Menjaga Pandangan

Orang bilang hari Selasa adalah hari yang kurang beruntung. Segala yang terjadi pada hari itu bisa saja akan membawa petaka untuk hidupmu kelak. Untuk hari ini, Selasa, 27 Februari 2018… saya melepaskan semua hal itu, namun berakhir dengan menjaga pandangan, untuk saat ini.

Bagi siapapun yang ingin membaca tulisan ini lebih lanjut, ada baiknya membaca postingan sebelumnya di sini. Masih tentang orang itu, seseorang yang memiliki motto “Pursue the Hereafter, the world will come along.” yang hari ini menunjukkan sisi lucunya. Hal ini membawa ke paradigma tentang bidadari (yang setara untuk pria), bahwa itu nyata dan dapat dirasakan.

Imam,

Topik ini akan menjadi topik yang paling sering dibicarakan oleh Ukhti-Ukhti yang sedang mencari Imam-nya. Untuk berlian satu ini, rasanya akan menghasilkan sebuah suara bulat, yaitu dia adalah berlian.

Hari ini saya menghabiskan hari bersama orang itu. Membuat saya mengenal orang itu lebih dalam dan membuat saya sadar bahwa saya harus menjaga pandangan. Ditegur oleh seorang sahabat membuat saya gamang. Kenapa hati ini gampang berpindah? Kenapa rasa gampang sekali muncul? Kenapa harus sama orang lajang?

Bukan, saya bukan seorang yang suka dengan suami orang. Saya merasa lebih aman jika berinteraksi dengan suami orang karena banyak terdapat batasan yang  menjaga saya. My idea is, you’re married, I don’t want to interfere your life, I have Faizan.

That’s totally a crap.

Perasaan saya yang akhir-akhir ini sering ngambang, berpikir untuk meninggalkan Faizan, karena komunikasi kami sudah tidak lancar seperti dulu. Dia yang sering pundung karena jarang diperhatiin, saya yang sering lelah ketika sampai di rumah. Seolah ini memang saatnya untuk mengakhiri.

Mengakhiri sesuatu sungguh tidak mudah, dibutuhkan keteguhan serta keberanian untuk mengubah sesuatu yang disebut kebiasaan. Saya bukan Riya Somani yang gampang meninggalkan sesuatu karena ia sudah tidak ingin atau ketemu halangan di dalamnya.

Stalker

Satu hal yang membuat saya takjub, hingga saya harus menjaga pandangan saya kepadanya, yaitu diam-diam dia memperhatikan profil Instagram saya. Ini memang kasus receh sih, tetapi caranya dia menyelesaikan (atau memulai) sesuatu, tidak enak. Dengan sengaja ia membuka profil saya lalu ‘aku follow ya’. Man, what is your intention?

Saya tidak tau kenapa ia harus melakukannya di depan mata saya. Saya tidak berharap kampanye #Notisme berhasil. Seperti yang saya bilang di postingan sebelumnya, bagaikan langit dan bumi.

Kenapa sih harus ada manusia seperti itu? Orang yang menyebalkan, tetapi masih dibela oleh orang lain, dengan statement, saya sedang sensitif. Mungkin.

Safanta.pro

Bukan promosi, tetapi akun instagram saya, ‘@safanta.pro’ dijadiin lelucon oleh anak satu itu. Di dalam setingan workshop, ia menulis (pro = procurement).

Aduh Mas yang sedang mengganggu perasaan saya, itu tidak ada hubungannya dengan procurement. It’s okay. Sampai sejauh itu masih boleh dan diterima dalam akal sehat saya. Pertanyaan selanjutnya yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa dia penasaran apa yang dimaksud dengan PRO tersebut?

Mungkin malam ini, untuk melepaskan pandangan yang penuh dosa seharian, saya akan melanjutkan menulis, bisa jadi sebuah diary, atau hanya sekedar puisi. (fan)

Reply

error: If I were you, I won\'t try it.
%d bloggers like this: