Orang-orang yang disebut Sahabat

Katanya menulis itu butuh latihan yang sering. Kemampuan menulis tidak lahir begitu saja, meskipun ada beberapa orang yang lihai menulis meski tidak belajar secara ekstensif. Tulisan kali ini bertema sahabat, atau orang yang disebut sahabat. Orang-orang seperti inilah yang kerap kali kita lupa, kita terkadang selalu mencari yang serupa dengan kita. Kita cenderung mencari yang hobinya sama, yang memiliki pemikiran sama, padahal ada juga orang-orang yang sejatinya mirip dengan kita, hanya saja kita tidak berkomunikasi dengan mereka.

Kehilangan seorang sahabat memang sangat menyedihkan. Tak jarang saya menemui diri saya sedang merenung, mengingat seorang sahabat saya. Kisah ini muncul kembali karena secara tidak sengaja saya dan seorang yang disebut sahabat kembali bercengkrama setelah sekian lama.  Orang tersebut saya mention di postingan sebelum ini.

Orang yang disebut Sahabat
credit: Qasidah Memes for All Occasion

Yes, it does killing me, bring back memories, 4 years and 6 months ago.

Jika percaya mengenai yin dan yang, mungkin itulah kami. Salah seorang teman berkata bahwa kami adalah paket lengkap, yang ternyata adalah dua insan yang memiliki aura yang hampir sama, dan nyaman dengan dirinya sendiri.

Orang yang disebut Sahabat harusnya membawa kebaikan

Untuk tahapan pertama ini, terus terang, saya selalu melihat dari sini ini. Apakah orang tersebut membawa kebaikan untuk saya atau tidak. Tak jarang saya bersikap ketus dalam menghadapi orang lain, terlebih jika orang itu asing dan saya belum pernah bertemu dengannya.

Saya ingin bercerita tentang sahabat saya, untuk menghindari kecemburuan, tetapi saya pikir tidaklah pantas saya membicarakan seseorang yang sudah saya sesalkan di dalam hati saya.

Saya tidak ingin kejadian tanggal 26 Oktober 2016 terulang kembali, jadi ya… untuk yang membaca ini, perlu diketahui bahwa tulisan ini tidaklah sebuah tulisan perasaan yang manja dan rindu. Ini adalah tulisan kesadaran bahwa manusia itu harus membawa kebaikan kepada sesama.

Diskusi tentang Sufi bersama orang yang disebut Sahabat

Diskusi tengah malam itu karena saya mengomentari facebook-nya, bahwa saya suka dengan Sufism. Ajaran Sufi yang paling saya suka adalah selfless dan mencintai Allah sebagai Tuhan Semesta Alam.

His response was: Love what Rosululloh Sholollohu Alaihi Wassalam teach you

This person unknowingly broke my heart again. I want to serve Dervish Dance in my wedding tho. 

Preferensi orang sangat variatif, tetapi saya adalah orang yang lebih nyaman dengan teks, tentunya merasa keberatan jika harus berdiskusi dengan suara. Demi kebaikan bersama, akhirnya saya mengalah, untuk melayani diskusi dengan telepon tersebut.

We had a good time, his words such a dagger for me. Always lead to misleading, maybe I have to endure all the pain. There were never a story between us, but I choose to remember him as someone special, even today. (fan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *