Bareilly Ki Barfi

Bareilly Ki Barfi

Bareilly Ki Barfi

20172 h 03 min
Overview

Bitti Mishra is a bohemian Bareilly girl who falls deeply in love with Pritam Vidrohi, an author because she admires his progressive way of thinking. Finding him though proves to be as hard as looking for a needle in the haystack. So Bitti seeks the help of the local printing press-owner, Chirag Dubey on her journey of love.

Metadata
Runtime 2 h 03 min
Release Date 18 August 2017
Details
Movie Media Cinema
Movie Status Scheduled
Movie Rating Not that bad
Images

Tahun ini akan ada 3 film dari Ayushmann Khurrana. Sebelum Bareilly Ki Barfi ini, filmnya adalah Meri Pyaari Bindu, namun bisa dikatakan bahwa kualitas filmnya memang jelas berbeda. Padahal Parineeti Chopra sempat digadangkan akan menjadi bintang besar, setidaknya mengikuti PeeCee. Mungkin Rajkummar Rao adalah daya tarik dari film ini. Apapun itu, Bareilly Ki Barfi adalah sebuah film manis yang tidak perlu memperlihatkan Eropa untuk merasakan gejolak emosi antara tokoh di dalamnya.

Bareilly Ki Barfi Urf Bitti

Kisahnya bermula dari Bitti (Kriti Sanon) yang membeli sebuah novel berjudul Bareilly Ki Barfi. Hal itu di karenakan keluarganya memiliki usaha Barfi (manisan) di Bareilly. Setelah membaca novel tersebut, ia menemukan persamaan yang begitu besar dengan Babli, sehingga ia merasa bahwa itu adalah dirinya. Sang penulis, Chirag (Ayushmann Khurrana) merasa bahwa tidak tepat menggunakan identitas aslinya untuk sebuah novel yang tidak begitu memiliki nilai artistik maupun literatur. Hingga akhirnya ia memaksa Pritam Vidrohi (Rajkummar Rao) untuk menjadi penulis bayangan.

Masalahnya muncul ketika sudah bertahun-tahun novel itu rilis dan hanya dibeli oleh Bitti. Bitti merasa bahwa penulis tersebut sangat mengenali dirinya, sehingga ia ingin bertemu dengan penulis novel tersebut.

Surat Menyurat di Era Teknologi

Ada beberapa anggapan bahwa teknologi menghancurkan esensi Romansa. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa film karya Yash Chopra. Film tersebut menjadi abadi karena teknologi tidak begitu digunakan. Mungkin itulah yang dialami oleh Jab Harry Met Sejal, menggunakan teknologi untuk film berjenis roman.

Bareilly Ki Barfi
© − All right reserved.

Karena surat menyurat itu, Bitti dan Chirag menjadi dekat, lalu Chirag berhasil melupakan Babli. Ia mulai jatuh hati pada Bitti. Kedua insan ini seperti dua jiwa yang memang ditakdirkan untuk bersatu. Hanya saja, ikut campur manusia membuat kisah ini menjadi penuh drama dan intrik.

Karena perasaannya yang mendalam, serta awal yang salah, akhirnya Chirag terpaksa menjemput Vidrohi, untuk memberi kesan bahwa penulis Bareilly Ki Barfi bukanlah orang yang bersahabat, sehingga pilihan Bitti akan jatuh pada Chirag, yang selalu ada untuk Bitti. Namun itulah kisah manusia, penuh dengan ego masing-masing, sehingga apa yang diinginkan jadi menjauh dari yang direncanakan.

Tanggapan untuk Bareilly Ki Barfi

Image from the movie ""
© − All right reserved.

Film ini memang lebih menarik dengan kehadiran Vidrohi yang memberikan alasan untuk Chirag berjuang lebih besar untuk mendapatkan Bitti. Tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa scene Rajkummar Rao memang sangat menawan. Namun di film ini, ia hanya sebagai side lead, sehingga memang sudah sepantasnya ia memiliki porsi yang lebih sedikit.

Jika Arjun Kapoor dan Ranveer Singh digadangkan untuk menjadi Karan-Arjun atau Batman-Robin untuk India, dari film ini dapat dibuktikan bahwa duo Ayushmann-Rajkummar adalah pilihan yang paling tepat. Karena atas kerja sama mereka, Ayushmann dapat menutupi kepiawaian Rajkummar Rao yang memang menonjol.

Rajkummar Rao memang dikenal dengan versatility-nya, serta Ayushmann dikenal dengan multi-talentanya. Pada film pertamanya, ia menyumbangkan lagu untuk filmnya sendiri. Duo ini akan dapat sukses dengan skenario apapun.

Less Heroine

Cerita Bareilly Ki Barfi memang tentang Bitti, namun Kriti Sanon tidak begitu memberikan kesan yang maksimal. Film ini hanya akan dikenang sebagai film duo Rajkummar-Ayushmann. Di kala perfilman Bollywood lagi surut, film ini memberikan gambaran bahwa penonton masih butuh film sederhana yang mengena di hati penonton. Tidak perlu ada item girl, tidak perlu ada banyak tarian dan musik yang dinyanyikan oleh penyanyi terkenal. Karena sebuah film bertujuan untuk mengantarkan cerita dari tekstual menjadi audio visual. (fan)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: If I were you, I won\'t try it.