Indonesian Movie Review: Cinta Laki-laki Biasa

Indonesian Movie Review: Cinta Laki-laki Biasa

Cinta Laki-laki Biasa

20161 h 49 min
Overview

Nania Dinda Wirawan (Velove Vexia) meets Muhammad Rafli Imani (Deva Mahenra) at a time when Rafli became a mentor when Nania did practical work on a simple home development project. Nania not only gets guidance on the science of building a house, but also guidance to lead a more meaningful life, that happiness is not built in luxury, but simplicity is colored by intimacy and sincerity. Nobody thought that Nania would eventually accept Rafli's proposal. Yet in social status, they are different like the earth and the sky. Nania comes from a distinguished family. While Rafli is just an ordinary man.

Metadata
Runtime 1 h 49 min
Release Date 1 December 2016
Details
Movie Media VoD
Movie Status Loaned
Movie Rating Not bad
Images

Perfilman kita (baca: Indonesia) memang lebih besar dikuasai oleh film-film yang diadaptasi dari novel. Seperti review Cinta Laki-Laki Biasa ini. Indonesia memiliki cukup banyak aktor, namun tidak banyak yang mau bereksplorasi dalam karakternya, atau produsernya yang masih memilih aktor. Terlepas dari semua itu, biasanya memang sudah pasti lebih bagus, karena pilihan tersebut dapat dianggap pilihan yang populis.

Cinta Laki-Laki Biasa ini memiliki masalah dengan judulnya, namun tidak ada judul yang lebih bagus dengan ini. Penempatan Deva Mahenra sebagai pemeran utamanya juga terlihat begitu apik, serta wajah keingin-tahuan Velove Vexia sangat cocok untuk memerankan Nania.

Cinta Laki-Laki Biasa

Sederhananya, kisah ini bermula dari Nania Dinda Wirawan (Velove Vexia) yang kerja praktek di salah satu pengembang perumahan. Di sana ia dimentori oleh Rafli (Deva Mahenra). Karakter yang dibawa oleh Deva Mahenra seharusnya lebih unik dan lebih terlihat ‘islami’. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa Cinta Laki-Laki Biasa ini merupakan karya dari Asma Nadia, yang sangat kental dengan nilai-nilai religiusnya.

Nania begitu tertarik dengan Rafli yang sederhana dan selalu semangat. Meskipun kerja praktek hanya 3 bulan, masa itu cukup membuat Nania tidak bisa berhenti memikirkan Kang Rafli. Bertahun-tahun Nania dan Rafli memendam perasaan mereka satu sama lain.

review Cinta Laki-Laki Biasa
Rafli membawa petai

Karena ia melihat Tole (Muhadkly Acho) yang sudah bekeluarga dan indahnya hidup bekeluarga, akhirnya ia memberanikan diri menjumpai Nania di tempat kerjanya. Kedua insan ini memang menaruh hati satu-sama-lainnya, sehingga membuat Nania berani untuk memperkenalkan Rafli ke keluarganya.

Tekanan yang diterima oleh Rafli juga tidak ringan, mulai dari suami kakak-kakak Nania yang memiliki beragam profesi. Politikus (Agus Kuncoro), Businessman (Uli Herdinansyah) dan Dosen Psikologi (Adi Nugroho). Dengan keyakinan serta kemantapan hati, akhirnya Nania dan Rafli bersatu.

Mungkin jika kita berbicara mengenai metode film India yang sering kali ada interval atau intermission, di dalam film ini juga terdapat bagian itu. Bagian awal dari film ini adalah mengenai seperti apa cinta laki-laki biasa, paruh kedua dari film ini membahas mengenai seberapa dalamnya cinta laki-laki biasa tersebut.

Retrograde Amnesia

Keluarga Nania tidak dengan gampang menyerahkan Nania kepada Rafli. Nania sempat dijodohkan dengan Tio (Nino Fernandez). Tio adalah seorang dokter yang spesial pada bidang sistem saraf dan otak. Memang tidak perlu alasan khusus kenapa Tio adalah seorang dokter, namun di dalam penulisan naskahnya, terlihat sedikit celah untuk Tio mencuri hati Naina.

Topik Retrograde Amnesia yang diangkat memang sangat jarang terjadi di perfilman bahkan di dunia sinetron kita. Ada beberapa detail yang terkadang kurang diperhatikan, misalnya sampai kapan ingatan pasien tersebut aman.

Retrograde amnesia (RA) is a loss of memory-access to events that occurred, or information that was learned, before an injury or the onset of a disease.

Secara jelas bahwa Retrograde amnesia bukanlah amnesia yang total. Sehingga ada fakta-fakta yang masih diingat oleh pasien. Di dalam cerita Cinta Laki-Laki Biasa ini, Nania menjadi korban Retrograde Amnesia. Namun ada beberapa kesalahan yang seharusnya tidak diperbuat, seperti Nania sukar mengenali ibunya. Memang di dalam scene tersebut ada Rafli, yang ia tidak kenal sama sekali.

Sebuah Akhir

Akhirnya memang merupakan perwujudan dari rasa sabar yang terus dipelihara oleh Rafli. Jika dibandingkan dengan Critical Eleven, memang Cinta Laki-Laki Biasa ini memiliki kelemahan pada tengah akhir film, sementara Critical Eleven mulai menarik penonton dari tengah hingga akhir film. Tidak ada yang salah di kedua film ini. Sama-sama film yang disadur dari sebuah novel, dengan aliran cinta.

Cinta Laki-Laki Biasa memiliki nilai lebih pada Retrograde Amnesia, namun metode penceritaan film kita masih cenderung menggunakan lini masa yang terus maju tanpa berpikiran untuk menyuguhkan adegan-adegan masa lalu yang diceritakan kembali.

Seperti Akira (Jab Tak Hai Jaan) yang membaca cerita cinta antara Samar Anand dan Meera Thapar, lalu pada masa sekarang, Samar Anand terkena Retrograde Amnesia sehingga Akira harus mencari Meera. Tidak, tidak menyarankan untuk mengikuti alur ceritanya, hanya saja metode penceritaan sebuah cerita di perfilman kita masih belum bisa dimodifikasi sedemikian rupa. (fan)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *