Manusia itu Milik Tuhan.

Tidak kaget tentunya dengan judul diatas. Semua pasti setuju bahwa manusia adalah milik Tuhan. Jadi, tidak pantaslah seorang pacar mengatakan “Aku milik kamu.” Jikalau kita berbicara tentang kepemilikan, maka semuanya adalah milik Tuhan, bahkan orang tua pun harus rela kehilangan anaknya, kalau diambil oleh sang Khalik, sang pemilik.

Semua yang diketahui manusia adalah milik sang Pencipta, bahkan perasaan yang diberi adalah milik Tuhan. Tidak, saya tidak sedang dalam kerasukan atau apapun itu. Pernyataan di atas saya buat tidak lain karena saya menyimpulkan sendiri dari pembicaran yang secara otodidak bersama teman-teman SMA, di Kutek.

Tema yang sebenarnya kita angkat adalah tentang idealisme dan deniability seseorang. Ya, mungkin bagi yang aware, pasti sudah merasa bahwa GM (coba pikir sendiri apa itu maksudnya) di Indonesia sudah mulai berjalan dengan terbuka, mungkin untuk mengingatkan, barang siapa yang sudah menonton Cinta Brontosaurus, ataupun Demi Ucok, pasti mengerti apa maksudnya. –Intermezzo

Sayapun saat ini, menulis ini tidak memiliki sebuah landasan teori yang kuat apakah penyakit suka sesama itu berupa virus yang mempengaruhi atau memang sejatinya memiliki kelainan sendiri. Ada yang berkata bahwa ada dua kemungkinan kenapa seperti itu, karena naturalisme, atau memang bawaan dari lahir maupun didikan orang tua atau pengasuh, atau karena penemuan jati diri.

Mungkin betapa seringnya kita melihat banci. Betapa sering kita merasa kasihan terhadap mereka, berdandan seperti wanita dalam wujud lelaki. Sekarang bermunculan gay. Dimana bukan banci, tapi tidak memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis. Lebih parah yang mana? Itu hak kalian untuk menilai.

Ada empat orang, saya, dan tiga orang teman saya. Ketika kita membahas ini, ada beberapa hal yang saya anggap penting, begitu penting sehingga mulai membuat saya berpikir seperti di paragraf keempat.

Pria itu kodratnya sama wanita.

Hmm… sebuah kata yang membuat saya mulai berpikir seperti itu. Bahkan di dalam kitab manapun jelas bahwa manusia diciptakan berpasangan, sepasang, literally a pair, not same-thing paired. Dan yang mengatakan pernyataan diatas itu kembali lagi dengan pertanyaan yang filosofis dan mendasar.

Masih ingat dengan jelas. Pertanyaannya adalah:

  1. Apa arti dari pacaran?
  2. Apa arti dari cinta?
  3. Apa tujuan hidup?

Tidak panjang, tapi memerlukan waktu yang lama untuk menjawab, bukan karena takut salah, karena membuat kita berpikir lagi, dan lagi. Yang bertanya itu bukan pasukan #AntiPacaran ataupun #AntiGay atau apapun.

Saya tidak sempat menjawab semua pertanyaan itu, karena terjadi sebuah sentralisme di dalam diskusi serius dan berbahaya yang kita lakukan. Saya akan mencoba membeberkan jawaban teman-teman saya beserta jawaban saya sendiri.

Teman #1 : Buat dia pacaran itu adalah penyeleksian untuk pasangan hidup yang benar. Sedangkan arti dari cinta adalah, sebuah rasa…–ah, saya lupa, terlalu blibet bahasanya.– dan tujuan hidupnya adalah orang tua, saudara, guru, dan orang yang dicintainya.

Teman #2 : Pacaran? Ah, dia tidak sempat memberi penjelasan, yang saya tangkap adalah ia ingin hidup bersama dengan pacarnya tersebut. Dan arti dari cinta adalah? Well, dia pasti baca, dan sayapun tidak ingat dia bilang arti cinta. Yang saya ingat adalah ia mengatakan tujuan hidupnya adalah ikuti aja, atau lebih dikenal dengan let it flow.

Saya : Saya tidak menjawab apa arti pacaran. Karena tidak ditanyakan juga sih. Ketika ditanya arti cinta, saya juga lupa bilang apa, kalo yang baca tolong ingetin dong, yang saya ingat tujuan dari hidup saya adalah bahagia.

Teman #3 : Pacaran bagi dia adalah untuk hidup bersama nantinya, dan arti cinta adalah Tuhan begitu juga tujuan hidupnya. Dia juga menjelaskan bahwa cinta itu adalah penerimaan, seperti kita telah menerima cinta dari sang Pencipta, dan kita mencintainya.

Iya, teman saya yang jawab ini memiliki kepercayaan lain dengan kita bertiga. Tapi tidak itu tujuan saya. Menyadarkan saya bahwa saya ini milik Tuhan, dan harus mencintai Tuhan.

Dan diskusi berbahaya kitapun menyadarkan saya bahwa saya beruntung bisa memiliki teman seperti mereka, yang bisa diajak ngomong dari A-Z, dari agama sampai melenceng, hingga seksualitas yang juga tidak memiliki makna untuk kita.

Terkadang, saya ingin mengajak dua orang teman saya untuk bergabung, tetapi saya tidak bisa mengajaknya, karena ada batasan. Batasan yang membuat saya menjadi kurang yakin dan kurang nyaman untuk memperkenalkan.

Dari situlah saya berpendapat bahwa keyakinan diri seseorang itu straight atau tidak adalah tergantung kepercayaan terhadap Tuhan. Dan itu juga menandakan bahwa manusia seharusnya komitmen, sebagaimana sang pencipta telah berkomitmen, meskipun kita tidak tau apa yang telah dijanjikanNYA, tapi pasti ditepatiNYA.

Hal ini yang saya kembangkan dengan freedom of choice. Karena setiap manusia berhak menentukan ia menjadi apa, apakah ia menjadi manusia yang benar, atau lari dari jalan seharusnya. Manusia tersebut yang bisa menentukan, dan manusia tersebut yang menjalani.

Sekian, koreksi dipersilahkan.

Reply

error: If I were you, I won\'t try it.
%d bloggers like this: