Soulmate dan Pasangan Hidup

Soulmate dan Pasangan Hidup

Seharusnya saya fokus mengerjakan Karya Akhir, namun jari-jari saya terhenti menyentuh tuts kibor karena saya sibuk membenarkan tema di website ini. Well, it is not that bad right? And the good thing is this is SEO friendly. Kali ini saya ingin menulis mengenai pengalaman saya tentang Soulmate dan mungkin calon pasangan hidup. Saya kepikiran untuk membuat sebuah tulisan karena tulisan dari Thinking Humanity. Mungkin kalau yang sadar, kenapa di URL-nya malah soulmate-2? Iya karena yang pertama sudah terisi dengan lagu dari Belinda Peregrin yang berjudul Alma Gamela.

Soulmate

Ketika membaca tulisan tersebut, saya langsung setuju. Karena terkadang dalam pencarian soulmate, kita sering kali salah. Berdasarkan tulisan Tanaaz di Thinking Humanity tersebut,

Soulmate is Someone who is aligned with your soul and is sent to challenge, awaken and stir different parts of you in order for your soul to transcend to a higher level of consciousness and awareness. Once the lesson has been learnt, physical separation usually occurs.

Kunci dari pengertian yang dipaparkan oleh Tanaaz ini adalah ‘to challenge, awaken and stir different parts of you.‘ Ketika membaca itu saya langsung mengingat beberapa orang yang mungkin jika dilihat ke belakang, ternyata kehadiran mereka untuk menantang kemampuan saya. Selain memiliki keselarasan di berbagai sisi dan mereka sama-sama berakhir dengan wanita yang bernama Laras ya.

Lain dari pada itu, salah satu cara untuk mengetahui jika orang tersebut adalah soulmate, dengan menyadari bahwa kita telah mengenalnya dengan sangat baik meskipun baru bertemu sebentar. Pernah gak mendengar istilah atau perkataan, “Dalam seminggu, rasanya aku telah mengenalnya dari lahir hingga sekarang.”? Salah satunya itu ya begitu, karena itu adalah tanda bahwa keselarasan di antara kalian begitu kuat.

Romansa memang mengajarkan bahwa kita harus mencari soulmate, bukan pasangan hidup. Ada banyak misinterpretasi mengenai hal ini, bahwa sebenarnya pasangan hidup bisa menjadi soulmate jika waktunya datang. Saya bukan Anya yang menikah dengan alasan, ‘You know he’s the one, when you know…‘ Ayolah, alasan macam apa itu. Menurut teman saya, di dalam sebuah hubungan perlu adanya penerimaan, komitmen dan komunikasi. Tanpa disadari, itu adalah jembatan antara pasangan hidup dan belahan jiwa. Karena sejatinya, belahan jiwa adalah sesosok individu yang tanpa komunikasi, ia bisa mengerti, tanpa menerima, ia sudah paham dan tanpa komitmen.

Komitmen

Soulmate
Belahan Jiwa

Krusial memang, untuk menyatakan belahan jiwa memiliki komitmen yang terkadang tidak bisa diterima oleh rasa. Konsep belahan jiwa dari Yunani yang menyatakan bahwa kita memiliki satu belahan jiwa. Hal ini bertolak belakang dengan pendapat Tanaaz di dalam tulisannya,

Our Soulmates always arrive when we are ready for them and not a moment sooner. They arrive when we are ready to learn the lessons that we were destined to fulfill.

Dari situ dapat kita simpulkan bahwa belahan jiwa tidak hanya satu. Selain menggunakan kata non-singular, alasan lainnya adalah sebagai manusia, kita hidup dan bergerak dengan orbit yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta. Siapa yang bisa menyadari bahwa seseorang yang kita anggap belahan jiwa akan meninggalkan kita? Tidak ada.

Kekita belahan jiwa tersebut melakukan komitmen, maka akan terjalin sebuah hubungan. Hubungan dengan belahan jiwa ini biasanya akan menjadi hubungan yang dikenang. Karena secara tidak sadar, ketika bertemu dengan mereka, kita berubah.

I never had chance to have relationship with my soulmate. The love is in the air, everyone knows, but there’s no commitment. Ini mengarahkan kita kepada pengertian penemuan atau discovery. Terkadang kita menemukan hal-hal yang mendukung bahwa mereka adalah belahan jiwa kita. Kita menggunakan komunikasi untuk menemukan fakta bahwa kita selaras dengan mereka. Ada juga kita menemukan fakta tersebut bukan dari komunkasi dengan mereka, tetapi dengan kepingan-kepingan fakta yang tersebar di belahan dunia.

Life Partner

Berbeda dengan belahan jiwa, pasangan hidup terkadang bukan belahan jiwa kita. Menurutnya, pasangan hidup itu adalah,

A companion, a friend, a stable and secure individual who you can lean on, trust and depend on to help you through life. There is a mutual feeling of love and respect and you are both in sync with each others needs and wants.

Seseorang individu yang bisa dihandalkan, bisa menjadi tempat mengadu dan meminta bantuan. Jadi yang kita lihat selama ini, di dalam sebuah pernikahan adalah pasangan hidup. Namun tidak jarang yang pasangan hidupnya adalah belahan jiwanya.

Ada berbagai macam paradigma dalam memulai rumah tangga. Konon katanya, cinta bisa tumbuh belakangan. Hal ini biasanya sering di dengar dalam drama singkat antara Siti Nurbaya modern dan orang tua atau walinya. Sementara itu, ajaran yang terselip oleh Hollywood adalah bahwa kita harus mencari cinta tersebut, baru memutuskan masa depan bersama dengannya. Kedua paradigma ini tidak ada salahnya. Hanya sebatas persepsi mana yang lebih cocok dengan kultur dan budaya yang dipercaya.

Alur

Soulmate or Life Partner
Life Partner

Saya tidak bisa mengabaikan perihal alur. Ada perbedaan yang lumayan dapat dilihat dan dirasa. Jika saya pernah menyebutkan komitmen di atas, itu karena komitmen adalah salah satu faktor kunci di dalam perbedaan tersebut. Jika memiliki hubungan dengan belahan jiwa, hal pertama yang akan dilalui adalah penerimaan, karena sosok ini pasti memiliki kemiripan yang tinggi dengan kita. Setelah itu barulah menjalankan fase komunikasi. Komunikasi bisa berarti sebuah hubungan, atau hanya sekedar komunikasi biasa antar sesama manusia. Terakhir adalah komitmen.

Beda halnya dengan pasangan hidup. Hal pertama yang harus dilakukan adalah komitmen. Memiliki satu tujuan yang sama dan akan selalu bersama dalam mencapainya. Pada beberapa model, ada juga yang menjadikan komunikasi sebagai batu loncatan. Nah, komunikasi di sini dapat diartikan sebagai menjalin hubungan satu sama lain. Lalu berkomitmen untuk menjalani hidup bersama, dan menerima kelebihan serta kekurangan.

Dalam sebuah hubungan, terkadang ada istilah no U-Turn. Hal ini sama dengan komitmen. Tidak ada berbalik arah, atau kembali ke zona nyaman yang sudah ditinggalkan. Itulah komitmen merupakan nomor satu dalam pasangan hidup. Karena berkomitmen di awal akan mempermudah di akhir, sehingga membuat kita tidak capek.

Baru ini saya membaca sebuah cuitan dari Kak Dimas (Ario) yang berasal dari sebuah situs yang bersifat user generated content, yaitu cerpen.co.id. Bahwa jika sudah lama nanti, cinta bukan yang utama, tapi kehadiran satu sama lain tidak membuat capek, baik fisik maupun mental.

Capek itu…

Di saat dia seharusnya jadi orang yang paling menyejukkan hati, tetapi malah menjadi orang yang pertama membakar sumbu emosi. Di saat kekhawatirannya berlebihan, emosipun tidak bisa dielakkan. Hal-hal tersebut dapat terkumpul menjadi sebuah daya yang melawan kita. Itu membuat kita capek. Bayangkan jika ia tidak dapat menjadi teman berbicara untuk perihal kerjaan, bukannya mengalihkan rasa capek fisik dan pikiran, ia malah berkomentar, ‘Kamu kenapa sih, kok berubah?’ Don’t you get tired of it?

Seorang teman pernah berkata, ‘Gue kadang bingung ya, gue diem, orang mikirnya gue lagi marah, lagi kesal… Padahal gue diam, ya karna gue pengen diam aja.’ Hal-hal seperti itu yang bersifat sangat mendasar, namun sering disalah artikan oleh seseorang yang kita anggap belahan jiwa kita.

Mungkin bukan bidang saya, tapi ajaran Islam mengenai jodoh itu memang benar. Dilansir dari webmuslimah.com, terdapat Hadist yang berbunyi seperti ini

يَا عَلِيُّ ثَلَاثٌ لَا تُؤَخِّرْهَا الصَّلَاةُ إِذَا أَتَتْ وَالْجَنَازَةُ إِذَا حَضَرَتْ وَالْأَيِّمُ إِذَا وَجَدَتْ لَهَا كُفْؤًا

“Wahai Ali, ada tiga perkara yang jangan kau tunda pelaksanannya; shalat apabila telah tiba waktunya, jenazah apabila telah siap penguburannya, dan wanita apabila telah menemukan jodohnya yang sekufu/sepadan” (HR. Tirmidzi; hasan)

Memang definisi mengenai sekufu ini menjadi sangat rancu dan banyak yang berpendapat. Namun yang jelas adalah sekufu ini tidak lain adalah kata dari belahan jiwa. Kenapa demikian? Karena jika kita anggap sekufu adalah berdasarkan harta, Baginda Rasulullah S.A.W saja menikah dengan Ibu Khadijah dalam keadaan usia yang terlampau jauh, lebih dari 10 tahun. Serta harta Khadijah lebih banyak, pada saat itu. Hingga pada akhirnya sekufu itu menggambarkan ketidak-capek-an di dalam hidup berumah tangga.

It can be both!

Saya pernah berada pada posisi di mana saya menemukan seseorang yang bisa saya katakan seorang belahan jiwa pada saat saya sedang berkomitmen dengan orang lain. Pada saat itu saya belum paham definisi di atas. Saya hanya bisa berkata, untuk seseorang yang pernah saya pegang hatinya, “Aku yakin ini gak bakal lama, kamu sabar saja. Rasa yang aku miliki ini seperti mother’s love.” Iya, saya mengumpamakannya seperti itu. Kepada belahan jiwa saya saat itu, saya merasa memiliki sebuah sinkronisasi yang tidak bisa dijelaskan. Seolah paham apa yang ia maksud tanpa harus dikomunikasikan, seolah memiliki sebuah misi tertentu.

It turned out to be books. He loves to read, a ton of books. I was never in that position. I love to read, but it easier to watch, then. Dan yang satunya mulai memberontak, mulai kehilangan arah… Iya, rasanya memang sulit untuk menerima hal tersebut, tetapi perlu dicerna dengan matang mengenai konsep ini. Konsep yang mana akan ada satu titik di mana kita bertemu dengan belahan jiwa kita di saat kita sudah memiliki pasangan hidup. One can have both, but naturally it will lead to misinterpretation.

Iya, banyak orang yang langsung berpikiran bahwa itu adalah kata lain dari selingkuh. Sebenarnya tidak, jika memahami ada perbedaan antara belahan jiwa dan pasangan hidup. Belahan jiwa hadir hanya sementara, untuk menantang diri kita menjadi individu yang lebih baik, yang kita tidak pernah sadar kita bisa seperti itu. Yang salah adalah menambahkan perasaan serta emosional yang mendalam, atau lebih kacaunya, adalah seksualitas. Itu yang bisa menghancurkan momen seperti itu.

Butter Up

Tidak ada yang ingin rumah tangganya dihinggapi oleh orang ketiga. Maka daripada itu, perlu memahami tentang dua hal ini. Jelas-jelas merupakan hal yang berbeda, hanya saja sering digeneralisasikan dan menemukan belahan jiwa adalah awal dari menemukan pasangan hidup. Well, it’s not. We have to update our definition of cheat. Tetapi, memang ada baiknya menyatakan hal ini sebelum berkomitmen dengan pasangan hidup. Seperti yang diangkat oleh KBS2 dalam serial keluarga yang berjudul ‘My Father is Strange‘ ketika Hye Young dan Jeong Hwan merumuskan kontrak ‘internship’ pernikahan mereka.

Menurut saya, selagi satu sama lain menerima masa lalu dan berdamai dengannya, maka cemburu yang tidak jelas dikarenakan oleh hadirnya soulmate akan berkurang. Untuk para wanita, jangan malu untuk berkata, ‘Ada 2 orang lelaki yang berjasa dalam hidupku. Pertama, Ayah. Kedua, si soulmate. Dan mungkin nanti akan ada lagi.’ Berkata jujur tidak akan menyesatkan kita. Dan lelaki, kamu juga harus bisa terbuka dengan calon pasangan hidupmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *