata yang memandang dari dalam kegelapan tidak lagi perduli akan aku. Ntah terjatuh atau dalam bahaya, ia hanya menonton.

Begitulah tentang rasa. Ia susah berpaling. Jika rasa percaya akan hati, maka habislah pengharapan. Habis sudah untuk berharap bertemu dengan orang-orang baru.

Okay. Ini udah mulai ngaco… Udah ngantuk.

Sign off dulu.

BHAY.

Reply

error: If I were you, I won\'t try it.
%d bloggers like this: