Critical Eleven

Critical Eleven

Not rated yet!

Critical Eleven

20172 h 15 min
Overview

Ale and Anya first met on a flight from Jakarta to Sydney. Anya was lured on the first three minutes, seven hours later they were sitting next to each other and getting to know each other through conversations and laughter, and eight minutes before separating Ale was sure he wanted Anya.

Metadata
Director
Runtime 2 h 15 min
Release Date 10 May 2017
Details
Movie Status
Movie Rating Not rated
Images
No images were imported for this movie.

Ada beberapa masalah yang membuat saya berkontemplasi mengenai ulasan film yang sedang tayang di bioskop tersebut. Critical Eleven, memiliki kekuatan dahsyat, yang bahkan tiket premiere sudah terjual ludes dalam 11 menit. Bukan suatu kebetulan semata, Critical Eleven memang memiliki kekuatan sedahsyat itu. Sedahsyat cintanya Ale dan Anya. Di dalam tulisan ini, akan terdapat dua sudut pandang, pro dan kontra.

Critical Eleven secara garis besar adalah sebuah cerita mengenai pertemuan Ale dan Anya, hingga cara mereka menyikapi masalah yang muncul satu persatu. Anya memiliki 2 orang sahabat wanita, Tara dan Agnes. Sementara itu ada Donny, yang selalu ikut mereka bertiga. Di sisi lain, Ale, yang kerap menyebutkan bahwa dirinya adalah “nobody’s favorite” mempunyai keluarga yang harmonis. Ale adalah anak pertama, Raisa adiknya dan Harris, yang memiliki postur yang sama dengan Ale, sehingga orang pasti tau kalau mereka bersaudara.

http://i0.wp.com/posfilm.com/wp-content/uploads/2017/04/CRITICAL-ELEVEN-2017-pf-2.jpg?fit=650%2C342
Critical Eleven

Contra Sentiment

Kenapa kontra duluan? Karena biasanya, menurut sentimen analisis. Seseorang cenderung menyanggah apa yang ia baca terlebih dahulu. Sehingga, pada tulisan ini-pun tetap sama, yaitu menyanggah bahwa apa yang tertulis di dalam bagian ini adalah salah. Tanpa meragukan kredibelitas orang-orang di belakang layar, kritik harus diutarakan untuk koreksi bersama. Karena hidup seorang penyeni tidak berhenti pada satu karya saja. Hal itulah yang melahirkan sebuah masterpiece.

Alur serta Linimasa

Memang menjadi omongan untuk setiap film yang diadaptasi dari sebuah novel. Membaca sebuah Novel membuat kita bebas berimajinasi sesuai dengan keinginan kita. Di dalam sebuah audio visual seperti film, semuanya serba terbatas. Sehingga sampai sekarang akan selalu sama dan akan selalu terjadi.

Namun ada yang mengganjal dari alur penceritaan Critical Eleven ini. Adegan-adegan meet cute yang mungkin merupakan fan service (untuk para pembaca) banyak yang kurang bermanfaat. Salah satu yang terlupa dalam penceritaannya adalah mengambil waktu untuk Anya dan Ale berkenalan. Sebagai seorang penonton, ingin sekali menemukan momen meet-cute tersebut. Namun sayangnya, adegan di dalam pesawat tersebut hilang begitu saja. Momen awal canggung, ‘mas’ dan ‘mbak’ lalu berganti Anya dan Ale tanpa ada penjelasan yang signifikan rasanya seperti telapak tangan yang gatal.

Momen ketika Ale memperkenalkan Anya kepada seluruh keluarganya. Tidak ada yang salah dalam adegan tersebut. Hanya saja, penonton jadi kaget, karena secara tiba-tiba Ale punya keluarga yang lumayan heboh.

We’re Living in New York

New York memang menjadi tempat yang cocok untuk hidup dalam kemandirian. Seperti karakter yang diperankan oleh Adinia Wirasti sebagan Tanya Baskoro. Hidup bersama dengan ‘the one‘ di kota paling sibuk sedunia memang pasti selalu menggiurkan.

Mungkin tim produksi sengaja mengambil lokasi New York karena Ale adalah seorang ‘lip monster‘ untuk Anya. Selain itu, New York memang terkenal menjadi kota yang penuh cinta. Terdapat cinta di seluruh sudut kotanya. Begitu juga film Critical Eleven, menyuguhkan cerita cinta di kota yang penuh cinta. Semua dialog di New York memang bagus dan memiliki kata yang begitu mendalam.

Pengenalan Karakter

Seperti yang sudah dibilang pada paragraf di atas. Perkenalan karakter dari satu ke satunya sukar terjadi di film ini. Untuk merasakan emosi yang dimiliki oleh Anya dan Ale, penonton butuh menganalisis situasi yang ada, terlebih siapa yang dapat dihandalkan untuk berbagi keluh kesah.

Aldebaran Risjad yang memiliki keluarga yang mendukung tidak begitu digambarkan di awal film, sehingga penerimaan mengenai ‘keluarga adalah rumah’ ada benarnya. Namun sayangnya ada pandangan lain yang bisa diambil, bahwa nobody’s favorite just have no one beside him.

Begitu juga dengan Anya, yang sebagian besar digambarkan di kantor, makan siang bersama dua orang sahabatnya. Perlu diadakan pengenalan karakter tersebut, karena itu yang akan memiliki peran penting di dalam film Critical Eleven ini.

The Best part of Critical Eleven

Critical Eleven
Aidan’s Parents looking so happy

Tim produksi Critical Eleven memang tidak menganggap ini proyek main-main. Dari serentetan casts yang telah dipilih serta tim produksi yang memang kompeten pada bidangnya.

Aldebaran Risjad yang diperankan oleh Reza Rahadian memang memiliki kepiawaiannya tersendiri dalam menghidupkan karakter tersebut. Bersama dengan dua aktor senior, Widyawati dan Slamet Rahardjo, sebagai Ibu dan Bapak Jendral Risjad. Hadirnya pendatang baru, Refal Hady yang berperan sebagai Harris Risjad serta pesinetron Revalina S. Temat sebagai Raisa Risjad.

Kedua sahabat karib Anya juga berhasil memainkan perannya dengan sukses. Adanya Donny (Hamish Daud) menjadi daya tarik untuk penonton sendiri. Mikha Tambayong sebagai cameo di film Critical Eleven menjadi daya tarik tersendiri pula.

Emotions

Film Critical Eleven sukses membuat perasaan penonton bercampur aduk. Merasakan hangatnya cinta, kelamnya kesendirian, serta keputus asaan yang tidak tau harus diapakan. Protektifnya Ale begitu hidup di dalam rumah tangga Ale dan Anya. Kokohnya pendirian Anya juga terlihat nyata, bahkan di depan Ale.

Tidak hanya segitu, pembicaraan dari hati-ke-hati Ibu dan Anak wanitanya serta Ayah dan anak lelakinya menjadi vital point di film Critical Eleven ini. Karena di jaman yang dewasa ini, kerap kali ikatan anak dan orang tuanya tidak begitu dekat.

Naik-turun, pasang-surutnya kehidupan pernikahan disajikan dengan apik oleh seluruh kru dan pemain film Critical Eleven. Adinia berhasil memerankan Anya dengan sangat baik dengan serentetan emosi yang dimilikinya. Meski tidak diragukan lagi, Adinia dan Reza memiliki chemistry yang begitu bagus. Mereka melengkapi satu sama lain di dalam film ini.

Scoring

Perfilman Indonesia sedang memperbaiki citra film Indonesia. Film dengan skoring musik yang bagus akan memiliki daya ikat lebih kuat dibanding yang tidak memilikinya. Dentuman musik latar belakang yang dikomposisi oleh Andi Rianto ini memang terasa begitu megah. Menyatu dengan sematan-sematan emosi yang terdapat di dalam film ini. Tidak hanya itu, lagu Sekali Lagi dari Isyana yang sengaja dibuatnya untuk film Critical Eleven ini menyatu dengan skoring Andi Rianto.

Verdict

Well, I have mixed feeling. Love the movie, but it seems lacking in many ways. I’d like to give 6.5 out of 10. Film ini memiliki kekuatan pada klimaksnya serta memberikan buayan indah pada 30 menit awal film. Bak kopi, di buat di dalam gelas, bukan cangkir dengan komposisi cangkir. Masih terasa seperti kopi, namun tidak seperti meminum kopi di cangkir. Mungkin ada yang suka dan ada juga yang tidak. Hal itu wajar di dalam kehidupan. For me, it was not that good, even audience playing their phones in the auditorium. Barely stay to focus. But I appreciate it as a well-crafted movie. (saf)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *