Tersesat

Jika.
Jika aku sering bercerita menggunakan bahasa Inggris, maka izinkan aku bercerita menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Ibu Pertiwi.
Jika aku terlalu sering bercerita tentang satu orang, karena saat ini dialah yang memegang tempat terbesar di dalam hati ini, di dalam setiap helaan nafas ini.
Jika kalian bosan mendengarkan cerita tentang dia, kalian berhak melewati bacaan kali ini, karena aku akan masih tetap bercerita tentang dia, sampai kapan waktu, sampai tidak tersisa secercah harapan maupun rasa.

Maaf.
Maaf jika tulisan ini terkesan provokatif, terkesan terlalu mengambil sisi pandang korban, terlalu membuka tabir rahasia yang hinggap di dalam bongkahan memori yang ku miliki.
Maaf ku ucapkan kepada dirinya, sang aktor. Maaf karena sudah banyak bercerita, sudah banyak terlalu berharap, maaf jika aku berani menganggap kalau aku adalah teman terdekat sang aktor.
Maaf ku sampaikan kepada sang Pencipta. Maaf jika aku selalu berdoa tentang dirinya, sang aktor. Maaf atas permintaan yang terlalu sakit itu, permintaan yang terlalu egois itu, bahkan atas perhatian yang lebih ditujukan padanya, sang aktor, dibanding diri sendiri.
Maafku untuk semua pembaca jikalau ada yang bosan akan cerita yang tidak berujung ini. Jika memakan waktu lama untuk mengakhiri kisah yang tidak istimewa ini.

Tidak.
Tidak inginku untuk mengganggu setiap manusia yang aku bebankan atas cerita yang tidak istimewa ini. Bukan pula menjadi tujuanku untuk pamer, bukan, aku hanya butuh sudut pandang baru. Sudut pandang yang berbeda dari seorang pujangga cinta seperti ini.
Tidak terhitung berapa banyak doa terucap untuknya, sang aktor. Bukannya aku lupa akan tujuan hidup, tapi saat ini aku merasa kebahagiaannya lebih penting dibanding dengan kebahagiaanku.
Tidak. Ini tidaklah serangkaian drama yang aku buat. Tidak. Ini murni hasil dari pemikiran yang dicampur dengan hadirnya hati di dalamnya.
Tidak pula aku ingin mencari dukungan ataupun simpati. Aku bercerita, aku mengeluarkan beban yang aku sendiri tidak sanggup untuk tetap diam.

Diam.
Diam ini mewakili beribu pertanyaan yang tidak terucap. Perkataan yang tidak tersampaikan, dan perhatian yang tidak dapat tercurahkan.
Diam juga menjadi teman dalam menyiapkan hati ini, mengasah kebiasaan sekaligus mengajarkan kepada hati untuk tidak berharap pada suatu yang tidak pasti.
Diam pernah menjadi alasannya untuk berpikir. Apakah aku terlalu sayang, atau hanya sebatas pencari perhatian. Dan pernah menjadi caraku untuk membiarkan dia hidup.

Sekiranya kata-kata itulah yang inginku sampaikan secara detil. Aku tidak punya alasan lagi untuk berharap, tapi di setiap sholatku, wajahnya yang teringat, bahkan muncul tersenyum dalam ingatan ini. Dan namanya yang tersebut di dalam doa ini, bukan sekedar mendoakan supaya ia bahagia, juga mendoakan supaya hubungannya lancar. Semoga ini menjadi penantiannya yang terakhir. Bahkan akupun tidak lupa mendoakan untuk orang tuanya.
Aku kini tersesat di dalam hubungan ini. Jika dulu ia tersesat di dalam hatinya, kini aku tersesat sendiri, tiada yang menemani. Dulu, dia masih bisa bertanya, masih bisa mengambil jalan. Kini aku tidak bisa bertanya, tidak bisa berjalan di jalan yang sama dengan dia. Hanya doaku yang akan menghantarkan waktu untuk kita bisa saling bertemu.
Kini aku siap untuk mengakhiri ini. Aku siap untuk meninggalkan rapuhnya dia. Tapi aku sudah berjanji akan selalu ada untuk dia, kapanpun dia butuh. Aku tersesat di dalam janjiku sendiri. Janji yang aku pikir aku sebutkan untuk seorang sahabat.
Kini jika ia pergi, bukan karena jahatnya dia. Itu semua karena bodohnya aku yang tidak sadar akan semua perhatian dia. Tidak sadar akan permintaan dia, pertanyaan dia. Aku memang tidak dapat dengan cepat untuk merasakan hal yang seperti ini. Tidak. Aku tidak akan pernah bisa cepat untuk hal ini.

Seorang teman berkata, “sama-sama suka” aku bingung. Mungkin kemarin aku mengelak jika dibilang aku memiliki rasa, tapi kalau dia… Aku tidak pernah bisa mengetahui apa tujuannya. Aku tidak yakin kalau dia juga memiliki rasa itu, meski tidak begitu kuat.
“Cowo kalau dibangunin, biasanya dia marah. Ini udah dapat izin, dan dia bahkan berterima kasih akan hal itu.” Tambahnya. Aku lebih bingung. Aku lebih merasa aku hina. Seharusnya bukan aku yang melakukan hal itu. Aku tidak pernah mendapat tempat di hatinya, rasaku.
“kalau memang kalian diciptakan untuk satu sama lain, dia akan kembali.” Lagi, aku merasa terdorong untuk berharap. Waktu akan menjawab semuanya. Waktu.
Menyesal? Tidak. Aku tidak pernah menyesal jika itu semua untuk kebaikan dia. Meskipun untuk hal satu ini bukan untuk kebaikan dia. Aku tau persis kisah itu seperti apa, tapi aku memilih untuk membiarkan ia belajar bahwa cinta tidak harus memiliki.

Terkadang, aku rindu akan suaranya. Rindu akan pesan yang masuk. Hanya saja ia tidak milikku, dan tidak pernah menjadi milikku. Tapi aku bersyukur, perpisahan kita berbuah manis. Ia berjanji akan berubah. Berjanji untuk lebih memikirkan masa depan dibanding kekecewaan.

Akhir kata dari tulisan ini. Terima kasih sudah bersedia membaca. Dan terima kasih telah hadir di dalam hidupku. Ia banyak memberikan pelajaran penting. Terima kasih atas semua cerita yang telah ia beri. Terlebih… Atas persahabatan yang akan terbentuk ini.

Fanta sign out.
Nisa sign in.

Reply

error: If I were you, I won\'t try it.
%d bloggers like this: