Tak Bisa

Tak Bisa

 Dimulai dari tidak bisanya aku mengetik langsung di laman tumblr, dan di akhiri dengan tak bisa aku melepas bayang itu.

Where to start?

Ah iya, berhubung ini ada hubungannya dengan MeaKer, iya, mulai sekarang aku akan menyebutnya MeaKer, khusus di catatan ini, di dalam tumblr ini. Kapan itu, aku menulis surat terakhir kalinya untuk dia, ah, iya, hari Senin lalu, sekitar tanggal 11 November 2013. Aku sudah berjanji tidak akan menulis apapun tentangnya, maupun untuknya, tapi sepertinya otak ini tidak sanggup untuk terus menentang keinginan hati yang menggebu. Dan kali ini, aku memberi izin, kali ini saja, untuk (sekali lagi) menuang segala emosi, segala perhatian, hingga rasa yang ada di hati terasa hambar.

Mungkin, bagi yang sadar, aku pernah mengatakan ‘mood swing’ terlebih di akun twitter milikku. Dan itu aku alami pada hari Jum’at. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan MeaKer, hari Jum’at itu diawali dengan RamLeela, sebuah cerita yang berlandaskan literatur dari William Shakespeare. Pada saat itu, aku merasa murung, aku merasa bahwa cinta tidak seharusnya dipisahkan, iya, selain Jab Tak Hai Jaan (yang tentunya karena clip Yashji) kali ini RamLeela berhasil membuat aku menitikkan air mata karena cerita yang begitu menyentuh, cinta yang terhalang karena kebencian yang tidak membawa keuntungan bagi kedua belah pihak.

Aku sama sekali tidak ada kepikiran MeaKer, baik saat menonton ataupun sesudahnya, karena aku berusaha untuk menepati janjiku. Aku tidak mengikuti lagi perkembangan dia, apapun itu, meskipun aku sadar, hati ini pasti memberontak, ia pasti akan marah jika aku membiarkan orang yang paling ia kasihi hidup di luar sana, tanpa ada kabar, aku membiarkan hati ini tersiksa. Aku pulang malam, pada hari itu, dan disambut dengan perubahan mood yang drastis, pada saat itu aku merasa murung. Aku merasa sedih, aku tidak tau apa yang aku tangisi, tapi kerap kali air mata ini menetes, dari sebelah kanan. Dan sekali lagi, aku menekankan, tidak ada hubungannya dengan MeaKer. Aku berani jamin akan hal itu.

Lantas aku mencoba menghapus rasa itu, menghapus murung itu, tapi setiap aku berusaha, aku malah terjebak di dalam nostalgia yang bahkan itu tidak berhak untuk diulang. Hingga akhirnya aku menghabiskan waktu di depan cermin, lalu bercermin. Di dalam cermin itu aku terdiam, aku mulai memberontak. Tidak ada gunanya aku berlarut dalam memori yang tidak ada harganya, tidak ada gunanya. Aku mulai mencoba mengumpulkan energi satu per satu, mulai untuk membuat rencana. Apa yang harus aku lakukan dengan tubuhku ini? Aku belum menemukan pengganti kebahagian yang utama. Iya, MeaKer masih menjadi kebahagiaan pertama untukku, tapi karna satu dan lain hal, itu tidak mungkin. Tidak mungkin untukku mengetahui keadaannya, ataupun perasaannya.

Terlintas di dalam benakku sifat-sifat antagonis yang aku dapatkan dari Mischa Amaira. Memang, terlihat sangat menyedihkan, tapi mau diapakan juga, saat ini memang itulah yang menjadi universe untuk aku. Tidak berhasil untuk menjadi Mischa, lantas aku mencoba menjadi orang yang paling dia benci, mungkin. Kemarin, beberapa minggu, bahkan bulan terakhir ini, aku mencoba menjadi sosok yang ia idamkan, mencoba mengerti dirinya dari sisi yang jauh ini, dan juga yang sama sekali tidak ada penjelasan ini. Memang tidak ada penjelasan yang cukup, tapi aku seolah mengerti apa yang ia ingin, ketika aku menghabiskan waktu yang tidak sampai 24 jam bersama dia. Iya, tidak sampai 24 jam.

Aku mulai memakai hotpants lagi, aku mulai membuka aurat-aurat yang seharusnya ditutupi, bahkan dengan celana jeans panjang yang biasa, itu masih jauh dari kurang. Kali ini aku mencoba mencari dosa lagi, padahal dosa yang sudah banyak aku lakukan belum termaafkan. Sedih, memang. Mungkin, yang ikuti akun satu lagi, @srkianID, di sana aku pernah berkata bahwa, aku dekat dengan dia, MeaKer, membuat aku merasa dekat dengan sang Pencipta, dan jika aku dekat dengan sahabat aku satu itu, aku merasa aku menjauh dari sang Pencipta. Dunia dan Akhirat. Memang tidak sesimpel itu, bukan berarti dia benar melulu, dan yang satu salah, bukan. Tapi setidaknya aku merasakan demikian. Miris ya?

Ya paling tidaknya dengan kenyataan ini membuat aku sadar, kalau perjalanan ini belum berakhir, hidup kedua ini akan terus berlanjut hingga datang seorang imam yang akan menunjukkan jalan untukku, baik itu dunia maupun akhirat. Ya, mungkin kalau dalam keadaan sekarang, jika diberi pilihan, tentunya aku akan memilih akhirat. Kita hidup untuk mati, begitu bukan? Untuk apa di dunia bahagia tapi di akhirat disiksa? Untuk apa semua ketenaran jika berujung pada siksaan di neraka kelak? Sia-sia semua perjuangan di dunia kan? Iya, memang itu bukan perkara yang mudah, tapi sebagai manusia, aku hanya inginkan hal itu. Tidak ada yang lain, menginginkan mencium surgaNYA, dan berteman dengan bidadari-bidadari yang bermukim di sana.

Ini bukan akhir. Aku tau, kalian tau, seharusnya. Untuk saat ini aku tidak bisa, masih tidak bisa untuk lepas dari bayangnya. Bahkan sesederhana Gloves, atau sarung tangan untuk mencuci piring, mengingatkan aku akan dirinya. Gila? Mungkin. Ah… Jika membahas tentang gila, mungkin memang benar jika ada frase yang mengatakan bahwa cinta itu gila. Pada saat ini aku seperti tidak terkontrol, hidup aku tidak terarah, jauh lebih kacau dari sebelum aku dekat dengan dia.

Kemarin malam, di sevel dalam keadaan lapar, seharian belum makan, kecuali dua buah roti dari breadtalk. Mataku terhenti pada Lasagna. Rasanya aku belum pernah memakan lasagna. Meskipun bukan Circle K, tapi aku harus mencoba Lasagna. Iya, lagi-lagi karena dia. Dia suka Lasagna CK, enak, katanya. Ntahlah, itu siksaan atau masih secercah berkah yang diberi oleh Allah. Ah, apa aku harus belajar membuat lasagna yang enak, sehingga… (malas ah lanjutin kalimatnya, terkesan horror)

Tak bisa aku hindari untuk saat ini, tak bisa juga aku pungkiri indah yang terlihat, jika ia tersenyum. Jangan tanyakan rasa apa yang ada, tapi coba untuk menyadarkanku. Buat aku sadar bahwa ini salah, bahwa ini hanya godaan dunia semata. Ah, tidak, tidak mungkin kalau ini godaan dunia, jika ia bisa membuat aku lebih dekat sama sang Pencipta. Tapi tak bisa juga aku hindari bahwa aku takut, takut akan kehilangan, seperti ia takut kehilangan orang yang dicintainya. Dan aku juga takut kalau semua mimpiku jadi nyata. Aku tak bisa untuk menahan tekanan sosial mungkin akan kita dapatkan. Tidak, aku masih tidak bisa untuk akan hal itu. Aku belum siap.

Oleh karena itu, aku berdiam dulu, dan mencoba melupakan semuanya, melupakan kenangan itu, dan juga melupakan mimpi-mimpi yang sempat aku ukir indah di dalam hati ini.

Iya, harus seperti itu.

Harus berani bertindak.

Meski itu bukan pilihan, tapi harus dijalani.

Reply

error: If I were you, I won\'t try it.
%d bloggers like this: