Pilihan

Selagi masih bisa.
Kenapa engga menentukan pilihan?
Hari aku sedikit terdiam ketika salah seorang teman bergumam seperti ini “Kalau kamu yakin dia skizofrenia. Bisa jadi kamu juga.”
Iya. Bisa jadi.
Kebetulan dia satu sekolah dengan anak itu. Jadi ya sedikit mengenal gimana keras watak anak itu. Di dalam hati ini bukan lagi bertanya apakah aku suka, atau tidak. Itu sudah ku tinggalkan jauh. Aku tidak ingin mengobrak-abrik pilihanku. Aku sudah memilih diam, dan berusaha untuk tidak membuat sedikit drama.
Bisa jadi. Kenapa aku bilang bisa jadi? Karna dia begitu nyata. Aku mengaku, beberapa kali aku merasa dia menatap. Iya. Suatu perasaan yang aneh, begitu nyata, berbisik di telinga. Tapi sering kali juga aku menepis kehadiran yang semu itu.
Itu kalau penilaian itu benar.

Terus apa inti dari tulisan ini?
Aku tidak tau. Aku cuma ngerasa sedih. Useless. Setidaknya aku melakukan hal yang sia-sia.
Jika kalian bertanya, apakah aku percaya sama dia, aku bakal jawab iya. Ketika kalian bertanya kenapa aku bisa percaya. Itu yang aku tidak tau.
“Kenapa sih aku percaya? Kenapa sih aku peduli?” Di saat tidak ada untungnya untuk aku. Ada yang bilang karna aku suka, sekarang aku balik tanya, kenapa aku bisa suka sama orang seperti itu. Dengan bangganya ngaku gila, dan dengan gampangnya sok berkuasa.
Dulu, aku ngerasa kita itu cocok. Ada bagian yang kita nyaman satu sama lain. Tapi tidak, dia lebih kompleks dari yang diakuinya. Aku tidak bisa membeberkan kenapa aku masih percaya di kompleks.
Sekarang, itu semua hanya cerita. Sampai 10 tahun ke depan. Ada apa? Tidak. Aku dan dia tidak ada membuat perjanjian kita akan berjumpa, hanya aku ingin dia sukses, mengejar mimpinya yang tertinggal. Hanya itu.
Masalah yang terbesar untuk aku adalah cara untuk melepaskan diri dari masa kelam itu. Serius. Aku bingung. Aku bercerita ke siapa saja, tidak menemukan jawaban yang tepat. Sekedar “ngapain dipikirin.” Itu bukan jawaban untukku. Itu meninggalkan segudang pertanyaan. “emangnya inginku untuk memikirkannya?” Lah. Bener dong. Aku, kalau boleh memilih, aku tidak mau dekat sama dia, bahkan kenalpun gak sudi. Tapi takdir yang berbicara seperti ini.
Kepercayaan diriku itu dulu hilang karna dia. Komentar dia. Mungkin dia lupa dengan apa yang dia bilang 10 tahun yang lalu. Tapi dari dia aku sadar, aku ini aneh, dan susah diterima di masyarakat. Itu semua karna dia. Tapi apa? Sekarang? Ah… Berubah. Dia yang memberikan penerangan dalam kelamnya jalan ini. Dia yang memberi arah. Kaise? Itu gimana bisa?
Apa aku harus tetap membohongi? Apa aku harus berubah menjadi musuhnya? Apa aku sejahat itu? Tidak. Aku tidak jahat.

Aku terdiam. Masih terdiam hingga saat ini. Sekedar “hum aapke hain koun” itu tidak menjawab. Aku butuh track. Itu yang orang lain ngga ngerti.
“untuk apa kamu lakuin itu?” Ada yang bertanya. Aku ngga bisa jawab. Aku hanya diam. Karena aku merasa aku harus menyelesaikan cerita ini. Meski dia yang memulai, tapi aku tidak tahan dengan hal yang berbau misteri seperti ini. Tidak tahan.

Awalnya aku mau cerita ke salah satu dari mereka. Tapi apa daya… Komentar itu membuatku merenung. Membuat aku sadar, bahwa ini tidak nyata…

Reply

error: If I were you, I won\'t try it.
%d bloggers like this: