Ayat-Ayat Cinta 2

Ayat-Ayat Cinta 2

The Greatest Love Story

20172 h 05 min
Overview

After losing his beloved wife, a man try to cope the tragedy with his involvement with everyday chores in hope to find a salvation.

Metadata
Runtime 2 h 05 min
Release Date 21 December 2017
Details
Movie Media Cinema
Movie Status Scheduled
Movie Rating Not that bad
Images
No images were imported for this movie.

Satu kata untuk film ini, Aisha Berwajah Hulya. Ayat-Ayat Cinta 2 ini memang diharapkan untuk mendapat perhatian yang lebih besar dibanding pendahulunya. Pemilihan pengarah musik ke Melly Goeslaw memang menjadi harapan bahwa film Ayat-Ayat Cinta 2 ini lebih mewah dibanding film-film produksi MD sebelumnya.

Film ini berasal dari sebuah novel-yang juga merupakan sebuah lanjutan-dari seorang novelis yang terkenal dengan novel-novel dakwah dalam drama dan cerita. Tidak puas dengan hasil Ayat-Ayat Cinta, akhirnya si penulis membuat bersama SinemArt melahirkan Ketika Cinta Bertasbih, yang diputuskan menjadi 2 bagian.

Hal yang selalu terjadi adalah banyak penonton yang suka membandingkan antara novel dan filmnya. Seakan novel itu menjadi garis bantu untuk filmnya. Meskipun, banyak juga yang memilih keluar dari garis tersebut dan membuat dunia sendiri.

Aisha bukanlah Aisha yang dulu

Ini memang terucap oleh Dewi Sandra, yang berperan sebagai Aisha di sequel Ayat-Ayat Cinta. Karena Aisha bukanlah Aisha yang dulu, sehingga ia membuat identitas baru, yaitu Sabina.

Di dalam dunia seni peran, memang hal yang lumrah ketika sang pemain diganti. Alasannya beragam, ada karena kontrak habis, keputusan tidak mau jadi aktor, atau lainnya. Namun sayangnya, salah satu kesalahan dari proyek mega besar ini adalah menggantikan Rianti Cartwright yang dulu berperan menjadi Aisha. Alasan yang terdengar hingga ke telinga penonton adalah karena Rianti telah berpindah agama. That’s ridiculous, to be honest.

Alasan paling masuk akal sih sponsor. Wardah menjadi salah satu sponsor dalam proyek mega besar ini, sehingga Dewi Sandra pun menjadi pilihan yang tepat untuk menjadi wanita dibalik cadar tersebut. Tetapi tetap saja, Aisha bukanlah Aisha yang dulu.

Keira dan Jason

Ayat-Ayat Cinta 2
Hulya dan Fahri University of Edinburgh

Lokasi cerita memang di Edinburgh, salah satu kota di Scotland, yang sangat tinggi nilai sejarah dan pendidikannya. Fahri yang tinggal di kawasan mid-elite, memiliki tetangga seperti Nenek Catarina yang Yahudi, Brenda yang Kristen juga Keira dan Jason yang Katolik. Terlepas dari cerita di novel, untuk di film ini, menghadirkan tokoh Keira dan Jason adalah sebuah kesalahan besar. Memang, tokoh Fahri menjadi idola para wanita, tapi tanpa adanya Keira, pesona Fahri tidak akan padam.  Belum lagi akting Cole Gribble yang masih jauh dari kata akting. Beradu akting dengan Fedi Nuril yang semakin matang adalah sebuah kesalahan. But still, it’s okay. He could learn by time.

What Should Be in Ayat-Ayat Cinta 2

Menyulap 690 halaman menjadi sebuah film yang berdurasi kurang lebih 120 menit adalah sebuah tantangan. Memilih aspek dan cerita yang harus ditampilkan juga merupakan tantangan terbesar. Di dalam novelnya, cerita ini dapat dibagi menjadi 2 buah sudut pandang, dakwah dan romansa. Sangat susah untuk bisa menggabungkan kedua sudut pandang ini menjadi sebuah petualangan audio visual.

Ada beberapa key point yang harusnya diperhatikan oleh produser. Bahwa inti dari Ayat-Ayat Cinta 2 ini adalah Aisha Berwajah Hulya. Tagline yang berusaha diciptakan oleh pihak MD juga tidak kalah menarik, The Greatest Love Story. Tetapi kisahnya sendiri tidak disuguhkan, sangat disayangkan.

Seharusnya beberapa mimpi Fahri mengenai Aisha berwajah Hulya ditampilkan, juga desakan dari Sabina untuk menikahi Hulya. Oh iya, niat Fahri untuk menikahi Sabina juga seharusnya ada. Itu adalah paket romantis yang ditawarkan oleh novel Ayat-Ayat Cinta 2.

Good Things

Nilai lebih dari film Ayat-Ayat Cinta 2 ini adalah karakter Misbah dan Hulusi yang menjadi pengalihan cerita kebosanan di hidup Fahri. Fedi Nuril semakin dewasa dalam kepiawaiannya berakting, begitu juga Tatjana Saphira yang telah berhasil memerankan Hulya dengan begitu apik. Dewi Irawan yang memerankan Nenek Catarina menjadi salah satu unsur terbaik di dalam film ini.

Ah iya. Tidak lupa juga musik-musik yang telah diciptakan oleh Melly Goeslaw serta lagu-lagu yang menjadi pengiring dalam beberapa adegan di film ini.

To Sum Up

Film ini terlalu hampa untuk dilabelkan dengan The Greatest Love Story. Terlalu drama untuk disandingkan dengan komedi. Terlalu dangkal untuk menjadi sebuah media dakwah. Mencintai cinta, bukanlah sebuah dakwah, melainkan pemikiran-pemikiran filsuf, bukan filologi.

Film ini bisa lebih romantis jika membahas tentang desakan orang di sekeliling Fahri, seperti Paman Eqbal Erbakan, Ozan serta keluarga Hulya. Tidak hanya sekedar Hulusi yang suka menggoda Fahri.

Bisa lebih romantis dengan menghilangkan karakter Keira, yang tidak membawa apa-apa di dalam cerita Ayat-Ayat Cinta 2.  Mungkin Hanung Bramantyo tidak disukai karena pemikirannya yang agak nyeleneh, tetapi percayalah, garapan Hanung Bramantyo di Ayat-Ayat Cinta, meskipun tidak menggunakan lokasi yang tepat, memiliki nilai dan pesan yang lebih kuat dibanding Ayat-Ayat Cinta 2 ini.

Film ini membuat karakter Fahri yang setia kepada Aisha menjadi lebih gampangan. Tidak ada desakan dari keluarga besar, tidak ada komentar dari Hulya mengenai kesendirian Fahri, tidak ada desakan dari Sabina untuk menikahi Hulya. Tidak ada gambaran bahwa Hulya sangat mirip dengan Aisha, baik hobi bermain bola, juga puisi-puisi yang kerap dibaca ketika bercinta. Ayat-Ayat Cinta 2 bisa lebih baik daripada ini. (saf)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *