Tentang Waktu, Cinta dan Kehidupan

Tentang Waktu, Cinta dan Kehidupan

Bukan, ini bukan suatu review film Collateral Beauty. Memang ada tersirat bahwa tulisan ini tentang waktu, cinta dan kehidupan, sementara di Collateral Beauty adalah Kematian. Ntah kenapa, kali ini aku ingin sekali menulis menggunakan bahasa Indonesia. Padahal sebagai seorang control freak, aku merasa dengan warna merah ‘readability‘ dari Yoast SEO. Baiklah, abaikan saja itu. Pokoknya aku ingin menulis mengenai apa yang ada di pikiranku selama beberapa hari ini.

Marital Status. Marriage.

Beberapa hari yang lalu aku datang ke kondangan teman SMP, di Instragam mungkin bisa dilihat dengan hashtag Fatriwed. Aku sebenarnya tidak terlalu suka datang ke acara yang penuh dengan orang ramai. Selain trauma yang aku dapatin di nikahan salah satu sahabat. Aku ingin datang ke Fatriwed adalah personalization. Rasanya enak aja gitu kalau kita diundang secara langsung, bukan sebatas share di media sosial seperti kebanyakan.

Barusan aku intip website si pengantin pria, yang membahas mengenai kenapa memilih Smesco. Aku terdiam dengan angka itu. Di atas 200 juta dengan fasilitas yang sudah lumayan lengkap memang terasa murah sih, semacam all-in-one package, tapi ya untuk seorang Nisa, itu adalah mimpi mustahil, kecuali nikahnya sama Ario Adimas. *boom*

Aku memang sedang lagi di masa yang penuh dengan kelabilan. Paska cerita (cinta) yang kandas dengan Wolfie, aku memang memutuskan untuk tidak bermimpi untuk menikah. Alasanku sih sederhana, kesiapan. Mungkin kalau Fatri sudah bersama sejak tahun 2012 lalu dalam 5 tahun mereka sudah meresmikan hubungannya di dalam catatan sipil KUA. Aku yang tidak punya pengalaman ini bisa apa toh?

Terlebih lagi, pernikahan yang aku bayangkan adalah gabungan tentang waktu, cinta dan kehidupan. Bagaimana kamu mencintai pasangan, menghabiskan waktu bersamanya, lalu menjalani kehidupan bersamanya.

Prospect

Pernah berada pada waktu di mana ingin merangkai seperti kebanyakan orang lain. Ada beberapa hal yang aku sengaja mengalah, dimulai dari pendidikan, keuangan, hingga keluarga. Mungkin si dia ga begitu paham bahwa yang akan aku korbankan itu adalah tentang waktu, cinta dan kehidupan. Dia tidak sadar akan hal itu. Namanya pria, memang selalu memiliki rasa ego yang teramat sangat tinggi. Kompromi terkadang tidak diingat oleh mereka.

Aku lupa tepatnya berapa lama kami berhubungan. Hingga akhirnya aku putuskan untuk berhenti dengan harapan yang lebih baik, tentunya. Alasan putusnya bukan karena Wolfie, tetapi karena aku yang lebih memilih karakter seperti Wolfie dibanding dia. Setiap manusia pasti ada kelebihan dan kekurangan, hanya saja kekurangan Wolfie tidak begitu berat dibanding satunya.

Wolfie vs Mantan

Wolfie itu pintar, setidaknya membahas mengenai kompleksnya penyakit kejiwaan serta fasih menggunakan bahasa Inggris, meski terkadang lebih sering menggunakan kata mengumpat, adalah sebuah kebiasaan menurutku. Aku terbiasa menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi, terlebih jika ingin mengutarakan sesuatu dari hati. Trust me, It better than using Indonesian language, at least for me and also him. Mungkin pernah juga aku tulis, bahwa sebenarnya karakter si Mantan juga gak buruk-buruk amat, cuman takdir yang berkata lain.

Di saat Wolfie terus belajar dan mengembangkan ilmunya, si Mantan malah duduk-duduk asoy bersama teman-temannya sembari bergosip, atau setidaknya ngomongin temannya satu-sama-lain. Di saat sekarang ini adalah era informasi, ia masih saja primitif, bahkan tidak berusaha untuk meberikan hadiah ‘hidup’ untukku. Sekedar mengobrol tentang reksadana atau bahkan saham yang sedang bagus akan lebih aku hargai ketimbang hanya pertanyaan ‘dimana, lagi apa, sudah makan.’ Man, you have to upgrade your knowledge.

Knowledge

Ada yang bertanya, ‘Apakah kamu mau bersama orang yang tidak bisa memuaskan gairah seksual, tapi dia memiliki wawasan luas?’ aku jawab sih sederhana, Mau. Karena bagiku pengetahuan itu seksi. Pria yang memiliki pengetahuan dan dapat dipertanggung jawabkan itu seksi. Aku bisa memujanya setiap hari, mencintainya dari hati yang terdalam. Karena orang-orang seperti itu indah.

tentang waktu, cinta dan kehidupan
Bertukar Informasi

Seperti gambar di samping. Bertukar informasi adalah kegiatan yang selalu menggiurkan. Menurutku seorang Imam yang ideal ya seperti itu, di luar kewajibannya untuk membenahi akhlak dan kelakuan istri, bertukar informasi atau mengajarkan adalah hal yang menarik.

Di dalam suatu bahasan tentang waktu, cinta dan kehidupan, tentu saja bertukar informasi adalah cara yang paling tepat untuk dilakukan. Aku selalu tertarik untuk mengetahui sudut pandang orang lain mengenai hal itu. Si Mantan, karena aku sudah tau, dan aku tidak merasa tertantang, makanya aku tidak keberatan ditinggalkan ataupun meninggalkan dia. Karena jodoh itu tidak hanya harus seiman, tapi juga se-kufu, kan?

Sesuatu tentang Waktu, Cinta dan Kehidupan

Waktu memang dimiliki semua orang, dan itu sama, tidak ada perbedaannya bahkan sedetik. Waktu juga sering dikorelasikan dengan uang. Time is money. Si Mantan yang dengan cakepnya (sarkasme) kuliah pada tahun 2012, seharusnya pada tahun 2014 ia bisa saja sudah tamat kuliah dan sudah bekerja. Tapi ia dengan kebodohannya, dan itu juga dipertahankannya, ia akhirnya masih berkutat dengan S1 hingga saat ini. Lain cerita, kalau ia menghabiskan waktunya itu untuk bekerja secara profesional, bukan menjadi tukang antar barang di toko bangunan. Itu nguli namanya, last thing that you should to to make a living. Siapa yang mau dengan orang yang suka lalai? Melalaikan waktu yang ia miliki, seolah mengayomi frasa, I am living, but not really. Iya, bisa dibilang ‘menikmati hidup’ kalau dia tidak perlu memikirkan uang bensin, antara tinggal minta ke orang tua atau sudah punya tabungan sendiri yang bisa menghidupi dirinya sendiri.

Ah cinta. Aku akui kalau dialah orang yang mungkin bisa mencintaiku dengan baik dan tulus, tetapi sayangnya ia tidak begitu cinta pada dirinya. Jika ia cinta pada dirinya, tentunya ia tidak akan menghabiskan waktu secara sia-sia, kan?

Kehidupan. Ini yang tidak akan ada habisnya untuk dibahas. Perspektif kami memang sedikit berbeda, tetapi lebih banyak samanya, kecuali perihal tuntutan untuk comply. For Godsake! We are running long distance relationship, I can’t always be there for you. Makanya aku bilang, kalau mau tebar pesona, cari perhatian, mumpung jauh ya ga salah, karena aku sadar aku tidak bisa memberikan perhatian yang dia minta. Mungkin lain ceritanya kalau dia sugar daddy ya, terkadang sugar daddy ga perlu perhatian! Hahaha. Paradoks.

Long Distance Relationship

Ya salah satu contohnya sih orang yang pernah ku taksir dulu. Dia kuliah di Jepang, untuk S2. Cewenya di Indonesia. Terus dia berkomentar seperti ini:

Although not physically by my side, she’s always in my heart (or brain. Or neurons. Wherever the memories are stored)

Menurutku itu legal dan sah. Aku rasa kepercayaan itu penting. Dan aku yang sudah jujur, tetap saja diragukan. Itu sih gak ada ampun. Mungkin untuk merangkum LDR itu sendiri adalah sebagai berikut:

  1. Selalu memiliki quality time bersama, bukan quality time sendiri.
  2. Status Quo is legit and always be in mind. Jangan kau pikir setelah dia jadi pacarmu, tak kau hargai dia. Dia punya kehidupannya, masuklah kau kehidupannya, atau kau tarik dia masuk ke kehidupan kau. Jangan kau biarkan dia di kehidupannya sendiri, lalu kau di dunia kau sendiri pula.
  3. Surprise is not hurting at all. Ya kasih surprise, mungkin tiba-tiba kau ke kotanya atau bisa saja kau kirim paket, atau sesederhana duit, jika dia mengeluh padamu bahwa ia sedang berhemat, yakinlah dia akan senang. Jangan kau kayak aku ya, ikutan bayarin kuliah dia, meskipun itu cuman Rp. 219.219, tapi gak dibalikin itu rasanya. Grrr.

Semoga gak ada lagi kisah yang menggelikan seperti ini. Semoga aku bisa bertemu dengan Wolfie versi lebih baik, atau mungkin Ario Adimas saja? Ah, perihal itu, kapan waktu aku akan ceritakan kenapa namanya bisa tercatut di blog ini. Salam hangat. (saf)

3 Replies to “Tentang Waktu, Cinta dan Kehidupan”

  1. Howdy! Thhis articcle could not bbe writgen aany better!

    Gooing thhrough thios ost rreminds me off my prevous roommate!
    He consdtantly keppt preaching bout this. I most certainly will forsard thiss article
    tto him. Fairy certain he’s oing tto ave a geat
    read. Thankss for sharing! I visiteed multiple wweb sites buut tthe adio featrure ffor audio sopngs exiwting at thiss ste is trduly fabulous.
    I aam sure thiis polst has touched aall the interrnet users, itss reallky really
    nicee post onn building upp neew webpage. http://foxnews.co.uk

    1. Hi There!
      Yeah, I wonder why your previous roommate keep preaching about this. Hope you’ll get better with your finger. It screwed. But I appreciate your comments.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *