Selamat Pagi, Jiwa yang Lesu

Selamat pagi untuk semua insan yang telah terjaga hari ini. Pagi hendaknya harus disapa dengan penuh semangat dan penuh harapan. Karena begitulah orang bijak berkata. Untuk menimbulkan semangat itu, aku akan mencoba memberi stimulan kepada kalian, para pembaca.

Bersyukurlah karena kita masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kita, masih diberi kesempatan untuk tetap bermimpi, dan membuatnya jadi nyata. Dan yang terpenting adalah karena kita masih hidup, tiada hadiah yang lebih istimewa daripada itu.

Masalah datang menghampiri? Itulah hidup. Tidak selalu berjalan sesuai dengan perkiraan, dan terkadang, kita harus mengalah untuk menang. Dan masih banyak hal lainnya yang bisa kalian temukan di internet.

Sengaja pagi ini aku luangkan waktu untuk mulai membiasakan diri untuk menulis, dan tetap menulis meski aku tidak sedang jatuh cinta, meski aku tidak sedang patah hati ataupun mencari perhatian. Sesimpel karena melalui tulsan inilah semuanya bisa terungkap, mencair bagaikan es yang berada di suhu kamar, perlahan mencair.

Mungkin bagi kalian yang kenal aku telah lama, pasti kalian merasa jenuh untuk tetap berinteraksi dengan aku. Karena aku dengan sadarnya mengetahui kekurangan diri sendiri, dan tidak ada keinginan untuk memperbaikinya, bahkan dengan alasan untuk kebaikan diri sendiri.

Ada banyak hal yang akan terjabarkan hari ini, dimulai dari kata yang mengganggu beberapa jam sebelum ini. Egois. Semuanya pasti pada tau apa penjelasan dari egois, dan bagaimana dampaknya di dalam sebuah kepercayaan, atau sebuah hubungan.

Jika sebelumnya aku mengatakan bahwa manusia tidak lepas dari yang namanya sosial, maka egois pasti akan selalu ada di dalamnya. Tidak tau kenapa, kebanyakan orang menjadi egois jika sudah berbicara mengenai hubungan.

Jauh dari hubungan baknya kekasih, sesimpel pertemanan. Pasti ada yang ingin terlihat istimewa, menarik, di antara temannya. Tujuannya itu semata mencari perhatian, mendapatkan kepercayaan. Dan salahnya egois adalah, ia tidak pernah bertanya kepada hati apakah hati. Hati tentunya suka, namun di dalam hati manusia pasti ada ruang untuk memikirkan orang lain, untuk berempati.

Dan mirisnya, masih banyak orang yang menggunakan empati untuk mendapatkan kepercayaan. Bukankah terlihat sangat egois dalam menjalin hubungan ini? Ada baiknya mari kita merenung sejenak. Bertanya pada diri sendiri, apakah kita benar-benar membutuhkannya, apakah kita tidak bisa mencari pengganti yang lebih memadai dan lebih mudah beradaptasi dengan kita? Dan serentetan pertanyaan lainnya.

Setiap orang pasti bertemu dengan yang namanya masalah, dan itu wajar. Sangat dianjurkan untuk insan sendiri dapat memikul dan menyelesaikan masalah mereka sendiri. Terkadang ada yang melibatkan orang lain di dalamnya. Untuk meminta bantuan atau sekedar malas untuk mencoba. Mencoba untuk memperbaiki kesalahan maupun keadaan.

Mungkin terkesan angkuh dengan jarangnya menggunakan kata “tolong” dan ucapan “terima kasih” terucap, tapi manusia kerap kali salah dalam mengartikan misteri yang terdapat diantara manusia ini. Selayaknya bagaimana manusia ingin didengar, dan seperti manusia yang berkata tanpa mengarang.

AH. Aku kehabisan kata-kata mengenai hal ini. Bagaimana kalau kita berpindah menuju alasan kenapa aku kerap kali menulis status, ingin kembali ke 5 tahun sebelumnya.

Iya, tahun 2008 tepatnya. Merupakan tahun dimana aku masih memiliki harapan, meski terlihat tidak mungkin, tapi aku masih percaya dengan yang namanya hati. Masih sering bermimpi yang indah, bahkan merangkai kata, dari yang indah hingga yang paling melankolis sekalipun. Kalianlah saksinya. Meskipun tidak sempat terlontar ke sini, tapi aku melakukannya lagi di tahun 2010, dan ya, kalian pasti sudah tau. Ya, tidak jauh berbeda.

Kalau kali 2010 kemarin masalahnya sesederhana ‘aku suka kamu, suka melihat kamu tidur, suka memperhatikan kamu dari jauh, dan sering merasa kehilangan ketika kamu tidak di depan mata’ pada tahun 2008 berbeda, karena untuk pertama kalinya aku memulai sandiwara sendiri.

Melibatkan lebih banyak aspek dan lebih berbahaya dibanding teman-teman yang tau, lalu mendukung, dan melupakan. Mungkin kalau kalian meminta aku untuk menceritakannya dari awal bagaimana aku bisa bertemu, hingga memberanikan diri untuk mendaftar sebagai fans nomor satu. Dengan bangga aku bisa menceritakannya dalam sekejap.

Aku masih ingat, meski dengan samar-samar, setiap sudut kota yang aku, dan dia lewati bersama, meski bukan sebagai sepasang kekasih. Masih ingat dengan sangat jelas. Mungkin aku tidak ingat semua tanggal penting yang pernah terjadi, tapi aku sangat ingat apa yang terjadi dari tanggal 25 hingga 28 April 2008. Tourney pertama.

AH. Aku mulai menghabiskan waktu. Aku jamin kalian yang sudah pernah jatuh cinta untuk pertama kali, pasti masih senyam-senyum sendiri mengingat kejadian-kejadian lucu yang kalian alami bareng si dia.

Hal tersebut yang aku sebut dengan memori. Dan aku berusaha untuk tetap membiarkannya hidup, hanya untuk menemaniku disaat aku tidak memiliki siapapun untuk bercerita. Untuk membuat aku terus bermimpi, dan terus berlari, meski jiwa ini sudah lama rapuh karena rasa itu telah pergi, dan berubah menjadi toxic.

Sekian bualan pagi ini, kalau ada waktu aku akan lanjutkan lagi, mengenai teori-teori lainnya atau sesimpel curhatan seperti ini. Jakarta, 26 Juni 2013. 5.40 A.M

Reply

error: If I were you, I won\'t try it.
%d bloggers like this: