Surat Terakhir

Pagi.

Ini adalah surat terakhir yang aku tujukan ke dia.

Ini hari kelima, setelah aku atau kita mengetahui segala yang harus aku ketahui. Ini adalah surat selagi aku masih bisa mengingat dirinya, selagi aku masih bisa menyentuh rasa yang telah melayang tersebut.

Mungkin ketika kamu melihat aku yang selalu tertawa, tersenyum bahagia di setiap waktu bersama yang lain, kamu berfikir bahwa apa yang kamu lakukan itu tidak berdampak besar terhadap aku.

Kamu salah. Ketika semua itu terjadi, hal yang pertama kali yang aku lakukan adalah mencoba membiasakan lagi, sama seperti saat kita belum kenal. Mungkin benar, kita hanya teman, teman yang hanya bisa ketemu entah kapan saja, tidak terduga.

Kalau boleh jujur, selama ini aku berusaha untuk bertemu kamu, aku cari segala cara. Aku berfikir bahwa aku telah diberkahi hingga aku mengenal kamu. Ternyata aku salah, karena kamu mengelak bahwa kamu merupakan seseorang yang sangat berharga bagi saya.

Kamu pasti pernah dengan pepatah, “For somebody, there’s somebody special for them” Dan itulah kamu di mata aku, dulu. Sekarang, hal yang bisa aku lakukan hanya bertanya, dengan nada sindiran  terhadap diri sendiri.

Aku masih bisa tertawa, tersenyum karena aku sadar bahwa aku mengenal kamu adalah anugrah, dan itu membuat aku bahagia. Tapi, jauh dalam hati ini, aku menangis sendiri. Terkadang aku mengatakan diriku bodoh, karena aku sudah tau kalau hasilnya akan seperti ini. Tidak ada lagi yang bisa dijadikan batu loncatan untukku.

Jika kamu memperhatikan tweet, hingga tumblr aku, kamu pasti tau kalau sampai malam ketiga, aku masih mimpiin kamu, aku masih bilang kalau kamu itu inspirasi aku. Kamu yang membuat aku memiliki ide-ide kreatif itu. Tapi sekarang, seolah malam saja enggan menemaniku.

Untuk kamu, malam ini, pagi ini adalah doaku. Aku selalu berdoa pada Tuhan, semoga kamu selalu dijaga dalam tangan Tuhan, kamu dijauhkan dari yang namanya bahaya, kamu selalu dikelilingi oleh orang yang sayang sama kamu. Meski, aku yang jauh di sini selalu mendoakan kamu, dan ingin kamu tetap tersenyum bahagia.

Waktu sudah semakin malam. mungkin hanya segitu yang bisa aku sampaikan, aku akan menangis jika aku tidak bisa menjadi temanmu lagi. Jika itu terjadi, aku benar-benar akan menangis, dan aku bersumpah tidak akan pernah kenal sama kamu lagi.

Reply

error: If I were you, I won\'t try it.
%d bloggers like this: