Indonesian Movie Review: Cinta Laki-laki Biasa

Poster for the movie ""

Cinta Laki-laki Biasa

20161 h 49 min
Overview

Nania Dinda Wirawan (Velove Vexia) meets Muhammad Rafli Imani (Deva Mahenra) at a time when Rafli became a mentor when Nania did practical work on a simple home development project. Nania not only gets guidance on the science of building a house, but also guidance to lead a more meaningful life, that happiness is not built in luxury, but simplicity is colored by intimacy and sincerity. Nobody thought that Nania would eventually accept Rafli's proposal. Yet in social status, they are different like the earth and the sky. Nania comes from a distinguished family. While Rafli is just an ordinary man.

Metadata
Runtime 1 h 49 min
Release Date 1 December 2016
Details
Movie Media VoD
Movie Status Loaned
Movie Rating Not bad
Images

Perfilman kita (baca: Indonesia) memang lebih besar dikuasai oleh film-film yang diadaptasi dari novel. Seperti review Cinta Laki-Laki Biasa ini. Indonesia memiliki cukup banyak aktor, namun tidak banyak yang mau bereksplorasi dalam karakternya, atau produsernya yang masih memilih aktor. Terlepas dari semua itu, biasanya memang sudah pasti lebih bagus, karena pilihan tersebut dapat dianggap pilihan yang populis.

Cinta Laki-Laki Biasa ini memiliki masalah dengan judulnya, namun tidak ada judul yang lebih bagus dengan ini. Penempatan Deva Mahenra sebagai pemeran utamanya juga terlihat begitu apik, serta wajah keingin-tahuan Velove Vexia sangat cocok untuk memerankan Nania.

Cinta Laki-Laki Biasa

Sederhananya, kisah ini bermula dari Nania Dinda Wirawan (Velove Vexia) yang kerja praktek di salah satu pengembang perumahan. Di sana ia dimentori oleh Rafli (Deva Mahenra). Karakter yang dibawa oleh Deva Mahenra seharusnya lebih unik dan lebih terlihat ‘islami’. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa Cinta Laki-Laki Biasa ini merupakan karya dari Asma Nadia, yang sangat kental dengan nilai-nilai religiusnya.

Nania begitu tertarik dengan Rafli yang sederhana dan selalu semangat. Meskipun kerja praktek hanya 3 bulan, masa itu cukup membuat Nania tidak bisa berhenti memikirkan Kang Rafli. Bertahun-tahun Nania dan Rafli memendam perasaan mereka satu sama lain.

review Cinta Laki-Laki Biasa
Rafli membawa petai

Karena ia melihat Tole (Muhadkly Acho) yang sudah bekeluarga dan indahnya hidup bekeluarga, akhirnya ia memberanikan diri menjumpai Nania di tempat kerjanya. Kedua insan ini memang menaruh hati satu-sama-lainnya, sehingga membuat Nania berani untuk memperkenalkan Rafli ke keluarganya.

Tekanan yang diterima oleh Rafli juga tidak ringan, mulai dari suami kakak-kakak Nania yang memiliki beragam profesi. Politikus (Agus Kuncoro), Businessman (Uli Herdinansyah) dan Dosen Psikologi (Adi Nugroho). Dengan keyakinan serta kemantapan hati, akhirnya Nania dan Rafli bersatu.

Mungkin jika kita berbicara mengenai metode film India yang sering kali ada interval atau intermission, di dalam film ini juga terdapat bagian itu. Bagian awal dari film ini adalah mengenai seperti apa cinta laki-laki biasa, paruh kedua dari film ini membahas mengenai seberapa dalamnya cinta laki-laki biasa tersebut.

Retrograde Amnesia

Keluarga Nania tidak dengan gampang menyerahkan Nania kepada Rafli. Nania sempat dijodohkan dengan Tio (Nino Fernandez). Tio adalah seorang dokter yang spesial pada bidang sistem saraf dan otak. Memang tidak perlu alasan khusus kenapa Tio adalah seorang dokter, namun di dalam penulisan naskahnya, terlihat sedikit celah untuk Tio mencuri hati Naina.

Topik Retrograde Amnesia yang diangkat memang sangat jarang terjadi di perfilman bahkan di dunia sinetron kita. Ada beberapa detail yang terkadang kurang diperhatikan, misalnya sampai kapan ingatan pasien tersebut aman.

Retrograde amnesia (RA) is a loss of memory-access to events that occurred, or information that was learned, before an injury or the onset of a disease.

Secara jelas bahwa Retrograde amnesia bukanlah amnesia yang total. Sehingga ada fakta-fakta yang masih diingat oleh pasien. Di dalam cerita Cinta Laki-Laki Biasa ini, Nania menjadi korban Retrograde Amnesia. Namun ada beberapa kesalahan yang seharusnya tidak diperbuat, seperti Nania sukar mengenali ibunya. Memang di dalam scene tersebut ada Rafli, yang ia tidak kenal sama sekali.

Sebuah Akhir

Akhirnya memang merupakan perwujudan dari rasa sabar yang terus dipelihara oleh Rafli. Jika dibandingkan dengan Critical Eleven, memang Cinta Laki-Laki Biasa ini memiliki kelemahan pada tengah akhir film, sementara Critical Eleven mulai menarik penonton dari tengah hingga akhir film. Tidak ada yang salah di kedua film ini. Sama-sama film yang disadur dari sebuah novel, dengan aliran cinta.

Cinta Laki-Laki Biasa memiliki nilai lebih pada Retrograde Amnesia, namun metode penceritaan film kita masih cenderung menggunakan lini masa yang terus maju tanpa berpikiran untuk menyuguhkan adegan-adegan masa lalu yang diceritakan kembali.

Seperti Akira (Jab Tak Hai Jaan) yang membaca cerita cinta antara Samar Anand dan Meera Thapar, lalu pada masa sekarang, Samar Anand terkena Retrograde Amnesia sehingga Akira harus mencari Meera. Tidak, tidak menyarankan untuk mengikuti alur ceritanya, hanya saja metode penceritaan sebuah cerita di perfilman kita masih belum bisa dimodifikasi sedemikian rupa. (fan)

Jangan lupakan Hal-hal Dasar

Mungkin, tanpa sadar, beberapa kali tulisan saya pasti memiliki kaitan dengan pengalaman saya serta memori saya. Terkadang, semua hal tersebut hanya berbasis penilaian semata. Penilaian manusia sangatlah relatif, kadang bisa benar, kadang juga salah. Tetapi penilaian menggunakan hati serta didukung dengan fakta dan data yang valid, seharusnya benar. Seharusnya. Oleh karena itu, kita harus mempertahankan sisi humanisme kita. We have to sustain our humanity survival.

Sebelum berbicara mengenai kasus kali ini, ada baiknya kita harus mengetahui apa yang dimaksud dengan humanisme. Berdasarkan kamus besar Bahasa Indonesia, humanisme adalah:

humanisme/hu·ma·nis·me/n1 aliran yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik; 2paham yang menganggap manusia sebagai objek studi terpenting; 3 aliran zaman Renaissance yang menjadikan sastra klasik (dalam bahasa Latin dan Yunani) sebagai dasar seluruh peradaban manusia; 4 kemanusiaan

Gotcha! Paham gak? Bahwa sebenarnya sisi humanis seseorang itu biasanya tampak kepada orang-orang yang disayang. Terkadang di dalam pergaulan, terutama hubungan spesial, kepercayaan adalah hal yang penting. Mempercayai satu sama lain membuat proses menjadi lebih singkat. Namun, sisi humanisme tidak bisa dilepas begitu saja. Well, in this one, we have to know what is the study case is about.

You Can Trust Your Partner

Just quite recently, I read a cliche line from another side of life, “I trust my man. Not you.” Okay. It is quite normal, girl. But if you are given the proofs and still saying, “I believe my man.” surely there is something wrong with you, girl. A big one.

Dari situs web Gurl, saya mengutip 10 tanda bahwa pacar Anda dapat dipercaya. Dari 10 tanda-tanda tersebut, ada beberapa yang mencuri perhatian saya. He never tries to hide anything. Ini membawa kita ke dalam transparansi di dalam sebuah hubungan. Memang transparansi tersebut dibutuhkan, tetapi ada beberapa hal yang perlu disadari, bahwa terlihat transparan bukan berarti tidak menyembunyikan sesuatu. Dengan memberikan login media sosial yang dia miliki, bukan berarti dia tidak menyembunyikan apapun. Terlebih lagi, jika Anda menyadari bahwa pasangan (pria) Anda bukan seorang social media savvy. What to expect with that?

Humanity Survival
He is happily introducing you

He Has Happily Introduced You To Everyone In His Life. Okay. Mungkin dengan dia memberi tau kita tentang keluarganya, temannya, sahabatnya, kita berpikir bahwa dia adalah orang yang dapat dipercaya. Sebenarnya itu salah. Tidak! Dia tidak akan enggan mengenalkan Anda kepada teman-serta kolega hingga keluarganya. There will be a scenario which leads you to know that he did introduced you to his world, but it’s not really. Semua itu tidak sama dengan memperkenalkan langsung dan membuat terjadi interaksi dari berbagai pihak.

Lastly, he trusts you. Memang ini menjadi poin paling penting di dalam 10 tanda-tanda tersebut. Namun, jangan terkelabui dengan dia mempercayai kita, kita bisa dengan polosnya mempercayai dia juga. Always spare a spear. Di dalam ilmu investasi, ada istilah don’t put all eggs in one basket. Begitu juga dalam hubungan, jangan percaya mentah-mentah, jangan mudah percaya.

He’s Playing with Fire and Hide under His Girl’s

Surely this will be done by a swine! Seriously, where’s your manner, bro? You’ve been thinking a way to have another pleasure without getting notice, but you’re an a$$hole to begin with. This is my personal experience, and I hope you won’t get this shitty experience, ever. Persepsi yang jelas memang dibutuhkan di dalam kasus ini. Berikut ini adalah situasi serta pengenalan karakter secara singkat untuk studi kasus kali ini.

Rukmini adalah seorang wanita, tentunya, ia merupakan wanita yang mandiri dan selalu terlihat menyendiri. Bukan tipikal yang suka mengenang masa lalu. Motto di dalam hidupnya adalah, live in the present. Kelemahan dari karakter Rukmini ini adalah ia selalu berada pada zona nyaman, sehingga ia selalu menyendiri.

Vicky adalah seorang pria yang tangguh, mandiri serta sangat loyal pada teman-temannya. Ia adalah seseorang yang keras kepala. Common people. Low person, has minim requirement.

Dayaanti adalah seorang wanita, tentunya dalam kasus ini adalah kekasih dari Vicky. Ia sangat-sangat insecure dengan kekasihnya. Bahkan ia berusaha mengontrol kekasihnya. Namun dia dapat memenuhi ego dari Vicky, yang membuat Vicky nyaman dengan dirinya.

The Encounter

Humanity Survival
Hold and hug the same person

Rukmini dan Vicky merupakan teman masa kecil. Rukmini dan Vicky saling menyukai satu sama lain. Karena Vicky terlihat seperti orang biasa, Rukmini selalu merahasiakan hal ini kepada sahabat-sahabatnya. Bahkan pada saat itu Rukmini mengikuti permainan yang ada, dia digosipkan dengan Rahul, seorang bintang yang disukai oleh anak-anak lainnya. Ketika Rukmini dan Vicky berpisah karena memiliki impian masing-masing, barulah mereka mendekat. Setelah itu mereka tidak berhubungan tanpa alasan yang jelas, hingga Rukmini dan Vicky yang dewasa kembali dipertemukan, lalu memadu kasih. Aral dan rintangan menghampiri hubungan mereka, hingga akhirnya Rukmini dan Vicky berpisah, untuk kesehatan mental masing-masing.

Vicky sekarang berpacaran dengan Dayaanti. Mereka memiliki hubungan seperti orang-orang pada umumnya, mesra. Who doesn’t? In first 3 months all things are the sweetest. Dalam satu kesempatan, Vicky menghubungi Rukmini kembali, atas dasar memelihara pertemanan. Rukmini menanggapinya dengan biasa saja. Seperti yang sudah-sudah, hampir satu jam mereka berbincang, yang terjadi adalah perdebatan, pembelaan satu sama lain. Rukmini terkesan dengan perubahan Vicky yang jadi lebih baik, “Kamu berubah jadi lebih baik, ini pasti peran Dayaanti.” ucap Rukmini. Vicky mengelak, “Tidak, ini atas niatku sendiri. Aku harus berubah.”, lalu perbincangan mereka sampai pada satu titik. Titik yang menjadi cikal bakal permasalahan untuk ke tiga karakter ini.

“Kamu masih mau mewujudkan mimpi yang dulu?” Rukmini bertanya. Hanya sebatas usaha menjadi seorang yang oportunis. Vicky ragu. Keraguannya memaksanya untuk mengenang memori-memori lama yang pernah terjadi di antara dia dan Rukmini. “Kecendrungan, aku ingin mewujudkan mimpi itu.” jawab Vicky. Rukmini menantangnya, jika hingga tanggal tertentu salah satu diantara mereka belum ada yang menikah, mereka harus menikah.

The Side Effect

fail joke
Anjali-Rahul-Tina and to Anjali, back to square one.

Mungkin ada film yang berjudul Pyaar ke Side Effect maupun Shaadi ke Side Effect. Permainan antara Vicky dan Rukmini juga memiliki efek samping. Dayaanti akhirnya mengetahuinya, lalu Vicky marah besar kepada Rukmini. Rukmini berpikir bahwa, Vicky memiliki tindak tanduk ingin berselingkuh. Ini harus dihentikan, pikirnya. Rukmini risih dengan rayuan-rayuan Vicky, namun ia tidak sanggup untuk bertanya apa keinginan Vicky ataupun meminta Vicky untuk mengakhiri hubungannya dengan Dayaanti.

Dayaanti mulai menceramahi Rukmini. Ia beranggapan bahwa Rukmini berusaha menghancurkan hubungan mereka. Vicky marah, kesal, emosi dan pasrah dengan segala keputusan yang akan diambil Dayaanti. Rukmini shock dengan serangan dan tuduhan Dayaanti. Hal ini menyebabkan Rukmini jatuh sakit, dan meninggal. Hatinya telah hancur bersama harapannya. Ia tidak pernah berencana untuk mati, namun tubuhnya sudah tidak dapat bekerja dengan baik dan benar.

Humanity Survival is not there

I have quite a lot message to both characters. All of them are venomous character and encounter in a time. It’s bad luck for them.

For Rukmini

Dear Rukmini, you shall not kill your pride. Setelah berpisah dari Vicky dengan serentetan alasan, kenapa masih kepikiran untuk menikah dengan Vicky sih? Dan seharusnya langsung bertanya kepada Vicky apa tujuan dan niatnya.

For Vicky

Dear Vicky, you’re an a$$hole, you know that? Kalau merasa sudah tidak nyaman dengan Dayaanti jangan selingkuh. Okay, mungkin ini bukan selingkuh, karena tidak ada pengakuan di antara keduanya. Tetapi setidaknya, Vicky harus tegas dan jelas. Mungkin yang perlu Vicky sadari adalah menghubungi mantan pacar kembali, apapaun alasannya, adalah salah.

For Dayaanti

Tú eres idiota! Lo kenapa tetap membela Vicky meskipun sudah dikasih bukti bahwa Vicky menggoda Rukmini, yang jelas adalah mantan pacarnya. Apakah karena itu hanya seorang mantan, sehingga kata-kata menggoda tidak dapat diaplikasikan? Where’s your logic?

Basic Things

Untuk yang mungkin pernah berada di posisi Rukmini. Pastikanlah tujuan Vicky dengan jelas. Karena menurut blog ini, hampir dari setengah alasan yang ada, menunjukkan bahwa ia masih menginginkan mantannya di dalam kehidupannya. Yang paling menarik adalah ada 2 alasan yang hampir mirip, yaitu:

  1. Your ex boyfriend realized that he made a mistake and the new girl is not right for him.
  2. Your ex boyfriend is unhappy in his relationship & looking for someone to talk to.

Jadi buat para Dayaanti di luar sana, perlu dicatat bahwa bisa jadi salah satu alasan doi menghubungi mantan adalah dia pusing dengan kita, lalu memutuskan untuk mencari jawaban dengan berbicara atua menghubungi mantannya. Sad, isn’t? And you still want to be with him? Please have some respect, you deserve to be happy.

Untuk para Vicky di luar sana, man up, man! Jangan pernah menghubungi mantan kecuali lo masih jomblo atau pacar lo sudah tau mantan-mantan lo, dan dia bisa berpikir dengan jernih dan dia bisa menjustifikasi hal-hal dasar seperti di atas. Jangan pernah lo menyalahkan mantan lo kalo dia ngelapor ke pacar lo karena lo menggoda dia. Don’t be an a$$hole, Vick.

Be human first. Do some justification, don’t be blind just because s/he’s your allegedly partner. Fact is a fact, not assumption anymore. We have to maintain humanity survival with our strength.

How to get Humanity Survival

Sebenarnya gampang, jangan melupakan hal-hal dasar yang dipercaya oleh khalayak ramai. Mungkin dari sisi Dayaanti, bisa menyerang Rukmini dengan ‘tidak memiliki perasaan’ atua bahkan tidak normal. Tetapi yang perlu diketahui adalah pertanyaan langsung memiliki jawaban tertutup mengindikasi banyak kemungkinan, jadi bisa saja Rukmini tidak dan tidak berniat mengganggu hubungan Dayaanti dengan Vicky.

Mungkin pernah dengar kisah Selma dan Haqy, akan selalu ada 2 sisi. Negatif dan Positif. Seseorang harus dapat melihat di kedua sisi ini. Untuk yang merasa Selma salah, ya mungkin akan menyalahkan Rukmini. Namun, di sisi lain adalah, Rukmini dengan tegas bertanya apakah Vicky ingin menikahi dirinya, terlepas mereka sama-sama tau kalau Vicky sudah memiliki pacar. Catat ya, pacar, bukan istri. Mastani saja rela disiksa dihujat karena kepercayaan yang dimilikinya. Rukmini bisa saja berujung seperti Mastani, dan juga mungkin Vicky akan menjadi Bajirao yang bersifat adil dan membela Mastani. Tetapi, tidak, Vicky adalah salah satu contoh kebangsatan kaum Adam.

Anyway, will get in touch later. Drop a comment if you think we should discuss more whether asking someone to marriage is appropriate or not. Cheers.

I Still Love You

Lagu yang merupakan salah satu soundtrack dari film Half Girlfriend ini memang begitu melekat, karena hampir setengah filmnya memutar lagu ini, pada bagian refrain tentunya. Lagu yang berjudul Main Phir Bhi Tumko Chahunga ini bisa menjadi salah satu lagu yang sangat identik dengan yang namanya lagu cinta, the love song.

Tujuan saya menulis hari ini karena ada beberapa kejadian yang menurut saya seharusnya tidak terjadi. Namun sudah terjadi dan hanya bisa direfleksikan saja untuk berbagai pihak. Tapi sebelumnya saya mau menyatakan, ini tidaklah menjadi salah satu drama yang mungkin sering terjadi di beberapa orang.

Post Break Up

Sudah 8 bulan saya mengakhiri hubungan dengan salah seorang teman kecil saya, seseorang yang pertama kalinya saya sukai. Mungkin jika bertanya-tanya, apakah saya mengalami masalah paska berpisah. Well, no, I don’t have any trouble post breakup.

Hidup saya berjalan seperti biasa, aktivitas berjalan seperti biasa. Tidak ada yang berubah, hanya saja menjadi lebih efektif, karena tidak perlu membalas pesan, menerangkan serangkaian kegiatan serta perdebatan-perdebatan yang kerap terjadi hanya karena perbedaan persepsi dan kultur. Meh.

Main Phir Bhi Tumko Chahunga
Meh

Sama-sama hidup di bawah naungan Nusantara, sama-sama menggunakan bahasa Indonesia, tetapi masih saja banyak perbedaan yang harus diatur demi keberlangsungan yang tentram dan aman. Mungkin karena nilai-nilai patriarki sangat kental, sehingga ia merasa pantas untuk mendikte serta mengetahui segala rutinitas yang menurut saya biasa saja, namun baginya berlebihan. Ntahlah.

Singkat cerita… Sekarang sudah mau masuk bulan Juni, Meskipun beberapa minggu lalu saya terganggu dengan menemukan fakta bahwa ia sudah bersama dengan orang lain, tapi itu dengan cepat saya atasi, tidak lebih dari 24 jam. Life must go on, they say. So I take my ride, do my stuff and be my self as ever.

Berperang dengan memori

Tak dapat diingkari, beberapa kali otak memutarkan memori-memori waktu masih bersama, setidaknya menjadi lebih intens ketika setelah mengetahui fakta tersebut. Seperti kata Ayahnya Fatimah, “Yang rindu aku, ya aku yang harus menuntaskannya. Gak mungkin maksa bertemu.” itu yang saya terapkan. Berbagai alasan berusaha saya ucapkan, seperti “gak boleh ganggu pacar orang”, “jangan jadi pengganggu”, “setidaknya lo harus punya martabat lah”, “be classy as possible!” dan lainnya.

Seperti kata Jug (Dear Zindagi) jangan biarkan masa lalu menghambat masa depanmu yang indah. Begitu juga dengan memori-memori yang bisa dikatakan jahat tersebut. Memori tersebut seharusnya tidak menghantui dan menghambat kegiatan, hingga masa depan. Apa yang dijalani oleh Kaira (Alia Bhatt) di film Dear Zindagi memang fakta nyata yang bisa terjadi kepada siapa saja, bahkan milenial. Bagian post breakup tentunya.

Salah satu perkataannya yang terkadang saya anggap ‘meh’ adalah “Jangan samakan apa yang terjadi di kehidupan dengan film.” mungkin saja menurutnya adalah jangan berekspektasi seperti yang ada di film. Tapi kalau bukan itu, ya menurut saya dia termasuk orang yang merugi, karena salah satu tujuan film adalah menyematkan nilai-nilai yang dapat diambil dari serentetan kisah yang disuguhkan. Dengan demikian, pemikiran kita jadi terbuka dan pengalaman kita jadi bertambah.

Reza Arap’s Engagement

Mungkin kalau berharap bisa seperti Wendy Walters di video ini, memang salah. Namun mengambil pelajaran dari film-film yang ditonton bukanlah suatu kesalahan. Tetapi, dengan maraknya kampanye digital, kita berada pada masa seperti saat ini. Setiap orang punya kanal videonya sendiri, bisa membuat konten yang menarik dan menjadi saluran penayangan sendiri. Tapi memang, apa yang dapat diambil dari video tersebut adalah setiap orang berhak berbahagia dan cinta pasti datang pada waktunya, datang ketika siap.

Tentunya setiap wanita pengen merasakan seperti Wendy, dilamar di hari ulang tahunnya, dengan suasana yang lebih intim, karena tidak perlu canggung di depan orang tua.

Main phir bhi tumko chahunga

Image from the movie "Half Girlfriend"
© 2017 Balaji Motion Pictures − All right reserved.

Refrain yang kerap kali dijadikan musik latar belakang untuk film Half Girlfriend memiliki arti seperti ini,

but I’ll still love you,
I’ll still love you.
I’ll die for this love,
but I’ll still love you.

Pemilihan lagu untuk menggambarkan Madhav Jha sangat tepat. Bahkan saya sempat menyinggung ini kepada teman semasa kecil saya itu. Saya ingin dia tetap berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan, meskipun itu membutuhkan waktu yang lama. Seperti Madhav Jha yang butuh waktu 5 tahun untuk mendapatkan Riya Somani.

Terkadang patah hati seseorang bukan diobati dengan orang lain, tetapi jawaban dari pertanyaan yang ingin diketahui jawabannya. Seperti Cha Jeong Hwan (My Father is Strange, KBS2) yang ingin mengetahui alasan Byun Hye Young kenapa ia memutuskannya 8 tahun silam. Terkadang saya suka tersenyum sendiri ketika melihat adegan mereka berdua. Mengundang memori-memori jahat tersebut, menyiksa di relung hati.

Hye Young yang tidak berpikiran untuk menikah karena ia melihat begitu banyak perceraian yang terjadi mencoba melawan pemahamannya dengan internship 1 tahun bersama Jeong Hwan. Alasannya sederhana, ia tidak ingin kehilangan Jeong Hwan, tapi ia juga tidak menjamin bahwa rumah tangganya akan baik-baik saja.

Perjanjian

Beberapa jam sebelum saya mempublish tulisan ini, sembari mendengar lagu main phir bhi tumko chahunga secara berulang, saya berdiskusi panjang lebar dengan teman saya itu. Well, ternyata statusnya pacar orang tidak membuatnya kehilangan rasa nyamannya. Bangga sedikit boleh dong ya.

Hasil dari diskusi tersebut, ternyata membuat memori-memori jahat tersebut menjadi memori yang punya misi, memori yang sengaja dimainkan oleh Allah, Sang Khalik. Menciptakan memori tersebut, lalu menghembuskannya kembali ke dalam hati. Misinya adalah untuk mengoreksi kesalah-pahaman, serta asumsi saya yang salah harus dibenarkan.

Melihat perubahannya, membuat saya ingin memberontak. Bagaimana tidak, dulu ia enggan ke Mesjid, alasannya mata merah, takut dikira mabok. Padahal lelaki memang diwajibkan untuk ke Mesjid. I don’t want to have same path as my mom had. That’s why I always look at his faith.  Penyesalan memang selalu datang belakangan, tidak perlu disesali. Namun hasil temuan dari diskusi tersebut membuat arah pembicaraan menjadi lebih liar, tidak memiliki variabel yang terkontrol.

As if each of us haven’t married till Jan, 19th 2019. We will marry on Oct, 19th 2019.

Itu setelah saya menelan berbagai ego yang saya miliki. Dalam tulisan saya ini, saya pernah menyatakan bahwa saya ingin memiliki pasangan yang punya pengetahuan luas, suka membaca buku, dan memiliki pemikiran terbuka. Which is not so him.

Main phir bhi tumko chahunga… saya masih menyimpan hati yang ia kasih, namun tidak saya pelihara. Ia ngotot mengatakan bahwa ia memberikan hatinya, bukan dicuri. Well, main phir bhi tumko chahunga, mere yaar, mujhe jaana hai, yeh aasan nahin hai. Lekin, main phir bhi tumko chahungi.

Truth or Dare

Saya menantangnya. Karena ia menyatakan bahwa ia masih memiliki keinginan untuk mewujudkan 219. Untuk beberapa menit, ia terdiam. Seperti diserang badai, ntah harus bagaimana. Seperti yang dibilang oleh Salman Khan dalam film Kick, “kick nahin hai“, yeh hi, hamara sensation. Hamara kick. Tum haan ya nahin?

Mungkin memang terkesan tantangan, dan ia-pun cenderung untuk tidak ingin bermain. Ia berpendapat bahwa pernikahan itu bukan main-main. Saya sependapat, namun berdasarkan rukun iman yang ke 6, yaitu tentang Qada dan Qadar. Bahwa manusia hanya bisa berencana, dan keputusan tetap di tangan Allah.

The truth. Jika ada yang bilang balikan sama mantan itu adalah seperti membaca buku yang sama, tidak akan ada yang berubah, kisahnya akan seperti itu. Namun, terkadang, orang yang membuat alasan seperti itu kurang kreatif. Ia lupa menaruh faktor lainnya, misanya seperti yang dilakukan oleh Shamini Flint di dalam seri Inspector Singh. You won’t ever know what the story will be. Saya masih punya banyak skenario yang akan dijalankan. Lagipula, membaca buku yang sama akan menimbulkan kenangan-kenangan. Meski tidak sama dengan kenangan seperti pertama kali, tetapi kenangan tersebut adalah sebuah pengalaman yang memiliki keunikannya sendiri.

As if, I spent my senior high with him. Then recently. Then, in a few years, who knows… that we will be doing something great again. Because ‘the lover boy’ is only exist in Bollywood. In real life, we just have our sweet friend. Jika Gauri dan Shah Rukh Khan saja bisa bersatu, kenapa kita tidak? Mungkin, jawaban dari semua pertanyaan adalah…

LOVE!

Yeah. Love.

Go. Make a love. Spread love, not hatred.

Half Girlfriend

Poster for the movie "Half Girlfriend"

Half Girlfriend

More Than A Friend, Lesser Than A Girlfriend

20172 h 15 min
Overview

Madhav Jha, a rustic boy from Bihar who is drawn to his college-mate, Riya Somani, an affluent English-speaking girl from Delhi. There’s just one hitch here. Riya is willing to go thus far and no further; Madhav continues being obsessed with her. Will the Bihar boy and the Delhi girl make it past the half-way mark?

Metadata
Director Mohit Suri
Runtime 2 h 15 min
Release Date 19 May 2017
Details
Movie Media Cinema
Movie Status Scheduled
Movie Rating Not that bad

Premis awal tentang Half Girlfriend adalah sebuah status yang tidak ingin dikatakan Friendzone tapi juga tidak ingin dianggap PHP. Reaksi pertama saya ketika melihat trailernya adalah mungkin ini bisa dijadikan terminologi baru untuk milenial. Premis itulah yang saya bawa ke dalam gedung bioskop di bilangan Thamrin, Jakarta Pusat.

Selain itu, faktor Chetan Bhagat dan Arjun Kapoor. Arjun Kapoor pernah memerankan karakter Krish Malhotra yang ada di dalam novel Chetan Bhagat berjudul 2 States. Selain itu, salah satu judul yang diadaptasi adalah 5 Point Someone yang memiliki judul film 3 Idiots. Mungkin dengan suksesnya 2 States akan membawa Half Girlfriend mengikuti jejak 2 States tersebut, tapi sangat disayangkan, Half Girlfriend memiliki cerita yang jauh berbeda serta nasibnya.

Half Girlfriend

Half Girlfriend
imgsrc=”http://boxofficecollection.in”

Mengisahkan tentang seorang ‘Putra Mahkota’ Bihar, Madhav Jha (Arjun Kapoor). Seorang atlit basket yang ingin melanjutkan kuliahnya di St. Stevens, Delhi. Suasana yang digambarkan oleh Mohit Suri adalah tidak meratanya pendidikan di India. Dari Bihar menuju Delhi, dari Hindi hingga ke Bahasa Inggris. Setidaknya itu yang tergambarkan pada menit-menit awal film Half Girlfriend ini. Dengan keputus-asaannya, ia menemukan seorang gadis pebasket, Riya Somani (Shraddha Kapoor). Riya yang merupakan asli Delhi, tentu saja sangat fasih berbahasa Inggris.

Okay, tidak ada alasan yang khusus, Madhav langsung jatuh hati kepada wanita Delhi ini. Terkesan klise. Kisahnya dimulai ketika Madhav bisa berkomunikasi dengan lancar menggunakan bahasa Hindi. Count the sheep, they’re getting closer day by day. Bak seorang penguntit, Madhav begitu paham dengan kebiasaan Riya. Tatapan demi tatapan Madhav menguasai seantero ruangan bioskop. We even don’t know Arjun can do that.

Half Girlfriend ini bisa dikatakan benar-benar film Arjun Kapoor. Meskipun Shraddha memerankan Riya dengan cukup baik, tetapi terasa masih kurang. Ada beberapa pelajaran yang didapatkan dari film ini. Meskipun semuanya bisa di dapatkan di film lain, namun antara pembuka dan penutup, Mohit Suri lupa menekankan ‘don’t quit‘ yang diberikan di penutup.

Mislead to misled

Image from the movie "Half Girlfriend"
© 2017 Balaji Motion Pictures − All right reserved.

Yang disesalkan adalah selain film ini mendapatkan rating 3.9/10 di iMDB, penjelasannya sangat minim. Jika Critical Eleven memiliki kekurangan pada bonding Anya dan para sahabat, di film ini justru kurang fokus pada sudut pandang Riya. Semuanya serba Madhav. Madhav dikerumuni oleh para pramusaji di acara ulang tahun Riya, Madhav diajari hal-hal yang seharusnya tidak perlu diajari. Terutama oleh Shailesh (Vikrant Massey). Ia berhasil mencuri perhatian dari pertama kali ia masuk ke dalam frame.

Ternyata nantinya, Shailesh memiliki peran yang lumayan penting untuk Madhav. Say it NY’s experience, even introducing Anshika (Rhea Chakraborty) to Madhav. Lagi, Anshika yang terkesan hanya sekedar pelarian bahkan tidak dijelaskan dengan indah. Isu-isu yang kurang penting seperti Bill and Melinda Foundation, UN Foundation dan sebagainya malah menghabiskan beberapa menit dari film tersebut. Memang, itu menjadi salah satu kunci Madhav untuk ke NYC, tetapi tanpa itu semua, Half Girlfriend akan jauh lebih baik.

Judgmental

Terkadang kita sering menilai tanpa mengetahui fakta yang sesungguhnya. Seperti Riya, yang menutupi dirinya, bahkan Madhav mengetahui tidak sebanyak itu. Lantas, Ibunya Madhav, bersikap agak keras mengetahui fakta bahwa Riya tidak pernah menyelesaikan apapun, baik itu kuliah, pernikahan hingga makanan. Penilaian yang wajar, namun akan terasa lebih dramatis jika penonton diberi alasan terlebih dahulu, bukan mengikuti alur, yang mana baru diceritakan Riya setelah kejadian itu.

Madhav Jha’s staring at her

Memang terlihat tidak cocok, seorang quitter (Riya Somani) dan seorang pejuang seperti Madhav. Lantas karena sifatnya itulah yang membuatnya bertemu kembali dengan Riya untuk ketiga kalinya. Perasaan yang sama ketika menonton 2 States, namun Half Girlfriend tidak lebih baik dari 2 States.

Okay let’s wrap up. I think it deserves the rating. I mean the movie could be better if they arise good issue and put some extra screen time to Anshika or even Shailesh. Developing Shailesh-Madhav brofist won’t hurt either. Not a failure, but it could be better. Watch it if you’re really fresh and ready, because it will take you to deep roller coaster motion of Love.

Soulmate dan Pasangan Hidup

Seharusnya saya fokus mengerjakan Karya Akhir, namun jari-jari saya terhenti menyentuh tuts kibor karena saya sibuk membenarkan tema di website ini. Well, it is not that bad right? And the good thing is this is SEO friendly. Kali ini saya ingin menulis mengenai pengalaman saya tentang Soulmate dan mungkin calon pasangan hidup. Saya kepikiran untuk membuat sebuah tulisan karena tulisan dari Thinking Humanity. Mungkin kalau yang sadar, kenapa di URL-nya malah soulmate-2? Iya karena yang pertama sudah terisi dengan lagu dari Belinda Peregrin yang berjudul Alma Gamela.

Soulmate

Ketika membaca tulisan tersebut, saya langsung setuju. Karena terkadang dalam pencarian soulmate, kita sering kali salah. Berdasarkan tulisan Tanaaz di Thinking Humanity tersebut,

Soulmate is Someone who is aligned with your soul and is sent to challenge, awaken and stir different parts of you in order for your soul to transcend to a higher level of consciousness and awareness. Once the lesson has been learnt, physical separation usually occurs.

Kunci dari pengertian yang dipaparkan oleh Tanaaz ini adalah ‘to challenge, awaken and stir different parts of you.‘ Ketika membaca itu saya langsung mengingat beberapa orang yang mungkin jika dilihat ke belakang, ternyata kehadiran mereka untuk menantang kemampuan saya. Selain memiliki keselarasan di berbagai sisi dan mereka sama-sama berakhir dengan wanita yang bernama Laras ya.

Lain dari pada itu, salah satu cara untuk mengetahui jika orang tersebut adalah soulmate, dengan menyadari bahwa kita telah mengenalnya dengan sangat baik meskipun baru bertemu sebentar. Pernah gak mendengar istilah atau perkataan, “Dalam seminggu, rasanya aku telah mengenalnya dari lahir hingga sekarang.”? Salah satunya itu ya begitu, karena itu adalah tanda bahwa keselarasan di antara kalian begitu kuat.

Romansa memang mengajarkan bahwa kita harus mencari soulmate, bukan pasangan hidup. Ada banyak misinterpretasi mengenai hal ini, bahwa sebenarnya pasangan hidup bisa menjadi soulmate jika waktunya datang. Saya bukan Anya yang menikah dengan alasan, ‘You know he’s the one, when you know…‘ Ayolah, alasan macam apa itu. Menurut teman saya, di dalam sebuah hubungan perlu adanya penerimaan, komitmen dan komunikasi. Tanpa disadari, itu adalah jembatan antara pasangan hidup dan belahan jiwa. Karena sejatinya, belahan jiwa adalah sesosok individu yang tanpa komunikasi, ia bisa mengerti, tanpa menerima, ia sudah paham dan tanpa komitmen.

Komitmen

Soulmate
Belahan Jiwa

Krusial memang, untuk menyatakan belahan jiwa memiliki komitmen yang terkadang tidak bisa diterima oleh rasa. Konsep belahan jiwa dari Yunani yang menyatakan bahwa kita memiliki satu belahan jiwa. Hal ini bertolak belakang dengan pendapat Tanaaz di dalam tulisannya,

Our Soulmates always arrive when we are ready for them and not a moment sooner. They arrive when we are ready to learn the lessons that we were destined to fulfill.

Dari situ dapat kita simpulkan bahwa belahan jiwa tidak hanya satu. Selain menggunakan kata non-singular, alasan lainnya adalah sebagai manusia, kita hidup dan bergerak dengan orbit yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta. Siapa yang bisa menyadari bahwa seseorang yang kita anggap belahan jiwa akan meninggalkan kita? Tidak ada.

Kekita belahan jiwa tersebut melakukan komitmen, maka akan terjalin sebuah hubungan. Hubungan dengan belahan jiwa ini biasanya akan menjadi hubungan yang dikenang. Karena secara tidak sadar, ketika bertemu dengan mereka, kita berubah.

I never had chance to have relationship with my soulmate. The love is in the air, everyone knows, but there’s no commitment. Ini mengarahkan kita kepada pengertian penemuan atau discovery. Terkadang kita menemukan hal-hal yang mendukung bahwa mereka adalah belahan jiwa kita. Kita menggunakan komunikasi untuk menemukan fakta bahwa kita selaras dengan mereka. Ada juga kita menemukan fakta tersebut bukan dari komunkasi dengan mereka, tetapi dengan kepingan-kepingan fakta yang tersebar di belahan dunia.

Life Partner

Berbeda dengan belahan jiwa, pasangan hidup terkadang bukan belahan jiwa kita. Menurutnya, pasangan hidup itu adalah,

A companion, a friend, a stable and secure individual who you can lean on, trust and depend on to help you through life. There is a mutual feeling of love and respect and you are both in sync with each others needs and wants.

Seseorang individu yang bisa dihandalkan, bisa menjadi tempat mengadu dan meminta bantuan. Jadi yang kita lihat selama ini, di dalam sebuah pernikahan adalah pasangan hidup. Namun tidak jarang yang pasangan hidupnya adalah belahan jiwanya.

Ada berbagai macam paradigma dalam memulai rumah tangga. Konon katanya, cinta bisa tumbuh belakangan. Hal ini biasanya sering di dengar dalam drama singkat antara Siti Nurbaya modern dan orang tua atau walinya. Sementara itu, ajaran yang terselip oleh Hollywood adalah bahwa kita harus mencari cinta tersebut, baru memutuskan masa depan bersama dengannya. Kedua paradigma ini tidak ada salahnya. Hanya sebatas persepsi mana yang lebih cocok dengan kultur dan budaya yang dipercaya.

Alur

Soulmate or Life Partner
Life Partner

Saya tidak bisa mengabaikan perihal alur. Ada perbedaan yang lumayan dapat dilihat dan dirasa. Jika saya pernah menyebutkan komitmen di atas, itu karena komitmen adalah salah satu faktor kunci di dalam perbedaan tersebut. Jika memiliki hubungan dengan belahan jiwa, hal pertama yang akan dilalui adalah penerimaan, karena sosok ini pasti memiliki kemiripan yang tinggi dengan kita. Setelah itu barulah menjalankan fase komunikasi. Komunikasi bisa berarti sebuah hubungan, atau hanya sekedar komunikasi biasa antar sesama manusia. Terakhir adalah komitmen.

Beda halnya dengan pasangan hidup. Hal pertama yang harus dilakukan adalah komitmen. Memiliki satu tujuan yang sama dan akan selalu bersama dalam mencapainya. Pada beberapa model, ada juga yang menjadikan komunikasi sebagai batu loncatan. Nah, komunikasi di sini dapat diartikan sebagai menjalin hubungan satu sama lain. Lalu berkomitmen untuk menjalani hidup bersama, dan menerima kelebihan serta kekurangan.

Dalam sebuah hubungan, terkadang ada istilah no U-Turn. Hal ini sama dengan komitmen. Tidak ada berbalik arah, atau kembali ke zona nyaman yang sudah ditinggalkan. Itulah komitmen merupakan nomor satu dalam pasangan hidup. Karena berkomitmen di awal akan mempermudah di akhir, sehingga membuat kita tidak capek.

Baru ini saya membaca sebuah cuitan dari Kak Dimas (Ario) yang berasal dari sebuah situs yang bersifat user generated content, yaitu cerpen.co.id. Bahwa jika sudah lama nanti, cinta bukan yang utama, tapi kehadiran satu sama lain tidak membuat capek, baik fisik maupun mental.

Capek itu…

Di saat dia seharusnya jadi orang yang paling menyejukkan hati, tetapi malah menjadi orang yang pertama membakar sumbu emosi. Di saat kekhawatirannya berlebihan, emosipun tidak bisa dielakkan. Hal-hal tersebut dapat terkumpul menjadi sebuah daya yang melawan kita. Itu membuat kita capek. Bayangkan jika ia tidak dapat menjadi teman berbicara untuk perihal kerjaan, bukannya mengalihkan rasa capek fisik dan pikiran, ia malah berkomentar, ‘Kamu kenapa sih, kok berubah?’ Don’t you get tired of it?

Seorang teman pernah berkata, ‘Gue kadang bingung ya, gue diem, orang mikirnya gue lagi marah, lagi kesal… Padahal gue diam, ya karna gue pengen diam aja.’ Hal-hal seperti itu yang bersifat sangat mendasar, namun sering disalah artikan oleh seseorang yang kita anggap belahan jiwa kita.

Mungkin bukan bidang saya, tapi ajaran Islam mengenai jodoh itu memang benar. Dilansir dari webmuslimah.com, terdapat Hadist yang berbunyi seperti ini

يَا عَلِيُّ ثَلَاثٌ لَا تُؤَخِّرْهَا الصَّلَاةُ إِذَا أَتَتْ وَالْجَنَازَةُ إِذَا حَضَرَتْ وَالْأَيِّمُ إِذَا وَجَدَتْ لَهَا كُفْؤًا

“Wahai Ali, ada tiga perkara yang jangan kau tunda pelaksanannya; shalat apabila telah tiba waktunya, jenazah apabila telah siap penguburannya, dan wanita apabila telah menemukan jodohnya yang sekufu/sepadan” (HR. Tirmidzi; hasan)

Memang definisi mengenai sekufu ini menjadi sangat rancu dan banyak yang berpendapat. Namun yang jelas adalah sekufu ini tidak lain adalah kata dari belahan jiwa. Kenapa demikian? Karena jika kita anggap sekufu adalah berdasarkan harta, Baginda Rasulullah S.A.W saja menikah dengan Ibu Khadijah dalam keadaan usia yang terlampau jauh, lebih dari 10 tahun. Serta harta Khadijah lebih banyak, pada saat itu. Hingga pada akhirnya sekufu itu menggambarkan ketidak-capek-an di dalam hidup berumah tangga.

It can be both!

Saya pernah berada pada posisi di mana saya menemukan seseorang yang bisa saya katakan seorang belahan jiwa pada saat saya sedang berkomitmen dengan orang lain. Pada saat itu saya belum paham definisi di atas. Saya hanya bisa berkata, untuk seseorang yang pernah saya pegang hatinya, “Aku yakin ini gak bakal lama, kamu sabar saja. Rasa yang aku miliki ini seperti mother’s love.” Iya, saya mengumpamakannya seperti itu. Kepada belahan jiwa saya saat itu, saya merasa memiliki sebuah sinkronisasi yang tidak bisa dijelaskan. Seolah paham apa yang ia maksud tanpa harus dikomunikasikan, seolah memiliki sebuah misi tertentu.

It turned out to be books. He loves to read, a ton of books. I was never in that position. I love to read, but it easier to watch, then. Dan yang satunya mulai memberontak, mulai kehilangan arah… Iya, rasanya memang sulit untuk menerima hal tersebut, tetapi perlu dicerna dengan matang mengenai konsep ini. Konsep yang mana akan ada satu titik di mana kita bertemu dengan belahan jiwa kita di saat kita sudah memiliki pasangan hidup. One can have both, but naturally it will lead to misinterpretation.

Iya, banyak orang yang langsung berpikiran bahwa itu adalah kata lain dari selingkuh. Sebenarnya tidak, jika memahami ada perbedaan antara belahan jiwa dan pasangan hidup. Belahan jiwa hadir hanya sementara, untuk menantang diri kita menjadi individu yang lebih baik, yang kita tidak pernah sadar kita bisa seperti itu. Yang salah adalah menambahkan perasaan serta emosional yang mendalam, atau lebih kacaunya, adalah seksualitas. Itu yang bisa menghancurkan momen seperti itu.

Butter Up

Tidak ada yang ingin rumah tangganya dihinggapi oleh orang ketiga. Maka daripada itu, perlu memahami tentang dua hal ini. Jelas-jelas merupakan hal yang berbeda, hanya saja sering digeneralisasikan dan menemukan belahan jiwa adalah awal dari menemukan pasangan hidup. Well, it’s not. We have to update our definition of cheat. Tetapi, memang ada baiknya menyatakan hal ini sebelum berkomitmen dengan pasangan hidup. Seperti yang diangkat oleh KBS2 dalam serial keluarga yang berjudul ‘My Father is Strange‘ ketika Hye Young dan Jeong Hwan merumuskan kontrak ‘internship’ pernikahan mereka.

Menurut saya, selagi satu sama lain menerima masa lalu dan berdamai dengannya, maka cemburu yang tidak jelas dikarenakan oleh hadirnya soulmate akan berkurang. Untuk para wanita, jangan malu untuk berkata, ‘Ada 2 orang lelaki yang berjasa dalam hidupku. Pertama, Ayah. Kedua, si soulmate. Dan mungkin nanti akan ada lagi.’ Berkata jujur tidak akan menyesatkan kita. Dan lelaki, kamu juga harus bisa terbuka dengan calon pasangan hidupmu.

Critical Eleven

Poster for the movie ""
Not rated yet!

Critical Eleven

20172 h 15 min
Overview

Ale and Anya first met on a flight from Jakarta to Sydney. Anya was lured on the first three minutes, seven hours later they were sitting next to each other and getting to know each other through conversations and laughter, and eight minutes before separating Ale was sure he wanted Anya.

Metadata
Director
Runtime 2 h 15 min
Release Date 10 May 2017
Details
Movie Status
Movie Rating Not rated
Images
No images were imported for this movie.

Ada beberapa masalah yang membuat saya berkontemplasi mengenai ulasan film yang sedang tayang di bioskop tersebut. Critical Eleven, memiliki kekuatan dahsyat, yang bahkan tiket premiere sudah terjual ludes dalam 11 menit. Bukan suatu kebetulan semata, Critical Eleven memang memiliki kekuatan sedahsyat itu. Sedahsyat cintanya Ale dan Anya. Di dalam tulisan ini, akan terdapat dua sudut pandang, pro dan kontra.

Critical Eleven secara garis besar adalah sebuah cerita mengenai pertemuan Ale dan Anya, hingga cara mereka menyikapi masalah yang muncul satu persatu. Anya memiliki 2 orang sahabat wanita, Tara dan Agnes. Sementara itu ada Donny, yang selalu ikut mereka bertiga. Di sisi lain, Ale, yang kerap menyebutkan bahwa dirinya adalah “nobody’s favorite” mempunyai keluarga yang harmonis. Ale adalah anak pertama, Raisa adiknya dan Harris, yang memiliki postur yang sama dengan Ale, sehingga orang pasti tau kalau mereka bersaudara.

http://i0.wp.com/posfilm.com/wp-content/uploads/2017/04/CRITICAL-ELEVEN-2017-pf-2.jpg?fit=650%2C342
Critical Eleven

Contra Sentiment

Kenapa kontra duluan? Karena biasanya, menurut sentimen analisis. Seseorang cenderung menyanggah apa yang ia baca terlebih dahulu. Sehingga, pada tulisan ini-pun tetap sama, yaitu menyanggah bahwa apa yang tertulis di dalam bagian ini adalah salah. Tanpa meragukan kredibelitas orang-orang di belakang layar, kritik harus diutarakan untuk koreksi bersama. Karena hidup seorang penyeni tidak berhenti pada satu karya saja. Hal itulah yang melahirkan sebuah masterpiece.

Alur serta Linimasa

Memang menjadi omongan untuk setiap film yang diadaptasi dari sebuah novel. Membaca sebuah Novel membuat kita bebas berimajinasi sesuai dengan keinginan kita. Di dalam sebuah audio visual seperti film, semuanya serba terbatas. Sehingga sampai sekarang akan selalu sama dan akan selalu terjadi.

Namun ada yang mengganjal dari alur penceritaan Critical Eleven ini. Adegan-adegan meet cute yang mungkin merupakan fan service (untuk para pembaca) banyak yang kurang bermanfaat. Salah satu yang terlupa dalam penceritaannya adalah mengambil waktu untuk Anya dan Ale berkenalan. Sebagai seorang penonton, ingin sekali menemukan momen meet-cute tersebut. Namun sayangnya, adegan di dalam pesawat tersebut hilang begitu saja. Momen awal canggung, ‘mas’ dan ‘mbak’ lalu berganti Anya dan Ale tanpa ada penjelasan yang signifikan rasanya seperti telapak tangan yang gatal.

Momen ketika Ale memperkenalkan Anya kepada seluruh keluarganya. Tidak ada yang salah dalam adegan tersebut. Hanya saja, penonton jadi kaget, karena secara tiba-tiba Ale punya keluarga yang lumayan heboh.

We’re Living in New York

New York memang menjadi tempat yang cocok untuk hidup dalam kemandirian. Seperti karakter yang diperankan oleh Adinia Wirasti sebagan Tanya Baskoro. Hidup bersama dengan ‘the one‘ di kota paling sibuk sedunia memang pasti selalu menggiurkan.

Mungkin tim produksi sengaja mengambil lokasi New York karena Ale adalah seorang ‘lip monster‘ untuk Anya. Selain itu, New York memang terkenal menjadi kota yang penuh cinta. Terdapat cinta di seluruh sudut kotanya. Begitu juga film Critical Eleven, menyuguhkan cerita cinta di kota yang penuh cinta. Semua dialog di New York memang bagus dan memiliki kata yang begitu mendalam.

Pengenalan Karakter

Seperti yang sudah dibilang pada paragraf di atas. Perkenalan karakter dari satu ke satunya sukar terjadi di film ini. Untuk merasakan emosi yang dimiliki oleh Anya dan Ale, penonton butuh menganalisis situasi yang ada, terlebih siapa yang dapat dihandalkan untuk berbagi keluh kesah.

Aldebaran Risjad yang memiliki keluarga yang mendukung tidak begitu digambarkan di awal film, sehingga penerimaan mengenai ‘keluarga adalah rumah’ ada benarnya. Namun sayangnya ada pandangan lain yang bisa diambil, bahwa nobody’s favorite just have no one beside him.

Begitu juga dengan Anya, yang sebagian besar digambarkan di kantor, makan siang bersama dua orang sahabatnya. Perlu diadakan pengenalan karakter tersebut, karena itu yang akan memiliki peran penting di dalam film Critical Eleven ini.

The Best part of Critical Eleven

Critical Eleven
Aidan’s Parents looking so happy

Tim produksi Critical Eleven memang tidak menganggap ini proyek main-main. Dari serentetan casts yang telah dipilih serta tim produksi yang memang kompeten pada bidangnya.

Aldebaran Risjad yang diperankan oleh Reza Rahadian memang memiliki kepiawaiannya tersendiri dalam menghidupkan karakter tersebut. Bersama dengan dua aktor senior, Widyawati dan Slamet Rahardjo, sebagai Ibu dan Bapak Jendral Risjad. Hadirnya pendatang baru, Refal Hady yang berperan sebagai Harris Risjad serta pesinetron Revalina S. Temat sebagai Raisa Risjad.

Kedua sahabat karib Anya juga berhasil memainkan perannya dengan sukses. Adanya Donny (Hamish Daud) menjadi daya tarik untuk penonton sendiri. Mikha Tambayong sebagai cameo di film Critical Eleven menjadi daya tarik tersendiri pula.

Emotions

Film Critical Eleven sukses membuat perasaan penonton bercampur aduk. Merasakan hangatnya cinta, kelamnya kesendirian, serta keputus asaan yang tidak tau harus diapakan. Protektifnya Ale begitu hidup di dalam rumah tangga Ale dan Anya. Kokohnya pendirian Anya juga terlihat nyata, bahkan di depan Ale.

Tidak hanya segitu, pembicaraan dari hati-ke-hati Ibu dan Anak wanitanya serta Ayah dan anak lelakinya menjadi vital point di film Critical Eleven ini. Karena di jaman yang dewasa ini, kerap kali ikatan anak dan orang tuanya tidak begitu dekat.

Naik-turun, pasang-surutnya kehidupan pernikahan disajikan dengan apik oleh seluruh kru dan pemain film Critical Eleven. Adinia berhasil memerankan Anya dengan sangat baik dengan serentetan emosi yang dimilikinya. Meski tidak diragukan lagi, Adinia dan Reza memiliki chemistry yang begitu bagus. Mereka melengkapi satu sama lain di dalam film ini.

Scoring

Perfilman Indonesia sedang memperbaiki citra film Indonesia. Film dengan skoring musik yang bagus akan memiliki daya ikat lebih kuat dibanding yang tidak memilikinya. Dentuman musik latar belakang yang dikomposisi oleh Andi Rianto ini memang terasa begitu megah. Menyatu dengan sematan-sematan emosi yang terdapat di dalam film ini. Tidak hanya itu, lagu Sekali Lagi dari Isyana yang sengaja dibuatnya untuk film Critical Eleven ini menyatu dengan skoring Andi Rianto.

Verdict

Well, I have mixed feeling. Love the movie, but it seems lacking in many ways. I’d like to give 6.5 out of 10. Film ini memiliki kekuatan pada klimaksnya serta memberikan buayan indah pada 30 menit awal film. Bak kopi, di buat di dalam gelas, bukan cangkir dengan komposisi cangkir. Masih terasa seperti kopi, namun tidak seperti meminum kopi di cangkir. Mungkin ada yang suka dan ada juga yang tidak. Hal itu wajar di dalam kehidupan. For me, it was not that good, even audience playing their phones in the auditorium. Barely stay to focus. But I appreciate it as a well-crafted movie. (saf)

Big Bad Wolf in Indonesia

Yeah. It is… As you heard about it. Big Bad Wolf ada lagi di Indonesia, tepatnya di Serpong (alih alih mau tulis Jakarta, tapi sudah bukan daerah Jakarta). Apa sih Big Bad Wolf itu?

Big Bad Wolf Book Sale adalah pameran buku terbesar di dunia dengan diskon 60-80%. Pertama kali hadir di tahun 2009 di Kuala Lumpur lalu diadakan setiap tahun di beberapa kota besar di Malaysia. Sekarang, Big Bad Wolf hadir di Jakarta pada bulan April ini, tentunya dengan misi yang sama: meningkatkan minat baca dengan buku-buku murah berkualitas tinggi.

Pertama kali saya ke Big Bad Wolf (BBW) itu pada tahun 2016 tahun lalu, sekitar bulan April-Mei, ya tidak jauh beda lah jadwalnya dengan sekarang. Di jaman yang selalu diintervensi dengan media sosial dan jejaring sosial lainnya, membuat waktu baca menjadi lebih sedikit. Tak jarang saya menjalani momen membaca buku, namun tergiurkan dengan kegiatan lain, seperti cek Instagram, atau memantau para selebtwit berkicau di twitter.

Pada tahun 2016 lalu, alasan saya adalah ingin mencari buku penunjang kuliah, ya maklumlah, harga buku untuk kuliah itu mahal, kadang ada sampe jutaan. Dengan harapan itu, saya mengajak dua orang teman saya pada malam hari. Kenapa malam hari? Karena berdasarkan review yang saya baca di Internet, disarankan ke sana pada malam hari, menghindari antrian yang membludak.

Big Bad Wolf Indonesia 2016

Berangkat dari Kebon Jeruk ke daerah Veteran (Bintaro). Menjemput teman sekaligus searah. Dari sana kami bergerak menuju Bintaro, menculik seorang teman untuk mendatangi BBW. Reaksi pertama saya mengenai BBW adalah, ‘Emang ada ya event seperti ini.’ Setibanya di Indonesia Convention Exhibition BSD, saya terkagum. Ternyata banyak juga orang yang datang, dan membawa anak mereka.

Hasil berburu saya pada tanggal 6 Mei 2016 tahun lalu adalah sebagai berikut:

  1. 2 Seconds Advantage oleh Vivek Ranadive dan Kevin Maney
  2. Super Crunchers oleh Ian Ayres
  3. India Grows At Night oleh Gurcharan Das

Pada saat itu rata-rata harganya Rp. 65.000,-, kapan lagi bisa beli buku berbahasa Inggris dengan harga semurah itu? Bahkan di beberapa buku ada harganya, dalam Dollar maupun Poundsterling. Pada saat itu ada biografi beberapa aktor Bollywood, namun harganya lebih dari 100K, jadi saya tidak membelinya. Sejak saat itu Big Bad Wolf menjadi event yang saya tunggu-tunggu.

Big Bad Wolf dan Wolfie

Bagi yang masih ingat tentang Wolfie, mungkin akan saya jelaskan apa hubungan kedua ini. Selain ada kata wolf, juga ada makna lainnya. Wolfie selalu terlihat membawa Kindle Whitepaper-nya. Saya dengan iseng membawa buku 2 Seconds Advantage tersebut, dengan label harganya belum dicopot. Kalau dirunut, lumayan lama ya, 5 bulan. Dalam waktu 5 bulan itu, buku tersebut tidak ada saya sentuh, kecuali bukunya Gurcharan Das, saya sangat tertarik dengan India.

“Mas, udah baca buku ini belum?” Ya, saya, seseorang yang lebih senang berkutat dengan media sosial memberanikan diri membuka percakapan dengan seseorang yang saya anggap sebagai seorang ‘sempurna’.

“Belum. Apa itu? Esensinya apa?” Saya paparkan bahwa esensinya adalah dalam 2 detik awal pengambilan keputusan, memori berperan penting, sehingga kesuksesan menjadi lebih besar. Walaupun saya baru membaca awal-awal bukunya saja.

“Oh.” dia diam sejenak. Lalu melihat stempel harga belum dicopot, dia berkomentar. “Big bad -fucking- wolf.” ujarnya. Dia sangat fasih dengan kata-kata mengumpat seperti itu. Katanya, cursing membuat lifespan meningkat. Lalu ia bercerita mengenai buku-buku yang dia beli pada saat event tersebut.

Big Bad Wolf 2016 Aslam
Big Bad Wolf 2016

Dari segitu banyak buku, setengahnya adalah buku bertema bisnis, ada juga yang agak bertema filosofi seperti buku atau novelnya Mark Twain.

Wolfie dan Bacaannya

Ada sebuah pesan, pesan terakhir yang saya terima dari Wolfie via WhatsApp. Isinya adalah untuk agar saya membaca buku filosofi lebih sering. Dengan angkuhnya, ia tidak membalas pesan saya ketika saya bertanya buku apa yang harus saya baca, setidaknya untuk pemula.

Atas kerja sama saya dan seorang yang saya hormati dan menjadi tempat cerita saya, akhirnya saya tau, bahwa ia ingin saya membaca buku Alain de Botton yang berjudul Essays in Love, atau On Love. Akhirnya saya putuskan untuk mencari buku tersebut di Periplus maupun Kinokuniya. Jawaban mereka sama, ‘Itu buku lama Mba, udah tidak ada dijual di sini. Mungkin mba bisa coba pesan online saja.’

I did it. I purchased Essays in Love, Picador edition via Peripulus Online. One month of waiting. Menunggu buku tersebut dikirim dari Inggris memang memakan waktu, kurang lebih satu bulan, atau katanya 2 minggu (14 hari hitungan hari kerja).

Big Bad Wolf Indonesia 2017

Tahun ini diadakan pada tanggal 21 April hingga tanggal 2 Mei, atau 280 jam non-stop. Namun ada tiket VIP yang bisa masuk pada tanggal 20 April 2017. Menarik, bukan? Saya yang sudah menanti event ini, akhirnya melancong ke BSD untuk melihat koleksi buku yang ada pada tahun ini. Alhamdulillah saya dapat 2 tiket VIP dari Bank Mandiri, mungkin kesalahan sistem, karena nama saya tidak ada di daftar mereka. Tetapi diberi juga 2 tiket VIP.

Tidak VIP Sesungguhnya

Harapan dengan tiket VIP tentunya orang tidak ramai, serta buku tertata rapi di setiap meja. Namun semua itu tidak terjadi di BBWID2017, karena sudah banyak yang melakukan pembelian partai besar. Tidak tanggung, sampai 2 hingga 3 trolley (iya troli seperti di Lottemart atau Supermarket lainnya). Bank Mandiri menyediakan fast track, bagi nasabahnya yang menukarkan fiestapoin atau mengajukan kartu kredit Mandiri. Hanya saja, semuanya tidak pantas (not worthy). Karena pada akhirnya mereka juga ngantri, walaupun tidak selama antrian reguler.

Saya sendiri menghabiskan waktu sekitar 3 jam lebih menuju kasir pembayaran. Ada yang berkomentar, kasian ya yang beli sedikit tapi ikut ngatri lama. Ini hal menarik, terkadang saya sendiri bertanya-tanya, kenapa mereka pada memborong, dalam artian satu jenis buku (biasanya buku anak-anak, atau activity books) dibeli hingga 5 atau lebih. Seriously, what are you gonna do with that kind of books.

Bukannya menentang, tetapi rasanya jika buku tersebut untuk konsumsi pribadi, kenapa harus sampai 5 buah? Mungkin saja orang manajemen sekolah, ingin mengisi buku perpustakaan. Menurut saya, yang otak bisnisnya kurang jalan, kalau buku untuk perpustakaan sekolah kan bisa bulk order ke percetakannya langsung, they will give good price, for sure.

Tujuan diadakannya Big Bad Wolf Book Sale ini adalah untuk meningkatkan minat baca, baik dewasa maupun anak-anak. Tapi untuk membelinya saja perlu berkorban waktu seharian, siapa yang mau? Mending beli buku di toko buku yang menghabiskan waktu lebih sedikit. Asasnya adalah time is money.

First 3 books

Yes. You heard me. I just bought 3 books and lined up for 3 and half hours just for paying those books. Buku yang saya beli dan saya incar ada 2 jenis, pertama adalah buku-buku yang suka dibawa oleh Wolfie, mungkin Alain de Botton, Albert Camus atau author lainnya. Kedua, adalah buku-buku penunjang kuliah. Saya berpikir bahwa awal-awal bukunya pasti lebih lengkap.

Buku yang saya beli pada trip pertama adalah:

  1. Barron’s Management yang berupa kumpulan studi kasus mengenai manajemen. Cocok untuk kuliah. Harganya US$18.99 atau sekitar Rp. 252.870 dapat dibeli dengan harga Rp. 65.000 saja.
  2. Digital Economy dari Don Tapscott yang merupakan pengayaan dari edisi pertamanya yang dicetak pada tahun 1996. Harganya adalah US$34 atau sekitar Rp. 452.744 yang dapat dibeli dengan harga Rp. 85.000.
  3. The Tech Entrepreneur’s Survival Guide dari Bernd Schoner. Harganya US$26 atau sekitar Rp. 346.216 namun saya cuman membayar Rp. 85.000 saja untuk buku ini.

The other 3 books

Tidak hanya itu. Hari Senin, tanggal 24 April pada jam 3 dini hari saya pergi lagi ke sana, karena tidak bisa tidur dan ntah kenapa saya terdorong untuk pergi ke sana lagi, walaupun hari Selasa saya akan ke sana untuk ketemu sama @aMrazing.

Tidak berbeda, saya membeli 3 buah buku yang secara harga lebih murah dibanding kunjungan pertama ke Big Bad Wolf Booksale. Adapun buku yang saya beli adalah buku travel ke Mumbai serta 2 novel.

  1. Brothers at War karangan Alex Rutherford. Sebenarnya ini bukan fiksi sih, tapi dikategorikan novel, karena mungkin diberikan sedikit bumbu drama, cerita ini mengenai Mughal Empire, hanya saja menggunakan nama Moghul. Harganya 6.99 Pounds sekitar Rp. 119.032 dapat dibeli dengan harga Rp. 50.000 saja. Oh iya, ini merupakan novel berseri. Semuanya ada di sini. Surely will back to BBW for the rest, if even exist.
  2. Novel terjemahan, Meluha dari Amish Tripathi. Gak sempat cek harganya di Gramedia, tapi sering lihat di bagian novel. Novel ini dapat dibeli dengan harga Rp. 15.000 saja.
  3. Buku travel Discover Mumbai dari Shalini Sinha. Buku ini saya beli dengan harga Rp. 65.000, ya buku travel yang memiliki kertas glossy rasanya pantas saja dibeli dengan harga segitu,

That’s it. My book journey. Meskipun banyak yang belum saya baca, tapi setidaknya memiliki lebih baik dibanding tidak memiliki dan tidak bisa membacanya. Oh iya, bagi yang tertarik dengan membaca buku, silahkan perhatikan Books and Beyond kalau lagi membuat event Blind date with books. Biasanya sekitar bulan Februari.

Blind Date with Books

By Books and Beyond

Memang sih kita tidak tau buku apa yang akan kita beli, tetapi dengan harga Rp. 99.000 untuk 3 buku, rasanya murah, terlebih Books and Beyond biasanya menyediakan buku berkualitas tinggi. Jadi sebenarnya banyak cara dan banyak acara untuk mendapatkan buku bagus dengan harga yang bagus pula.

 

So, book hunter! Let’s hunt the books with me. Let’s meet today, 6PM.

 

Where?

ICE BSD of course!

Fail Joke, it is

Seingat gue, dari tahun 2013 hingga sekarang, bulan April adalah bulan yang paling gue benci. Alasannya banyak, mulai dari MeaKer yang sudah pacaran (sekarang udah jadi bininya). Hingga keputus-asaan gue terhadap hidup. Gue gak tau kenapa, seperti ada kutukan di bulan April. Tapi semuga tahun ini tidak terjadi lagi. Yeah, I know, it is a fail joke.

Menunggu Fajar

Ngga sih, gue gak menunggu seseorang yang bernama Fajar, maupun menunggu matahari terbit. Gue menggunakan idiom itu untuk memberikan pesan tersirat bahwa golden hour gue ada di jam-jam menjelang pagi seperti sekarang ini.

Padahal tadi gue baru post review Baar Baar Dekho, dan rasanya agak aneh untuk menulis kembali. Tetapi ide yang muncul tidak dapat didiamkan, karena ide ini bukan ide yang terencana, atau memiliki rencana terhadapnya. Ide yang muncul sekarang adalah sebuah ide mengenai kenapa nama Laras menjadi momok untuk gue. Gue tidak sengaja melihat twitter, tweet yang gue pinned adalah tentang waktu, cinta dan kehidupan.

Iya, betul sekali. Itu adalah sebuah tulisan yang lebih banyak curhatnya dibanding dengan kisah inspiratif. Begitupun dengan ini, akan banyak curhatnya, dibanding penjelasan tentang suatu momentum. Setelah seharian gue gak tidur, dan hari Sabtu gue bangun dari jam 5 pagi, kali ini gue masih segar dan belum mengantuk. Ideas and time could be blend nicely, tho.

Failure

fail joke
Anjali-Rahul-Tina and to Anjali, back to square one.

Gue gak tau kenapa gue terlalu bersemangat jatuh cinta, dan merasakan sakitnya. Mungkin untuk pertama kali memang sakit, tetapi selanjutnya pasti tidak sesakit yang pertama. Yeah, I know it sound fishy. But it’s not what you think.

Gue masih ingat kapan gue menanti kabar dari seseorang, meski hanya sebuah pesan berisi ‘hai’ atau ‘aku mau cerita’. Gue juga masih ingat bahwa gue pernah menjalani tidur hanya 3 jam sehari, hanya karena jatuh cinta. I think that’s I call love. I can stay awake for such long time just for him.

That was a memory. Itu hanya masa lalu yang tidak bagus untuk diulas kembali. Gue sungguh malas kalau nantinya ada pesan yang masuk ke Instagram gue seperti yang gue pernah tulis di sini. Gue gak tau sih apakah cemburu itu wajar, gue pernah merasakan cemburu, tetapi semua cemburu yang gue rasain itu tidak wajar. Misalnya, gue cemburu terhadap pacar orang. Tsk, tak bermoral.

Saral. Arti nama Laras itu sangatlah indah. Dikutip dari laman http://cariarti.com/nama/L/ bahwa arti nama dia itu harmoni, mempesona, lurus, lurus, meresap, nyanyian merdu, seimbang, harmonis. Gue sadar, apalah arti dari Annisa… hanya sekedar wanita. Bahkan salah seorang pernah membuat lelucon, ‘Gue gak habis pikir kenapa nama lo Annisa, udah jelas lo itu cewe. Sama aja kayak nama Putri.’

No, I don’t resent my parent for that. Mereka membuat nama tersemat doa di dalamnya. Ya kalaupun kenyataannya nama gue gak begitu appealing untuk dipanggil interview. Gue percaya ada yang namanya ‘your calling‘. Maybe being a worker is not my calling. #teehee

Fail Joke

Terus terang, semenjak si laki yang udah nikah itu berbahagia meski harus menjalani LDR untuk beberapa bulan. Gue tidak pernah mengganggu ataupun bermimpi yang macam-macam, gue percaya bahwa semua ini sudah direncanakan oleh Tuhan. Lagi pula, bahagianya dia itu karena gue yang minta. Ya Alhamdulillah aja gitu doa gue dikabulin. Ternyata memang benar, kalau berdoa, orangnya jangan sampe tau. I did, my prayer was full of his wellness and wellbeing, and he got himself a doctor for a wife.

Namanya ya udah pada taulah ya. Udah gue sebutin di atas. Sebenarnya gue gak ada masalah dengan dia, negur gue karena gue komen di Instagram lakinya aja gue selow, cuman gue laporin aja sih ke lakinya. Karena gue gak mau masalah itu berlarut-larut. Gue juga gak mau tetap dianggap masih ada rasa sama lakinya. I know him for 15 years, For Godsake. And yet nothing happened, in a serious way, of course.

Baby. Let me tell you one thing. You’re the one he said in his promise in front of your parents. You’re the one who bear his beautiful daughter. You’re the one that he swear upon God. You’re the life, to him. Why you even bother with someone like me, whom nothing? But if he had a feeling for me and he hadn’t say it, it is out of my reach.

Ya mungkin dia gak tau bagaimana sesungguhnya yang terjadi. Ya gue gak bisa salahin dia karena gak baca tumblr gue sih. Secara dia sibuk ngurus anaknya, gue maklum sih. Tapi apakah komentar sebatas ‘ciee’ patut dipermasalahkan?

Pada saat itu gue lagi berusaha untuk mencari perhatian Wolfie. Another fail joke is, Wolfie end up with Laras. Yeah, another same name. same name. 

Another Fail Joke

My life is full of fail joke. I don’t know what’s wrong. Maybe my existence is. Gue cukup kaget dengan fakta itu. Gue pikir Laras hanya sebuah mock up name, yang sengaja Wolfie buat untuk menjerumuskanku ke dalam dunia kesedihan. Pertama kali gue dengar (baca) nama itu pada tanggal 29 Desember 2016 dengan tulisan seperti ini

Sore itu kami kelaparan, ingat akan saran seorang sahabat untuk mencoba nasi gorengnya, akhirnya kami mampir makan di @bragapermai. Setelah sang pramusaji memberikan buku menu untuk kami baca, kami yang mengharapkan harga yang murah mengingat pengalaman kami makan berkeliling Braga, merasa sedikit kecewa dengan harganya yang tak jauh berbeda dengan restoran di Jakarta. Pikir kami, tak apalah mahal dikit toh nuansanya nyaman dan pelayanannya luar biasa.
Sepiring kecil pilihan roti dan dua gelas air putih yang selalu terisi air disajikan di meja, dan tak lama setelah diskusi dan mengagumi pelayanan mereka, mendaratlah pesanan kami diatas landasannya. “Ini porsi kuda ya?”, tanyaku sedikit retoris setelah sang pramusaji meninggalkan meja kami, ya karena nampaknya kuda pun memang kenyang makan sebanyak ini.

Dan sepertinya memang kami yang tidak tahu, karena di sebelah banyak pula makanan satu porsi dihajar ramai ramai. Yah, tak apalah. Setidaknya kami tak lagi kecewa akan harganya yang agak tinggi, ini toh sebabnya. Setelah sedikit mengagumi porsi yang tersaji, kami meminta bantuan untuk diambilkan foto kepada sang pramusaji. Dengan sedikit kikuk akhirnya didapatkanlah foto ini, sedikit berantakan memang, maklum mungkin tak biasa mengarahkan orang untuk diambil fotonya.

Ritual pun dimulai, sambil membumihanguskan hidangan yang tersaji diskusi kami dilanjutkan dengan pembahasan rasa dan penyajian. Berlagak ala ahli kuliner, kami menilai bagaimana kombinasi makanan dan penataan tiap tiap lauk pauknya. Nikmat memang, dan seperti biasa, Laras selalu saja mengambil peran sebagai juru icip dan saya yang kebagian menghabiskan ya (pantas aja kecil abadi). Makanan di meja rasanya tak habis habis, dan setelah berjuang keras, muncul satu kalimat andalan kalau kekenyangan, “mas tolong takeaway ya”. Puas deh pokoknya.

Cepat-cepat gue kabarin sahabat gue, dan dia juga terheran-heran. ‘Kok lo bermasalah terus dengan nama Laras sih? Apa lo harus ganti nama jadi Laras biar lo beruntung sedikit?’

Nyelekit.

My life is a Joke

Gue sempat berpikiran seperti itu. Bahwa hidup gue ini hanya sebuah kesia-siaan. Nilai tidak begitu bagus, kerjaan gak ada, dan calon suami juga ga keliatan. Seharusnya yang ada dipertahanin, gue malah melepaskan yang ada untuk sesuatu yang tidak pasti. My life is a fail joke. Maybe I should name my kids Laras and Akbar. Thus they can’t be together. 

Sempat gue kepikiran, gue akan kasih nama anak gue dengan nama Laras, ntah Laras apa. Larashanti mungkin, karena gue jatuh cinta dengan nama Shanti. Shanti itu berasal dari kata shaant, yang artinya tenang. Di dalam hidup ini kita tidak hanya perlu ketenangan kan? Terkadang kita butuh keberuntungan juga.

Atau gue gak usah memikirkan nama-nama itu, karena itu sangat surreal buat gue. Mungkin gue harus mencoba hidup dalam kesendirian dan berbahagia karenanya. Sebagai manusia, kita hanya butuh saling berbagi. Ada yang menarik dari film Baar Baar Dekho tadi, bahwa, masa depan itu bergantung pada masa lalu.

What was in my past will make my future. Now I decide not to give a go about marriage, and by this time, my future has been created with this kind of thoughts. I wonder, how shame I will later on. And anyone, please remember me about this writing if I am too happy about someone. I don’t know whether it is a good joke or another fail joke. All I want is to make you happy, for whatever I could. (as)

Baar Baar Dekho

Poster for the movie ""

Baar Baar Dekho

20162 h 21 min
Overview

What would you do if you could see the future of your relationship? This film follows a roller coaster ride with Jai and Diya as they ride the ups and down of their relationship through the test of time.

Metadata
Director Nitya Mehra
Runtime 2 h 21 min
Release Date 9 September 2016
Details
Movie Media Other
Movie Status Unvailable
Movie Rating Not that bad
Images

Hi there. I just watched Baar Baar Dekho. To be honest, have the digital file for months but haven’t watch it because I have no subtitle at all. Since my understanding in Hindi is limited, so I decided not to give a go. Thanks to Regy Leonardo Pratama for translating it into Indonesian. My preference is English, but I find difficulties in synchronized them. Why bother if you have a perfect synched subtitle even in Indonesian, right? All I can say is Baar Baar Dekho is about the nervousness of being married.

Precaution!

Maybe you’ll find a misjudge score or comment since I really can’t stand Katrina’s act at all.

A Milestone

Nervousness of Being Married
© − All right reserved.

It could be sarcasm, but it isn’t. First, I want to admit that Katrina superbly amazing and just perfect as Diya, even though I still think Parineeti has better chemistry with Siddhart. Alia is not for Sid in camera, she’s belong to Varun, she’s being his bride for twice! Can’t wait for the third.

There are three things, or milestones you might say. Being married is not an easy job, even for the 7-magical-full-of-promises-rounds. Then being a Father is taking it to another level. Because you really want all of best to your kiddos. Last thing is a divorce. Let’s break it down for Siddhart’s sake.

The Nervousness of Being Married

The movie is telling us a story about two different point of view, but in the end it is not a thing at all. Kind not well written, but bear with it. It’s all about Siddhart. Jai Verma is a professor (or lecturer is some country), his girl is a superb artist, Diya Kapoor, DK for short. They are a childhood friend and turn into a special romantic relationship till date. It’s not like Raj and Priya from Chalte Chalte, but as slight guidance, we can assume yes it is.

Jai is struggling but has decent life than Raj, the truck driver. Priya is a spoilt daughter from a rich family and Diya is a single daughter from a Business tycoon. Ah, my bad, it was from his Student of the Year‘s character. The difference is Jai is being loved by them and they think Jai is a blessing from Hanuman-ji. In short, there are no problem about acceptance. But Jai finds it weird that everything is set, his male Ego can’t accept that.

A day before their marriage, Diya shows him the apartment which will be their home. Jai has nothing to do with it. It’s all about Diya and her father, who pitch in. Right after that time, he is having a dream which maybe relate to Veda Mathematics, his thesis. He can jump the time by a night. Geez, who want that?

It’s not Science or Fantasy

A note should be taken, about the continuity, who still use an iPhone (or Android phone) is 2034? Jai is. While his son, Arjun is driving a marvelous BMW with a full high-tech, he still using that phone. Really Jai?

This movie make us confuse till the scene repeat for twice. It’s clearly told the audience to think about simple and small thing is life, is being appreciated. To know that Diya divorcing him, he try to fix things, and the next day, he jump to previous 6 year and he’s using a transparent phone. Voila.

It is not fantasy because the technology just to picturing the time, but they failed to make it constant from each year. Yes, it was quite a sight, but please do not take it seriously. And it is not science because Jai can’t explain how it happened, nor Professor Ramamurthy.

It is just a simple causal effect. If you do A then B will happen, like tvN’s Tomorrow with You. On another note, the nervousness of being married is always happen in both sides. There are so many questions such,

  • Is this a right decision?
  • What if he/she tired of me?
  • Will us be able to face such hardship?

And there are lot of questions will arise. Asians and Westerns is not same at all. In Western, they married because they are such in love (or full of desires) and want to be together, but Asians isn’t. Even though there are many young couple adapt the idea of Western, they married because they are in love.

Small Things Count

This movie won’t bring us anywhere. It is just another simple drama romantic movie which will make us to more focus on small things than a bigger one. Baar Baar Dekho quite well in defining the small things, such as:

  • Jai forgot about Arjun’s soccer’s training.
  • Then Jai doesn’t accompany Diya in the opening of her show.
  • Well, Jai ignoring Papa’s suggestion.

Yes, it is about Jai and his nervousness of getting married. Because audience can see through it, there’s no live within Jai, either 2018, 2034 and 2047. Professor Ramamurthy says that future lies in past. Maybe Tomorrow with You could explain it perfectly, but Baar Baar Dekho is not capable of doing so. Even the Pandit says, small things count.

Good Things

There are good things as well in the packages. First, commitment is about how one demolishing I and change it into ‘we’ or ‘us’. We can’t turn back time, so spend it wholeheartedly and just love it, all out. For men, beware of your friends, even it is a best one. It could mislead the marriage, like Chitra kisses Jai when she feels lonely and thinking that Raj is cheating on her.

The dialogue,

Because you are my past and future. Today as well.

From Jai is a sign that this is will be the thing that we think! And Diya’s statement is kinda should be noted as well,

In life, there are two kind of people. Drivers or passengers.

This is just another analogy for marriage, who will leads the marriage, who will follow. As majority in world, men should lead and women follow, but in contrary, there’s a research stated that Women are better leaders than men. So, for men out-there, if your partner is above you, you should be a passenger. Period. Because it can’t be negotiated, because if you can’t make her comfortable without her Pops, than you definitely can’t take her for granted. But if you want to be labelled as abusive husband, then it is your choice. (saf)

Tentang Waktu, Cinta dan Kehidupan

Bukan, ini bukan suatu review film Collateral Beauty. Memang ada tersirat bahwa tulisan ini tentang waktu, cinta dan kehidupan, sementara di Collateral Beauty adalah Kematian. Ntah kenapa, kali ini aku ingin sekali menulis menggunakan bahasa Indonesia. Padahal sebagai seorang control freak, aku merasa dengan warna merah ‘readability‘ dari Yoast SEO. Baiklah, abaikan saja itu. Pokoknya aku ingin menulis mengenai apa yang ada di pikiranku selama beberapa hari ini.

Marital Status. Marriage.

Beberapa hari yang lalu aku datang ke kondangan teman SMP, di Instragam mungkin bisa dilihat dengan hashtag Fatriwed. Aku sebenarnya tidak terlalu suka datang ke acara yang penuh dengan orang ramai. Selain trauma yang aku dapatin di nikahan salah satu sahabat. Aku ingin datang ke Fatriwed adalah personalization. Rasanya enak aja gitu kalau kita diundang secara langsung, bukan sebatas share di media sosial seperti kebanyakan.

Barusan aku intip website si pengantin pria, yang membahas mengenai kenapa memilih Smesco. Aku terdiam dengan angka itu. Di atas 200 juta dengan fasilitas yang sudah lumayan lengkap memang terasa murah sih, semacam all-in-one package, tapi ya untuk seorang Nisa, itu adalah mimpi mustahil, kecuali nikahnya sama Ario Adimas. *boom*

Aku memang sedang lagi di masa yang penuh dengan kelabilan. Paska cerita (cinta) yang kandas dengan Wolfie, aku memang memutuskan untuk tidak bermimpi untuk menikah. Alasanku sih sederhana, kesiapan. Mungkin kalau Fatri sudah bersama sejak tahun 2012 lalu dalam 5 tahun mereka sudah meresmikan hubungannya di dalam catatan sipil KUA. Aku yang tidak punya pengalaman ini bisa apa toh?

Terlebih lagi, pernikahan yang aku bayangkan adalah gabungan tentang waktu, cinta dan kehidupan. Bagaimana kamu mencintai pasangan, menghabiskan waktu bersamanya, lalu menjalani kehidupan bersamanya.

Prospect

Pernah berada pada waktu di mana ingin merangkai seperti kebanyakan orang lain. Ada beberapa hal yang aku sengaja mengalah, dimulai dari pendidikan, keuangan, hingga keluarga. Mungkin si dia ga begitu paham bahwa yang akan aku korbankan itu adalah tentang waktu, cinta dan kehidupan. Dia tidak sadar akan hal itu. Namanya pria, memang selalu memiliki rasa ego yang teramat sangat tinggi. Kompromi terkadang tidak diingat oleh mereka.

Aku lupa tepatnya berapa lama kami berhubungan. Hingga akhirnya aku putuskan untuk berhenti dengan harapan yang lebih baik, tentunya. Alasan putusnya bukan karena Wolfie, tetapi karena aku yang lebih memilih karakter seperti Wolfie dibanding dia. Setiap manusia pasti ada kelebihan dan kekurangan, hanya saja kekurangan Wolfie tidak begitu berat dibanding satunya.

Wolfie vs Mantan

Wolfie itu pintar, setidaknya membahas mengenai kompleksnya penyakit kejiwaan serta fasih menggunakan bahasa Inggris, meski terkadang lebih sering menggunakan kata mengumpat, adalah sebuah kebiasaan menurutku. Aku terbiasa menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi, terlebih jika ingin mengutarakan sesuatu dari hati. Trust me, It better than using Indonesian language, at least for me and also him. Mungkin pernah juga aku tulis, bahwa sebenarnya karakter si Mantan juga gak buruk-buruk amat, cuman takdir yang berkata lain.

Di saat Wolfie terus belajar dan mengembangkan ilmunya, si Mantan malah duduk-duduk asoy bersama teman-temannya sembari bergosip, atau setidaknya ngomongin temannya satu-sama-lain. Di saat sekarang ini adalah era informasi, ia masih saja primitif, bahkan tidak berusaha untuk meberikan hadiah ‘hidup’ untukku. Sekedar mengobrol tentang reksadana atau bahkan saham yang sedang bagus akan lebih aku hargai ketimbang hanya pertanyaan ‘dimana, lagi apa, sudah makan.’ Man, you have to upgrade your knowledge.

Knowledge

Ada yang bertanya, ‘Apakah kamu mau bersama orang yang tidak bisa memuaskan gairah seksual, tapi dia memiliki wawasan luas?’ aku jawab sih sederhana, Mau. Karena bagiku pengetahuan itu seksi. Pria yang memiliki pengetahuan dan dapat dipertanggung jawabkan itu seksi. Aku bisa memujanya setiap hari, mencintainya dari hati yang terdalam. Karena orang-orang seperti itu indah.

tentang waktu, cinta dan kehidupan
Bertukar Informasi

Seperti gambar di samping. Bertukar informasi adalah kegiatan yang selalu menggiurkan. Menurutku seorang Imam yang ideal ya seperti itu, di luar kewajibannya untuk membenahi akhlak dan kelakuan istri, bertukar informasi atau mengajarkan adalah hal yang menarik.

Di dalam suatu bahasan tentang waktu, cinta dan kehidupan, tentu saja bertukar informasi adalah cara yang paling tepat untuk dilakukan. Aku selalu tertarik untuk mengetahui sudut pandang orang lain mengenai hal itu. Si Mantan, karena aku sudah tau, dan aku tidak merasa tertantang, makanya aku tidak keberatan ditinggalkan ataupun meninggalkan dia. Karena jodoh itu tidak hanya harus seiman, tapi juga se-kufu, kan?

Sesuatu tentang Waktu, Cinta dan Kehidupan

Waktu memang dimiliki semua orang, dan itu sama, tidak ada perbedaannya bahkan sedetik. Waktu juga sering dikorelasikan dengan uang. Time is money. Si Mantan yang dengan cakepnya (sarkasme) kuliah pada tahun 2012, seharusnya pada tahun 2014 ia bisa saja sudah tamat kuliah dan sudah bekerja. Tapi ia dengan kebodohannya, dan itu juga dipertahankannya, ia akhirnya masih berkutat dengan S1 hingga saat ini. Lain cerita, kalau ia menghabiskan waktunya itu untuk bekerja secara profesional, bukan menjadi tukang antar barang di toko bangunan. Itu nguli namanya, last thing that you should to to make a living. Siapa yang mau dengan orang yang suka lalai? Melalaikan waktu yang ia miliki, seolah mengayomi frasa, I am living, but not really. Iya, bisa dibilang ‘menikmati hidup’ kalau dia tidak perlu memikirkan uang bensin, antara tinggal minta ke orang tua atau sudah punya tabungan sendiri yang bisa menghidupi dirinya sendiri.

Ah cinta. Aku akui kalau dialah orang yang mungkin bisa mencintaiku dengan baik dan tulus, tetapi sayangnya ia tidak begitu cinta pada dirinya. Jika ia cinta pada dirinya, tentunya ia tidak akan menghabiskan waktu secara sia-sia, kan?

Kehidupan. Ini yang tidak akan ada habisnya untuk dibahas. Perspektif kami memang sedikit berbeda, tetapi lebih banyak samanya, kecuali perihal tuntutan untuk comply. For Godsake! We are running long distance relationship, I can’t always be there for you. Makanya aku bilang, kalau mau tebar pesona, cari perhatian, mumpung jauh ya ga salah, karena aku sadar aku tidak bisa memberikan perhatian yang dia minta. Mungkin lain ceritanya kalau dia sugar daddy ya, terkadang sugar daddy ga perlu perhatian! Hahaha. Paradoks.

Long Distance Relationship

Ya salah satu contohnya sih orang yang pernah ku taksir dulu. Dia kuliah di Jepang, untuk S2. Cewenya di Indonesia. Terus dia berkomentar seperti ini:

Although not physically by my side, she’s always in my heart (or brain. Or neurons. Wherever the memories are stored)

Menurutku itu legal dan sah. Aku rasa kepercayaan itu penting. Dan aku yang sudah jujur, tetap saja diragukan. Itu sih gak ada ampun. Mungkin untuk merangkum LDR itu sendiri adalah sebagai berikut:

  1. Selalu memiliki quality time bersama, bukan quality time sendiri.
  2. Status Quo is legit and always be in mind. Jangan kau pikir setelah dia jadi pacarmu, tak kau hargai dia. Dia punya kehidupannya, masuklah kau kehidupannya, atau kau tarik dia masuk ke kehidupan kau. Jangan kau biarkan dia di kehidupannya sendiri, lalu kau di dunia kau sendiri pula.
  3. Surprise is not hurting at all. Ya kasih surprise, mungkin tiba-tiba kau ke kotanya atau bisa saja kau kirim paket, atau sesederhana duit, jika dia mengeluh padamu bahwa ia sedang berhemat, yakinlah dia akan senang. Jangan kau kayak aku ya, ikutan bayarin kuliah dia, meskipun itu cuman Rp. 219.219, tapi gak dibalikin itu rasanya. Grrr.

Semoga gak ada lagi kisah yang menggelikan seperti ini. Semoga aku bisa bertemu dengan Wolfie versi lebih baik, atau mungkin Ario Adimas saja? Ah, perihal itu, kapan waktu aku akan ceritakan kenapa namanya bisa tercatut di blog ini. Salam hangat. (saf)