Surat, Lagi

Lagi. Apa yang ada dibenak kalian ketika mendengar kata itu? Pasti pada menduga itu adalah suatu hal yang terjadi secara berulang, tidak ada pautan waktu, hanya berulang. Diinginkan maupun tidak.

Begitu juga kali ini. Pemilihan judul yang sengaja dibuat tidak mencolok hanya demi menutupi tujuan utama dari tulisan ini. Bukan, aku bukan lagi mencari perhatian seseorang ataupun banyak orang, aku hanya berusaha menumpahkan segala keluh-kesah di sini.

Dengan alunan ‘Awal yang Indah’ menjadi alasan tersendiri untuk aku menulis di sini lagi, menulis surat lagi. Surat yang tidak tau ditujukan kepada siapa. Karena – ah, kalian juga tau nanti.

Ada yang bilang, ketika umur sudah beranjak 20tahun, maka beban yang dipikul akan semakin berat, mulai dari kewajiban sebagai umat, sebagai anak, kakak, maupun adik, hingga sebagai suatu identitas, apakah pekerjaan, atau instansi lainnya. Dan masih ada juga bagian lain yang tidak pernah lepas dari kita, sebagai makhluk sosial. Iya, membangun jaringan-jaringan yang berlandaskan sosial, baik secara langsung, maupun melalui perantara.

Manusia itu sendiri haus akan yang namanya sosial. Hal yang paling sederhana adalah teman. Saling bertegur sapa, saling berkomunikasi, saling memberi masukan, atau apapun. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, permainan manusia semakin tidak menentu, egoisme mengendarai mereka. Dan itu mungkin menjadi alasan juga kenapa aku ingin menulis sekarang.

Mungkin, ada yang suka menjaga citra dirinya di depan teman-temannya, tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya, maupun hubungan yang akan atau sudah dijalaninya. Ada juga yang tidak memikirkan faktor ini dalam berteman. Tapi setiap manusia pasti memiliki standarisasi sendiri untuk ruang lingkup teman. Pasti punya batasan tersendiri mengenai siapa yang bisa masuk ke ruang lebih dalam, atau hanya menetap di lounge. Setiap orang pasti menerapkannya.

Aku. Aku sangat susah untuk mendapatkan yang namanya teman. Semata teman, yang bisa diajak cerita, mendengar, hingga melakukan hal-hal konyol lainnya. Seperti itulah seharusnya masa muda. Tapi aku tidak dapat menerapkannya, karena hal tersebut. Susah beradaptasi, tidak suka pada orang-orang yang dominan (dalam artian kebanyakan) banyak yang mengurangi penilaianku terhadap beberapa orang hanya karena kesalahan kecil.

Sampai di sini jelas sekali ada hal yang salah. Apakah sikap mereka, apa sikapku yang terlalu sensitif, atau terlalu tinggi dalam memberi batasan. Aku tidak tau.

Tapi hari ini, saat ini, aku sedang banyak pikiran, sedang rentan terhadap tusukan-tusukan langsung maupun halus. Dan itu juga alasan aku menulis ini, aku tidak punya teman untuk bercerita tentang hal ini. Hal yang mungkin tidak penting bagi orang lain, tapi sangat penting bagi aku, penting, sepentingnya hidup ini.

Mungkin dia baca, mungkin tidak. Tapi hal yang ingin aku sampaikan ke dia, adalah lebih baik putuskan saja komunikasi yang kalau rasanya dia gak pengen di intervene sama aku.

Nah, salah satu kesalahan di atas adalah, aku tidak bisa memberikan batasan, ini teman siapa, ataupun gimana. Mungkin dengan menutup akses-akses pertemanan yang ia tidak ingin dicampuri adalah hal yang terbaik. Dan membantuku dalam memperkecil dunia ini.

Iya, bagiku dunia ini luas, tapi aku ingin memperkecilkannya, karena sangat susah untuk menjadi makhluk yang asosial. Aku hanya ingin didengar, kalau tidak berkenan, ya jangan mendengar sama sekali, jangan memberi masukan yang aku tidak butuhkan, dan jangan menyamar sebagai teman atau apapun itu.

Aku mungkin tidak bisa memilih kata-kata, tapi setiap yang aku ucapkan itu berasal dari hati. Tidak pernah aku bersandiwara untuk menyampaikan sesuatu. Kalau itu memang tidak ada artinya, yaudah, tinggalkan saja aku di jurang yang terdalam. Karena dengan ada atau tidak adanya sosok orang seperti itu, aku akan tetap merasa kesepian, dan terus merasa kesepian.

Untuk kamu, iya kamu. Aku sudah capek. Untuk menulis, bahkan untuk menjalani hidup ini, yang mungkin tidak akan lama lagi. Aku hanya ingin minta maaf. Maaf jika selama menjadi teman aku tidak bisa memberikan masukan yang diharapkan, maaf jika aku suka mencampuri urusan-urusanmu, maaf jika aku jarang berterima kasih, maaf jika aku sering tidak sopan.

Mungkin aku dapat pelajaranku, aku mendapatinya dengan penuh air mata. ataupun dengan tawa cekikik.

Aneh bukan? Tawa dan sedih bercampur jadi satu. Mungkin ada benarnya. Bahwa aku sudah tidak waras, dan sudah tidak memiliki pikiran yang jernih. Dan untuk itu, aku minta maaf ke semua orang yang pernah aku sakiti dengan sengaja maupun tidak.

Happy fasting-soon.

^^

Reply

error: If I were you, I won\'t try it.
%d bloggers like this: