Sejal in Millenia Ages

Sejal in Millenia Ages

Gak tau kenapa, semenjak membaca komentar dari salah satu penonton Jab Harry Met Sejal di sebuah platform internet, membuat gue berpikir keras. Gue berpikir bahwa karakterisasi Sejal yang dilakukan oleh Imtiaz Ali bisa saja adalah seorang milenial yang haus akan perhatian dan pengakuan. Cut the shit up. Banyak di antara kita yang posting gambar swafoto ataupun postingan yang berbentuk informasi (info graphic). Itu terkadang dilakukan hanya untuk mencari perhatian.

Sejal: Definisi Bebas

Kali ini gue akan membuat sebuah definisi tentang Sejal, berdasarkan pendapat pribadi. Seperti yang telah diulas pada alinea sebelumnya. Sejal itu adalah seorang wanita mandiri dan berpengetahuan luas. Tipikal seperti ini cenderung mencari pasangan yang pintar dan mapan. Hal ini dapat dibuktikan dengan karakter Rupen, meskipun tidak begitu jelas, tetapi setidaknya itu menggambarkan Rupen. Selain mandiri, ia juga merupakan karakter yang ekstrovert, atau periang. Bahkan Anushka Sharma jera memerankan karakter yang ekstrovert, mungkin ada hubungannya dengan penjualan film? We can’t be assure of it.

Harindar Singh Nehra, atau yang biasa dipanggil dengan Harry. Merupakan seorang introvert yang berusaha bertahan hidup di Eropa. Being a tour guide is hard enough for him, but he has to. Belum bersahabat dengan masa lalunya, membuat Harry terkadang ‘takut’ untuk menjalani hubungan dengan wanita India (atau bahkan Punjab). Tapi satu hal yang jelas, Harry adalah seorang Hindustani.

Main ek Hindustani hoon … aur main jaanta hoon ki ek Hindustani ladki ki izzat kya hoti hai

Dikutip dari film Dilwale Dulhania Le Jayenge, merupakan satu identitas untuk Harry, bahwa ia dan Raj sama-sama menghargai wanita. Bahkan di IMDb ada yang mengarang bahwa Harry dan Raj adalah orang yang sama, jika Raj adalah seorang pria yang berusia 20tahun, maka Harry adalah Raj versi dewasa (atau tua). He lost Simran and Found Sejal.

Millenial Ages

Awkarin tentu tidak bisa dijadikan perumpamaan untuk Sejal. Kita anggap saja Shireen Sungkar. Selain dia terlihat seperti Indian (oh gosh, her nose is so in) juga dia pintar pada satu sisi. Selepas menikah, Shireen jarang main sinetron, terlebih sekarang menjaga dan mendidik dua anaknya, Adam dan Hawa.

Lantas apa yang dilakukan Shireen saat ini? Yap, Endorsement. Itu adalah salah satu bentuk penghasilan untuk ibu-ibu (bahkan Chelsea Islan juga). Apa hubungannya dengan Millennial?

Yap. Market.

Tadinya sih mau bawa contoh Awkarin. Tapi susah menyamakan Awkarin dan Sejal. Intinya tentang penerimaan serta pengakuan. Bisa jadi ini salah, tapi ini merupakan pendapat pribadi. Cukup banyak teman gue yang hijrah. Ada yang dari beauty chic hingga menjadi wanita yang menjulurkan jilbabnya. Ada juga yang karena seseorang, ia berubah. Hidayah adalah kerjaan Tuhan. Sebagai manusia, kita tidak pernah bisa memberikan hidayah ke orang lain.

Tidak ada yang salah dengan hijrah. Itu adalah tindakan positif dan benar. Namun yang mengganggu adalah mulai mengekposkan diri. Check in di Mesjid. Membuat caption yang seharusnya rahasia antara Tuhan dan ciptaannya, menjadi rahasia umum (mungkin hanya dipos untuk ‘teman’.

Perhati(k)an

Hal yang menarik tentang bahasan ini adalah tentang bagaimana kita memposisikan diri di media sosial. Kita tidak bisa lagi menerima mentah-mentah dari ajaran sebelum media sosial menjadi viral seperti sekarang ini. Hampir semua orang (dalam usia Millenial) memiliki akun media sosial. Setidaknya WhatsApp adalah satu media sosial yang digunakan. Damn, it’s not Nokia which just connecting people. Even Shah Rukh in JHMS promoting Apple, not like his HNY and Chennai Express movie, still with the Nokia.

Kehadiran media sosial-pun tak dapat dihindari. Ia membawa manfaat juga petaka. Drama terjadi di media sosial, namun banyak juga hal-hal positif yang terjadi, misalnya promosi secara gratis dagangan orang. Ngga ada yang salah dengan media sosial. Cari jodoh juga sekarang sudah bisa dilakukan dengan media sosial. Namun perhatikanlah media sosial yang menjadi medium untuk mencari jodoh.

Sekedar iklan gratis (tanpa berbayar) bagi yang muslim dapat membuka akun di muslima.com; situsnya bertujuan untuk menemukan jodoh (tanpa batas).

Ada banyak bukti mengenai jodoh merupakan lintas area. Ada beberapa pasangan yang gue kenal merupakan gamer dan berasal dari forum yang sama. Tidak hanya satu, ada beberapa. Jadi itu tidak menutup kemungkinan juga untuk bertemu di dunia maya.

Sejal in Social Media

Bayangkan bagaimana Sejal terlihat di media sosial? Di Facebook, Sejal akan terlihat seperti pengguna lainnya. Mungkin di Instagram akan terlihat seperti seorang traveller. Mengambil foto dari sudut dunia, bisa jadi itu kamarnya, kantornya atau sebuah pub. Bagaimana dengan Harry? Ah jangan harap. Harry akan menggunakan Facebook dengan jarang memberi update, serta paling hanya menggunakan WhatsApp atau sejenisnya. Harry is 40 and up, okay.

Bagaimana kalau Sejal adalah seorang Muslim dan carefree?

Banyak kok muslim di luar sana yang seperti itu. Coba digabungkan semuanya. Muslim, pencari perhatian (setidaknya), dan mencari jodoh. Terlihat frustasi memang, kayak gue. Tetapi semua itu adalah proses yang menurut gue tidak sia-sia. Semakin banyak pengalaman kita dengan media sosial, semakin kita mengenal beragam pengguna.

Misalnya, di Instagram. Hal yang bisa dilakukan di Instagram adalah love, comment and report. Instagram itu dulu sih sebagai media untuk menyimpan gambar. Seperti sebuah galeri, untuk dikunjungi. Tentunya harus memberikan tampilan yang terbaik. Sifat pengunjung galeri juga berbeda-beda. Ada yang memuji karya tersebut secara langsung, ada yang hanya melihat. Ada yang mencuri lihat.

Tipe penyedia galeri juga bermacam-macam. Ada yang memberlakukan tiket masuk ada juga yang open for public. Misalnya gue, Instagram gue untuk bisnis (yang belum gue maksimalin). Jadi gue ga bisa bikin instagram gue jadi private. 

Bertemu Jodoh?

If you’re like to feel the art of getting by… you could make it in every social media you have. Name it, twitter, instagram, facebook, snapchat, and other purposes social media. Gue contohnya, gue kenal beberapa teman gue dari media sosial. Tahun 2012 gue kenal Rahul, seumuran sama gue (at least we’re 92) karena Jab Tak Hai Jaan. He is Indian. Or my new friend, Faizan, a Paki Boy.

You can meet your other half in those social media if you’re so in love with the art. Kalau cuman mau yang simpel dan mengikuti syariah yang ada, ya seharusnya jangan dari media itu. Kenapa jangan? Karena bisa jadi lo adalah psikopat. Lo gak bisa dengan gampang menilai seseorang berdasarkan profil media sosial mereka. Saran gue ya cobalah pakai media seperti muslima.com, terjamin karena informasi-informasi penting ada di sana. Seseorang gak akan memberikan informasi gaji mereka jika mereka tidak seserius itu untuk mencari jodoh. Tapi kalau memiliki masalah dengan budaya, lebih baik jangan coba-coba. Percayakan saja sama Murabbi.

Attention Seeker

Buat sobat sebaya yang sudah hijrah, Masha Allah, sudah memakai baju panjang, jilbab menjulur, bahkan niqab. Masha Allah. Itu bagus. Tapi jangan sering check in di media sosial ya, itu berbahaya. Checkin boleh, tetapi jangan pada saat itu juga. Itu berbahaya.

Terlebih check in di mesjid dengan caption yang agak mengundang ghibah orang. Jangan ya. Ukhti… untuk sesama, mari kita jaga diri kita dan ukhti lainnya.

3 Replies to “Sejal in Millenia Ages”

  1. Effectіνely boys,? Mommy lastly said acter that
    tһey had copme up ith numerous silly concepts of what God did for fun, ?Wһat God actually likes іs when individuals love one aother and taкe care of one аnother like we do in our famiⅼy.?
    That made sense to Leee and Larry so Lee hugged Mommy and
    Larry hugged daddy to only make God happy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: If I were you, I won\'t try it.