Kekeliruan Sekufu

Aduh, judulnya saja sudah salah. Asal katanya sebenarnya adalah kafa’ah yang artinya kesepadanan. Tidak banyak yang mengetahui tentang kafa’ah ini, tetapi dalam praktiknya, mereka kerap kali keliru dalam mengartikan sekufu. Ada artikel yang menarik dari sebuah situs web, bahwa Usia, Harta dan Ketampanan (wajah) telah menjadi persepsi yang keliru mengenai kufu. Hal itulah yang kerap kali dilakukan oleh masyarakat jaman sekarang.

Tulisan ini dibuat atas dasar dorongan salah seorang teman yang sedang mencari jawaban atas masa depannya. Oops, I haven’t mentioned the name yet. Alright, meskipun gue ngantuk parah saat ini, tetapi daripada gue merasa berdosa karena tidak menepati janji. Yah, pake interaksi dengan pembaca pula, tapi tak apa, karena sekarang gue pengen bercerita, bukan menggurui. Because I am not someone who think highly of myself, and let others wondering alone, er, Fan, you should stop right there!

Tak Banyak yang tahu tentang Sekufu

Intermezzo dulu nih, gue masih ingat waktu gue, NM, dan AlphaRomeoIndiaEcho di meja makan. Gue bertanya ke orang tersebut, karena gue merasa muslim pasti tau apa itu sekufu. Dang! Dia gak tau apa itu sekufu. Mampus gue, apa jangan-jangan gue salah pake bahasa. But yeah, it turned out that not everyone know what is that. Phew~~!

Mungkin kalau kalian para pembaca, pernah membaca tulisan gue tentang ini, kalian pasti tau apa yang dimaksud dengan sekufu. Gue masih menggunakan sumber yang sama kok, bahkan gambarnya saja gue masih ingat.

Untuk memulai ini, sangat berat. Gue harus menguap berkali-kali, gue harus menghentikan nonton A Korean Odyssey karena mengantuk. Tetapi ada yang lebih berat, adalah untuk menyertakan bukti pendukung tentang apa yang gue akan bilang di dalam tulisan ini.

The Old Day

sekufu
Marriage

Jaman dulu sih kafa’ah itu merupakan sebuah parameter. Simsalabim, ternyata akhir tahun kemarin NU ada membahas tentang kafa’ah. Silahkan dibaca saja ya, karena gue cuman menyeret beberapa dari laman NU tersebut.

Setelah gue baca, kayaknya wajar kalau banyak yang kurang paham mengenai apa itu kafa’ah, karena di dalam syariatpun tidak dijelaskan secara eksplisit, tidak ada rujukan langsung ke dalam kitab suci Al-Quran.

Pasal tentang kafa`ah yang menjadi pertimbangan dalam nikah, bukan pada soal keabsahannya, namun hal tersebut merupakan hak calon istri dan wali, maka mereka berdua berhak menggugurkannya

Pasal tersebut ditafsir dari Madzhab Imam Syafi’i. Mungkin bagi yang paham mengenai keempat Madzhab, paham bahwa Imam Syafi’i memiliki peraturan atau definisi yang lebih bold. Pada akhirnya tidak ada satu hukumpun mengenai kafa’ah ini. Semacam hak veto lah kalau bisa dibilang.

Kafa’ah dan Peradaban

This is just my thought. Bahwa sebenarnya kafa’ah ini adaptasi dari peradaban. Pada sejarah kita mengetahui bahwa agama Islam muncul di kalangan Yahudi. Karena gue tidak begitu paham dengan agama Yahudi, daripada sok tau dan akhirnya malah menghina agama tersebut, ya gue cuman bilang ini hasil dari pemikiran gue.

Dulu masih sering terjadi perkawinan politik, putri dari Raja A menikahi Raja B atau pangeran dari kerajaan B. Seperti Jodha dan Akbar, misalnya. Anyway you can google it, Jodha Akbar, and watch it if you want to. You’d love the Sufi music and dance. Keadaan yang paling parah adalah wanita tidak dianggap begitu berharga hingga agama Islam turun ke Bhumi. Pada masa itu sangat wajar jika seorang Raja/Sultan memiliki budak, yang hanya untuk melampiaskan hasratnya.

Karena Raja/Sultan berkelakuan seperti itu, maka turunlah ke dalam sistem di masyarakat. Memilih wanita yang parasnya cantik untuk putra tampan mereka. Memilih wanita dari keluarga kaya untuk anak mereka yang kaya, kalau istilah di K-Drama adalah silver spoon.

Setelah Islam datang, maka stigma tersebut bergeser, dimulai dari para sahabat hingga meluas. Bahwa tidak ada batasan yang jelas untuk menikah, kecuali agamanya, statusnya bukan budak, meskipun di dalam Quran-ul-Kareem mengatakan bahwa “barang siapa di antara kalian tidak sanggup menikahi wanita yang beriman, maka ia boleh mengawini bukdan wanita beriman.” Di jaman yang penuh dengan kebebasan seperti saat ini, rasany sukar ditemukan budak, kecuali mungkin ART ya. Akan tetapi itu bukan budak. Para ulama sepakat bahwa parameter dalam kafa’ah tersebut adalah Nasab, Agama dan Pekerjaan. Dalam bahasa orang awam biasanya ini di kenal dengan Bibit, Bebet dan Bobot.

The Current Day

Jaman sekarang itu, meskipun sudah mulai ada yang melonggarkan ikat pinggang, eh, parameter maksudnya, tetapi masih keliru dengan tafsiran tersebut. Berdasarkan dari situs web di atas tadi, ada poin seperti Usia, Harta, dan ketampanan (rupa).

Usia. Jika kita melihat sejarah, Baginda Rasulullah dengan Ummu Khadijah menikah terpaut lebih dari 10 tahun usianya, serta janda. This is tricky, but this is the truth as well.  Pembahasan lebih lanjut bisa diminta ya, karena poin ini juga seru dibahas lebih dalam.

Harta. Ini lumayan lucu sih menurut gue. Seolah memang daftar tersebut dibuat untuk dipatahkan dengan napak tilas sejarah orang nomor 1 yang seharusnya jadi panutan sebagai muslimin. Pada saat itu Ummu Khadijah adalah saudagar yang tergerak hatinya untuk membantu pemuda tersebut. Terdapat gap yang lumayan, pada saat itu Baginda Rasulullah membantu pamannya, yang merupakan saudagar juga, tidak memiliki tabungan, apalagi deposito. Ini hanya seingat gue aja sih ya, menikah adalah cara untuk menghindari fitnah manusia.

Woman First

Ketampanan (rupa). Di dalam Quran, dibilang bahwa pilihlah wanita yang menyenangkanmu, bukan rupa. Tapi ya, perlu diingat, yang bisa menggunakan hak veto tersebut wanita. Jadi, rasanya nih ya, kalau ada wanita yang melamar kalian, tidak ada hak kalian menolak selagi agamanya sama, nasabnya bagus. Karena kalian akan dibenci oleh Allah jika menolak karena rupa.

Wanita yang Melamar

Memang akan terdapat beragam perdebatan di dalam pernyataan ini. Hah? Kok perempuan sih yang menyatakan cinta. Iya memang agak lucu sih, tetapi kalau untuk niat yang baik, rasanya tidak ada ketentuan bahwa pria yang harus bergerak duluan. Tetapi perlu diingat ya, harus pandai-pandai. Jangan karena suka-sama-suka, sehingga tidak memikirkan restu orang tua. Jangan memaksakan kehendak untuk bersama, meski itu baik, karena bagaimanapun juga, Ridho Orang Tua adalah Ridho Allah.

Kesimpulan

Gak nyangka juga ya bisa nulis sampai 900 kata dalam keadaan ngantuk seperti ini. Halah. Kesimpulan yang dapat diambil dari tulisan yang menurut gue kurang ngena, tetapi semoga yang membaca mendapatkan pesan-pesan terselubung dari sini. Bahwa Ulama sepakat bahwa kafa’ah tersebut ada tiga, yaitu Nasab, Agama, dan Pekerjaan. Meskipun di jaman sekarang sudah tidak begitu relevan, bisa diadaptasi dengan misalnya nasab tersebut tidak perlu terlalu tekstual, yaitu orang yang berjaya, dipandang dan sebagainya, melainkan keluarga yang memiliki agama yang baik, sehingga pekerjaannyapun menjadi baik.

Lupakan tentang Umur, Harta dan Ketampanan. Karena kata Rumi, “what you seek is seeking you.” jika kalian mencari atas dasar 3 tersebut, jodohnya ya yang mencari 3 hal tersebut, sehingga kemungkinan untuk berakhir akan selalu ada. Harta akan habis jika tidak pandai dalam mengaturnya, Ketampanan akan pudar dimakan oleh Waktu. Carilah yang agamanya baik, keluarganya beragama dan beriman, Insha Allah, tidak akan meleset.

Anyway, mungkin postingan selanjutnya review film Padmaavat, atau bisa jadi meneruskan dari tulisan ini.

Jakarta, 29 Januari 2018

Selamat Ulang Tahun, Papa.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *