Beloved

Beloved

Beloved

Releasing on Eid-ul-Azha.

20162 h 13 min
Overview

The story of a Pakhtun girl who returns from Canada to attend her cousin's wedding in Swat, Pakistan and falls in love.

Metadata
Director Azfar Jafri
Runtime 2 h 13 min
Release Date 8 September 2016
Details
Movie Media VoD
Movie Status
Movie Rating Average
Images

Untuk pertama kalinya, menonton film Pakistan. Dari segi morfologi sih, India dan Pakistan tidak jauh berbeda (bukan bermaksud memberi hinaan kepada India Selatan ya). Secara linguistik, juga tidak jauh berbeda antara Hindi dan Urdu. Film Janaan ini ditemukan oleh saya di Netflix, sebuah film pengantar tidur. Namun hasil dari menonton film ini adalah begitu banyak tanda tanya serta komentar-kritik untuk film ini.

Tidak pernah mendengar nama pemainnya, mungkin kalau Fawad Khan, Mahira Khan, sudah bisa dianggap sekaliber aktor Bollywood, tetapi untuk film ini, benar-benar tidak tau siapa pemain dan apa kredibilitas yang mereka miliki. You know, when it comes to a movie, it is either Bollywood or Hollywood.

Janaan: Synopsis

Janaan Pict
Asfandyar dan Meena

Meena (Armeena Khan) telah tinggal dan hidup di Kanada selama 11 tahun. Ia kembali ke Swat, Pakistan untuk menghadiri acara pernikahan saudaranya, Palwasha (Hania Aamir). Seperti halnya dengan istilah pulang kampung atau Homecoming, ia mulai merekam segala kegiatan yang ia lakukan. Tanpa disengaja, ia jatuh hati kepada saudara sepupunya, yang merupakan anak angkat, Asfandyar (Bilal Ashraf). Namun tidak serta merta merupakan cerita cinta yang klasik, Daniyal (Ali Rehman Khan) hadir untuk menggapai cinta Meena namun ia tidak begitu serius dalam usahanya.

Family Issue

Tidak ada kejelasan apa hubungan antara Daniyal – Meena – Asfandyar. Semuanya merupakan saudara satu sama lain. Tapi konsep yang paling pasti dan jelas adalah antar saudara tidak dapat menikah. Berarti bisa saja kerabat atau saudara jauh. Ada satu poin yang sangat menarik dari film Janaan ini, bagaimana Shireen Gul (Mishi Khan) dan Waheeda (Mahjabeen Ahsan) berperan bak Bawang Merah dan Bawang Putih. Shireen Gul berperan sebagai wanita yang agak liberal di dalam keluarga ini, yang berusaha membantu dan memberikan pelajaran lebih lanjut kepada keponakannya.

Di hari pertamanya, Pash (nama pendek dari Palwasha) menceritakan bagaimana perjuangan dia bersanding dengan Sameer. Ia membawa konsep dari 5 stages of grief dari Ross dan Kessler. Selain isu keluarga, ternyata Janaan juga mengangkat isu etnis yang dibawa secara satir. Bagaimana Pukhtoon (orang Pathan) yang berkulit putih, tidak seputih orang kulit putih (white people) dengan orang yang non-Pathan, yang memiliki kulit lebih gelap.

Moral Issue

Sebenarnya perihal moral ini tidak terlalu eksplisit seperti lelucuan yang dibawa secara satir mengenai etnis tadi. Namun ada hal yang lebih besar yang mencuri perhatian, yaitu Ikramullah (Nayyer Ejaz). Di dalam film ini, ia berperan sebagai seorang yang dipandang, mungkin karena ia adalah seorang filantropi. Namun dibalik kedoknya itu, terdapat sebuah kasus yang akan seru jika diangkat menjadi satu judul film sendiri, tanpa ada embel Romantic Comedy yang dimiliki oleh film Janaan ini.

Into the Reel

Ada banyak yang mengundang pertanyaan. Bisa diasumsikan bahwa film adalah hal yang berkelas untuk orang Pakistan, sehingga harus mengerti yang namanya common sense. Berbeda dengan India, yang dapat menjelaskan common sense tersebut menjadi adegan. Secara editan, masih terkesan jumpy, namun secara cerita menjadi tidak begitu fokus. Mungkin ini adalah culture barrier, bahwa mereka tidak dapat berekspresi seperti Bollywood.

Dengan asumsi bahwa Janaan adalah film komedi romantis, seharusnya film di tengah awal sudah sangat mumpuni untuk dijadikan sebuah film komedi romantis. Hadirnya konflik baru, yang membawa suasana tense menjadikan film ini lebih dari sekedar komedi romantis. Drama.

Dari segi akting dan penampilan, mereka memiliki standar yang sudah bagus. Hanya saja, Hania Aamir lebih menjual daripada Armeena Rana Khan, serta Ali Rehman lebih camera face dibanding Bilal, meskipun Bilal memilki sebuah lesung pipi.

Culture

Berusaha untuk mengenalkan budaya di Pakistan, yang tidak jauh berbeda dengan India memang susah dan gampang. Berusaha terlihat mewah, seperti kebanyakan film Bollywood. Padahal sekarang kiblat Bollywood sudah bergeser menuju cerita yang otentik ataupun film yang bertema kolosal. Sapaan yang selalu mereka gunakan baik itu dalam bahasa Pashto ataupun Urdu, yaitu Assalamualaykum dan Walaykum-us-salaam.

Di awal filmnya juga Meena sempat membahas mengenai tanggapan media mengenai Pakistan yang tidak sepenuhnya benar menjadi nilai lebih untuk film ini. Bahwa terdapat insecurities yang teramat sangat tinggi di antara mereka. Untuk melihat jembatan antara modern dan kuno-nya ajaran Islam, budaya di Pakistan adalah salah satu yang tepat.

Mereka dilatih untuk memegang senjata, untuk berjaga-jaga ketika ada yang menyerang (defensive order) dan di dalam cerita Baginda Rasulullah pun tidak dijelaskan secara eksplisit, tetapi para sahabat mesti sangat lihai dengan senjata.

Screen Writing

Poin dari film ini ada di sini. Premis yang disajikan tidak begitu terealisasikan dalam bentuk komedi romantis. Ketegangan muncul ketika Asfandyar dan Ikramullah bersiteru dan ‘diam’ adalah solusi paling cepat yang dapat diraih. Oh man… tidak seharusnya membawa tema tersebut di dalam sebuah film yang seharusnya memiliki kesan romantis. Komedi, iya, Ali Rehman menyelamatkan hal tersebut. Romantis? Definisi romantis tidak dapat disederhanakan menjadi ‘suka sama suka’. Harus ada usaha di kedua belah pihak.

Shireen Gul dan Waheeda telah memainkan porsi mereka dengan sangat apik, tetapi justru tidak begitu menolong dalam premis tersebut. Hadirnya sang produser di dalam adegan juga tidak begitu membantu dalam cerita. Namun, untuk mencapai akhir yang seperti itu, memang diperlukan konflik yang beragam. Alangkah menariknya jika masalah muncul dari sisi Pash-Sameer serta penerimaan keluarga dan penemuan cinta Meena dan Asfandyar. Well, it is not that bad at all. (saf)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: If I were you, I won\'t try it.