Who are you?

Sudah berapa kalinya tulisan gue gagal di tengah jalan. Mungkin bagi beberapa orang, menyambung tulisan itu perihal yang mudah. Tapi, untuk tulisan-tulisan gue yang otididak ini, memerlukan emosi yang kuat untuk melanjutkan tulisan yang terbengkalai, terlebih banyak Bahasa-bahasa ambigu yang tidak jelas, kecuali saat itu juga. Yeah, this is me.

Okay.

Gue coba summarize deh apa yang mau gue bilang semalam.

Kesendirian itu ternyata bukanlah sebuah hal yang bagus. Mungkin benar alasan orang-orang yang takut jomblo, karena takut ketika sentuhan-sentuhan hangat itu menyentuh, terkadang lupa akan identitas diri sendiri. Gue gak akan membicarakan orang lain, contohnya itu gue.

Waktu itu, hari Jum’at, gue belajar bareng dengan Kadek (sengaja pake nama Kadek, biar bingung kan… tapi, temen gue pada tau Kadek sih) dan Akbar. Belajarnya sih dikit, curhat ceritanya yang banyak. Mulai dari masa depan, hingga prinsip yang bisa dibawa serius. Gue sendiri sih, memiliki rasa respect terhadap Akbar. Ya, gue gak bisa bohong sih, gue suka dengan santunnya orang Jawa (Ya, Akbar orang Jawa). Salah satu teman yang asik, menurut gue, karena mereka cowo. Dari SMA gue gak begitu suka bergaul dengan cewe, karena gue merasa, hidup gue akan penuh drama, terlebih dengan gossip serta anak cucu-nya itu. Okay. Kita bicarahin Kadek ya. Akbarnya lupain. 😛

Dan ternyata Kadek dan Lia udah janjian mau ketemuan ntah dimana, membahas sesuatu. Mereka berdua teman gue sih, yang gue ngerasa seneng aja mereka deket. Ya kalau mereka saling menggunakan topeng ya gue gak tau deh. Yang jelas gue selalu senang kalau temen-temen gue bisa blend bareng. Pada hari itu gue bentrok janjian dengan geng Muslimah. Tapi akhirnya kita bisa membuatnya berjalan dengan lancer.

Gue sendiri, merasa aneh ketika bisa nyaman berada di sekitar Kadek. Gue kurang suka personality dia yang terkesan flirty dan juga seorang womanizer (kalau ini sih bisa dipastikan, teman-temannya juga mengakui akan hal ini). Nah, sorry to say ya… gue coba blak-blakan di sini. Karena menurut gue ini bukan masalah. Dianya senang-senang aja dibilang seperti itu. Sekalian sih, gue kalau mengutarakan bagaimana gue menilai teman gue, meski gue gak bilang ke mereka langsung, gue bukan menjelekkan mereka ya. Gue Cuma berusaha memberi sudut pandang gue.

Perihal dengan geng muslimah gak perlu diumbar, karna isinya juga drama
rating 20 tapi share tinggi. à nah mungkin anak IlKom ngerti deh apa yang gue maksud.

Yang menarik untuk gue ya selentingan fakta yang didrama-in ama Lia. Kemarin, eh, maksudnya dini hari, dengan semangat, Lia mengirim pesan melalui instant messenger LINE (punya korea). Dia bilang kalau Kadek suka dengan gue. Dengan yakin gue tepis dong, secara gue gak pengen mulai sesuatu yang halangannya udah keliatan. Agama. Dia Hindu. Meskipun gue tertarik ke arah sana, tapi ya gue gak siap juga merubah agama gue. Gue masih belum dapat idenya untuk menyembah dewa dan dewi yang sering disebut di dalam film India. Tapi bukan agama yang ngebuat gue gak merasakan hal itu. Ya gue ngerasa aja kalau yang bersangkutan itu Cuma sekedar kagum dan ya pengen bersahabat. Diapun menyatakan hal tersebut di Line. Ya, dia sahabat gue. Sahabat tapi bebeb-an gue.

Kalau ditanya, kenapa gue kayak gitu sama dia. Ya jawabannya seperti Tomo bilang kemarin, ‘kita kesepian fan. Kamu. Aku.’, ya itulah. Meskipun gue gak pernah manggil Kadek secara langsung seperti panggilan manja dia, “Beb”, setidaknya apa yang gue lakuin dengan dia, sangat-sangat mengganggu yang jomblo sih. 😛

Waktu pernah gue mempertemukan Kadek dan Lia, emang sudah ada komentar yang tidak asik. “Nyeh. Lo bilang lo gak ada deket siapa-siapa, tapi ama dia deket.” Ya kira-kira seperti itulah yang dia bilang. Dan lebih parah lagi pertemuan kedua kita bertiga. Ini lebih intens, yang gue bilang tadi. Hari jumat itu.

Gue dan Kadek udah siap-siap di Love Tea, dan juga kita berdua pada kelelahan, karna belum pada tidur. Setidaknya dia belum tidur. Dengan mata berat itu, dia membaca kartu gue. Katanya sih Kadek bisa ngeramal. Ya biasanya sih gue gak terlalu percaya dengan ramalan, tapi yang satu ini, membuat gue tercengang.

Ketika gue diramal, gue mikirin MeaKer. Gue kaget, bagaimana Kadek bisa membaca karakter MeaKer begitu tajam, padahal mereka belum pernah bertemu, ataupun gue tidak pernah bercerita tentang MeaKer. Gue kaget.

Mba Yas, gue izin dulu ya menggambarkan pacarmu, versi Kadek.

“Kamu dan dia bisa bersatu. Tapi ada rintangannya, dia itu gak mau sama cewe bodoh, tapi tidak mau lebih pintar dari dia.” Ketika Kadek menjelaskan ini, gue langsung setuju. Soalnya seingat gue, ketika gue deket sama MeaKer, dia menunjukkan hal itu. Setidaknya ketika dia sama Fanny dulu, selalu menunjukkan kalau gue lebih pintar dari Fanny. Ntahlah, mungkin gue bodoh juga kali ya…

“Dia itu pengen kamu tidak terlalu manja. Tapi dia ingin juga direpotin. Jangan independen lah.” Nah, antara percaya atau tidak sih. Mungkin selama ini masalah gue ya itu, gak bisa manis (manja) sedikit. Kebiasaan sendiri, kebiasaan mandiri.

“Asal kamu mau berubah seperti kriteria dia, dia pasti sama kamu. Karna dia juga punya hati untuk kamu.”

Tantangan terbesar gue.

Semakin dipikir, gue semakin stress. Hingga gue menulis ini, gue masih menyisakan harapan kepadanya, gue masih berharap suatu saat nanti senyum indahnya akan terukir karena dia berada disisiku. Hanya sesimpel itu mimpiku akan dirinya. Meskipun sekarang aku bertanya, dia itu siapa? Beanie, jenongan, kacamata… Aish… dia siapa? Kenapa setiap helaan nafas hingga harapanku berlabuh padanya?

Reply

error: If I were you, I won\'t try it.
%d bloggers like this: